Kamis 10 September 2020, 01:01 WIB

Indonesia Harus Lebih Agresif Tingkatkan Penggunaan EBT

Atikah Ishmah Winahyu | Ekonomi
Indonesia Harus Lebih Agresif Tingkatkan Penggunaan EBT

Antara/Enis Efizudin
PLTS yang digunakan untuk pertanian

 

MENTERI Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, Indonesia harus lebih agresif dalam meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan pada kehidupan sehari-hari. Dia mengungkapkan, sampai saat ini Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil.

Tingkat ketergantungannya pun cukup tinggi, misalnya pada minyak bumi sebesar 32 persen, batu bara 32 persen, dan gas bumi 28 persen.

“Total lebih dari 90 persen masih menggunakan bahan bakar fosil yang artinya, penggunaan energi terbarukan masih di bawah 10 persen. Ini tentu tidak sustainable,” kata Bambang dalam webinar The Development of Brazilian Bioethanol Based Biofuel, Rabu (9/9).

Dia menuturkan, sejak 2014 lalu Indonesia telah menjadi importir minyak karena jumlah produksi lebih sedikit dibandingkan jumlah konsumsi. Berdasarkan data, jumlah produksi di Tanah Air saat ini hanya sebesar 808 ribu barel per hari, sedangkan jumlah konsumsinya mencapai 1,79 juta barel per hari.

Baca juga : Miliki Panas Bumi Terbesar, Pemerintah Cari Terobosan

“Hasilnya, kita harus impor minyak bumi 145 juta barrel dan kita juga impor minyak mentah 113 juta barel. Kita selalu ekspor minyak mentah kita karena harganya sangat lebih tinggi dibandingkan harga minyak yang kita impor dari Timur Tengah,” ungkapnya.

Bambang mengatakan, untuk mencapai target penggunaan energi baru dan terbarukan sebesar 23 persen pada 2025 dan 31 persen di 2050, maka Indonesia harus segera berubah dan membagi penggunaan bahan bakar fosil dengan sumber energi ramah lingkungan.

Adapun potensi sumber energi ramah lingkungan yang dimiliki Indonesia antara lain tenaga air sebesar 95 Gigawatt (GW), panas bumi 28,5 GW, bioenergi 32,6 GW, biofuel 200 kBph, solar 207,8 GWp, tenaga angin 60,6 GW, dan ombak 17,9 GW.

“Indonesia mungkin memiliki potensi panas bumi terbesar, namun investasi pada energi panas bumi sangat mahal dan berisiko. Lokasinya juga selalu berada di area pegunungan yang terpencil, sehingga menjadikan sumber energi ini sangat mahal. Tentu saja kita juga punya solar, angin, dan ombak tapi ini adalah intermittent energy sources, jadi kita harus bergantung pada sumber energi terbarukan yang lebih stabil seperti biofuel,” tandasnya. (OL-7)

Baca Juga

Dok.ATR/BPN

Reforma Agraria Topang Pemulihan Ekonomi

👤Insi Nantika Jelita 🕔Rabu 30 September 2020, 13:05 WIB
Karena tujuan utama reforma agraria adalah mengatasi...
Antara/Dhemas Revianto

Uang Beredar Naik 13% pada Agustus Lalu

👤Despian Nurhidayat 🕔Rabu 30 September 2020, 12:25 WIB
Peningkatan uang beredar tersebut disebabkan pertumbuhan M1 sebesar 19,3% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Juli...
MI/Angga Yuniar

Pemerintah Terbitkan ORI018 dengan Kupon 5,7%

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 30 September 2020, 12:14 WIB
Masa penawaran ORI018 berlaku mulai 1-21 Oktober...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya