Rabu 09 September 2020, 17:05 WIB

Produksi Massal Vaksin Merah Putih Ditargetkan pada 2021

Atalya Puspa | Humaniora
Produksi Massal Vaksin Merah Putih Ditargetkan pada 2021

Antara/Dhemas Reviyanto
Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung,

 

Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro menyatakan bahwa diperkirakan pada triwulan keempat tahun 2021 vaksin Merah Putih dapat diproduksi dalam jumlah besar. Menurut Bambang, nantinya vaksin tersebut akan melengkapi vaksin covid-19 yang awalnya akan didatangkan dari kerja sama dengan pihak luar.

“Tadi kami melaporkan bahwa Lembaga Biologi Molekuler Eijkman telah memulai upaya pengembangan vaksin Merah Putih dengan platform protein rekombinan dan saat ini prosesnya telah mencapai 50%," kata Bambang dalam keterangan resmi, Rabu (9/8).

Bambang mengungkapkan targetnya pada akhir tahun ini uji pada hewan sudah diselesaikan, sehingga awal tahun 2021 bibit vaksin bisa diserahkan kepada PT Biofarma untuk dilakukan formulasi, produksi dalam rangka uji klinis.

“Setelah uji klinis selesai dan Badan POM menyatakan bahwa vaksin ini aman untuk digunakan dan terbukti mampu memberikan daya tangkal terhadap virus korona, maka akan dilakukan produksi dalam jumlah masal oleh PT Biofarma,” lanjutnya.

Selain PT Biofarma, tim nasional pengembangan vaksin juga akan mengajak beberapa perusahaan farmasi swasta untuk ikut memproduksi vaksin covid-19.

Baca juga: BPPT Kumpulkan 12 Data WGS Baru Virus SARS-CoV-2

“Sejauh ini sudah ada perusahaan yang potensial, tapi mereka harus mendapatkan izin Badan POM terkait cara pembuatan vaksin yang baik dan harus menyiapkan line of production khusus untuk vaksin covid-19,” ujar Bambang.

Dengan sinergi pemerintah dan pihak swasta ini, Bambang berharap Indonesia mempunyai kemandirian dalam pengembangan dan penyediaan vaksin covid-19.

Dalam hal ini, Badan POM menyatakan berkomitmen untuk mendukung penanganan covid-19 dengan percepatan akses dan ketersediaan obat dan vaksin, pengawalan pengembangan obat dan vaksin, serta peningkatan pengawasan. Selain itu, Badan POM juga berkomitmen untuk pengawalan obat beredar memenuhi standar dan persyaratan keamanan, khasiat dan mutu produk, termasuk untuk obat dan vaksin yang digunakan pada pengobatan covid-19 dalam rangka perlindungan kesehatan masyarakat di masa pandemi covid-19.

Kepala Badan POM Penny Lukito menegaskan bahwa Badan POM siap melakukan pendampingan teknis aspek regulatori dalam proses pengembangan vaksin covid-19.

"Badan POM akan memberikan fasilitasi percepatan proses untuk pengembangan dan penelitian vaksin tersebut ,yaitu percepatan sertifikasi CPOB dengan clinical batch (produksi skala kecil untuk uji klinik) dalam waktu maksimal 7 Hari Kerja (HK), penerbitan Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik dalam waktu maksimal 4 HK, dan penerbitan Izin Penggunaan masa Pandemi dengan skema Emergency Use Authorization (EUA) dalam waktu maksimal 20 Hari Kerja," kata Penny. (OL-14)

 

Baca Juga

Antara

Indonesia Dipuji karena Berhasil Entaskan Kemiskinan

👤Zubaedah Hanum 🕔Kamis 01 Oktober 2020, 23:30 WIB
Organisasi Konferensi Islam (OKI/OIC) memuji keberhasilan Indonesia dalam menanggulangi kemiskinan dalam sebuah laporan penelitian berjudul...
Antara/Asep Fathulrahman

27,3 Juta Orang Terima Bantuan Kuota Data Internet untuk PJJ

👤Andhika Prasetyo 🕔Kamis 01 Oktober 2020, 23:20 WIB
"Pandemi tidak bisa dijadikan alasan. Bantuan kuota data ini juga dalam konteks untuk menjaga kualitas SDM bangsa, sekaligus menjaga...
Dok. Kemenkominfo

Kemenkominfo : Pandemi Momentum Percepatan Transformasi Digital

👤Syarief Oebaidillah 🕔Kamis 01 Oktober 2020, 23:18 WIB
Pandemi Covid-19 dapat dilihat melalui perspektif lain, yakni sebagai momentum bagi percepatan transformasi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya