Kamis 10 September 2020, 12:03 WIB

Kapasitas Bahan Bakar Terbarukan Diharap Capai 30% di 2050

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Kapasitas Bahan Bakar Terbarukan Diharap Capai 30% di 2050

ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Petani memetik tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Desa Pasi Kumbang, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat

 

MENTERI Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro menyebut Indonesia perlu segera mengubah ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan beralih pada sumber energi terbarukan.

“Kita perlu meningkatkan kapasitas bahan bakar terbarukan dalam energi campuran sekitar 23 persen di tahun 2025 dan harapannya dapat mencapai 31 persen pada tahun 2050,” ujar Bambang dalam webinar The Development of Biofuels Indonesia–Brazil, Rabu (9/9).

Dia menuturkan, pemerintah Indonesia berkomitmen kuat mendorong inovasi bahan bakar nabati biohidrocarbon sebagai solusi pemenuhan kebutuhan konsumsi bahan bakar dalam negeri yang sejak 2014 mencapai 1,79 juta barel per hari.

Selain berperan dalam substitusi impor, bahan bakar biohidrocarbon berbasis sawit juga memberi peluang pemberdayaan korporatisasi petani sawit rakyat dalam industrialisasi IVO (bahan baku biohidrocarbon) dan kilang-kilang bahan bakar biohidrocarbon stand alone kecil terintegrasi dengan kebun sawit dan tentu akan meningkatkan kesejahteraan hidup para petani rakyat. Bahan bakar nabati biohidrocarbon berbasis sawit merupakan komoditas sumber daya alam terbarukan di Indonesia yang potensinya sangat besar

“Hari ini Indonesia dikenal sebagai negara terbesar penghasil dan pengekspor kelapa sawit, bersaing dengan Malaysia. Namun permainan sudah berubah, kita tidak boleh hanya sekedar ekspor maka diperlukan adanya penambahan nilai dari hasil produksi kelapa sawit,” imbuhnya.

Baca juga: Hingga Juli 2019, Pertamina Serap FAME 3,2 Juta Kiloliter

Keberhasilan Pertamina dan Institut Teknologi Bandung dalam melakukan uji coba produksi green diesel D100 dari Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) kelapa sawit berkapasitas 1.000 barel per hari di Kilang Pertamina Dumai telah memberi secercah harapan akan bangkitnya kemandirian energi terbarukan di Indonesia.

Bahan bakar nabati berbasis sawit pun diprediksi akan menjadikan perekonomian Indonesia bergerak lebih cepat untuk pemulihan ekonomi, mengingat sektor energi memiliki peranan yang penting dan strategis bagi perekonomian nasional.

Karakteristik green diesel D100 sama sekali berbeda dengan biodiesel yang ada di pasaran saat ini yang dikenal dengan istilah B20 atau B30. Green diesel D100 diproduksi dari bahan baku 100% RBDPO yang diolah menggunakan Katalis Merah Putih hasil pengembangan ITB dan Pertamina menghasilkan biohidrocarbon beroktan sangat tinggi dengan karakteristik fisika dan kimia sama persis dengan solar yang diproduksi dari bahan bakar fosil.

Sehingga penggunaan bahan bakar green diesel D100 pada kendaraan tidak akan menurunkan kinerja mesin atau menuntut dilakukan modifikasi tertentu pada mesin sebagaimana yang terjadi pada kendaraan-kendaraan yang diberi asupan biodiesel B30 yang berbasis FAME.

Dengan keberhasilan Indonesia menguji coba produksi green diesel D100 skala industri, setelahnya Indonesia akan mengambil pelajaran dari keberhasilan Brasil yang telah lebih dulu mengimplementasikan tebu menjadi bahan bakar nabati berproduksi dalam skala komersial. 

Keberhasilan Brasil dalam mengimplementasikan kebijakan pemanfaatan bahan bakar nabati berbasis tebu, khususnya keberhasilan dalam pengaturan kebijakan penentuan harga tebu gula dan etanol, akan diadaptasi oleh Indonesia dalam kebijakan regulasi penentuan harga sawit dan minyak sawit (Industrial Vegetable Oil) sebagai bahan bakar biohidrocarbon serta pemberian dukungan riset dan pengembangan DNA sawit unggul berkelanjutan.

“Kesempatan yang luar biasa untuk bisa saling bertukar pengalaman dalam sektor pengolahan bahan bakar nabati yang nantinya akan dapat memberi keuntungan kedua negara. Tebu saat ini merupakan bahan baku energi yang sangat penting di Brasil di bawah minyak bumi. Tebu dapat menghasilkan etanol untuk menggantikan 46% pemakaian bensin di Brasil,” ujar Duta Besar Brazil H E Jose Amir da Costa Dornelles.(OL-5)

Baca Juga

ANTARA/Prasetia Fauzani

Pemerintah Salurkan Ratusan Triliun untuk Perlindungan Sosial

👤Theofilus Ifan Sucipto 🕔Rabu 30 September 2020, 11:50 WIB
Salah satu upaya memulihkan ekonomi melalui perlindungan sosial. Supaya daya beli masyarakat tetap...
MI/Foto Zoom

Kemendikbud Luncuran Program Guru Belajar Seri Masa Pandemi

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 30 September 2020, 11:26 WIB
Survei Belajar dari Rumah dari Puslitjak Kemendikbud dan Survei Suara Guru pada masa pandemi Covid-19-GTK Kemendikbud sebanyak 96,6%...
. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah

Luhut Minta BPJS Percepat Pembayaran Klaim Perawatan Pasien Korona

👤Insi Nantika Jelita 🕔Rabu 30 September 2020, 09:30 WIB
Dari 1.906 RS penyelenggara pelayanan covid-19 di seluruh Indonesia, hanya 1.356 RS yang sudah mengajukan klaim. Sisanya sebanyak 550 RS...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya