Kamis 10 September 2020, 18:15 WIB

Diskon Hukuman Koruptor, Komitmen Hakim Agung Dipertanyakan

Dhika kusuma winata | Politik dan Hukum
Diskon Hukuman Koruptor, Komitmen Hakim Agung Dipertanyakan

Antara    
Tubagus Iman Ariyadi 

 

TREN putusan pengurangan hukuman koruptor kembali terjadi di tingkat Mahkamah Agung (MA). Pengamat hukum pidana Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar menilai ada pergeseran komitmen antikorupsi para hakim agung di MA.

"Hakim agung sudah bergeser komitmen antikorupsinya. Hal ini bisa terjadi salah satu sebabnya tidak ada lagi figur yang disegani untuk tetap menghukum koruptor dengan hukuman tinggi agar ada efek jeranya sejak hakim Artidjo Alkostar pensiun," kata Abdul Fickar, di Jakarta, Kamis (10/9).

Pernyataan itu menanggapi putusan PK terbaru yang dikeluarkan MA dalam perkara yang menjerat mantan Walikota Cilegon Tubagus Iman Ariyadi terkait suap pengurusan izin AMDAL di kawasan industri Cilegon. MA mengurangi hukuman Tubagus menjadi empat tahun penjara dari sebelumnya enam tahun.

Sebelumnya, MA melalui putusan PK juga mengurangi pidana mantan Bupati Kepulauan Talaud Sri Wahyumi Maria Manalip menjadi dua tahun penjara. Di pengadilan tingkat pertama, hukuman yang dijatuhi kepada Sri Wahyumi empat tahun enam bulan penjara.

Baca juga : KPK Prihatin Tren Diskon Hukuman Koruptor Terus Terjadi

Abdul Fickar mengatakan belum lama ini MA telah mengeluarkan Perma Nomor 1 Tahun 2020 tentang Pedoman Pemidanaan Pasal 2 dan 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Ia menilai Perma tersebut belum efektif dijalankan. Menurutnya, Perma itu dalam prakteknya belum bisa mengatasi disparitas hukuman dan menjamin efek jera bagi koruptor.

"Mestinya ada aturan yang bersifat sistemik yang bisa mengikat komitmen para hakim. Namun ternyata meski sudah ada Perma yang mengatur pedoman pemidanaan koruptor, ternyata tidak menjadi obat ampuh mempertahankan komitmen itu," imbuhnya.

Abdul Fikcar menilai belum efektifnya Perma lantaran ada anggapan pedoman itu mengintervensi kebebasan hakim agung dalam memutus perkara. Menurutnya, MA juga kesulitan untuk membuat pedoman itu mengikat kepada para hakim agung.

"Ironis memang. Meskipun para hakim agung tidak protes keberatan secara terbuka, ternyata yang terjadi Perma itu diabaikan karena dianggap mengintervensi kebebasan para hakim agung," tukasnya. (P-5)

Baca Juga

Dok. BPMI Setpres/Muchlis Jr

Pancasila Harus Dipahami secara Utuh

👤Indriyani Astuti 🕔Jumat 02 Oktober 2020, 05:15 WIB
Presiden mengatakan bangsa Indonesia sepanjang sejarah berdirinya telah menghadapi berbagai tantangan, termasuk...
Medcom.id/M Rizal

Pelanggaran Protokol Marak Saat Kampanye

👤Ind/Cah/X-6 🕔Jumat 02 Oktober 2020, 04:50 WIB
Sanksi pidana serta diskualifikasi sempat diajukan dalam rancangan Peraturan KPU (PKPU) Nomor 13, tapi dicoret karena menyalahi...
Dokumentasi MI/Riset MI-NRC

Komitmen Mahkamah Agung Diragukan

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Jumat 02 Oktober 2020, 04:37 WIB
Obral putusan kasasi dan peninjauan kembali buat koruptor akan menggerus efek jera dan membuat kerja penegak hukum seolah...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya