Selasa 08 September 2020, 21:31 WIB

Cinderella dengan Spirit yang Berbeda

Cahya Mulyana | Humaniora
Cinderella dengan Spirit yang Berbeda

ANTARA/Oky Lukmansyah
Sejumlah pedagang menunjukkan buku kumpulan puisi karya pedagang asongan saat memperingati ke-55 Hari Aksara Internasional

 

BESOK, Rabu (9/9) akan terbit sebuah buku puisi yang tak biasa. Tidak hanya bentuk puisinya yang tak biasa juga kisah Cinderella yang disampaikan dalam buku berbeda.

"Cinderella itu kisah yang menyenangkan di masa kanak-kanak. Tapi zaman yang berbeda menghendaki kisah Cinderella yang juga berbeda. Kita dibesarkan oleh imajinasi dongeng. Kisah kisah yang memberi harapan sejak kecil. Namun dongeng yang baik adalah yang bertransformasi. Diubah ketika usia bertambah. Kontekstual," kata penulisnya, Vita Balqis D dalam keterangan resmi, Selasa (8/9).

Ia ingin menyajikan kisah lama dengan kemasan dan isi yang baru. Banyak pembaca telah tumbuh, tak lagi hidup dibayang-bayang imajinasi dongeng anak-anak. Dalam dongeng Cinderella lama tidak dihadapkan pada cerita yang kompleks.

"Hanya ada gadis pasif tak berdaya. Lalu, ia beruntung lewat sepatu kaca. Ia diselamatkan pangeran yang kaya raya. Semudah itu hidupnya," ujarnya.

Kini era sudah berganti. Ini abad ke-21. Kemajemukan, kebebasan, dan komunikasi sangat terbuka. Segala hal bisa serba rumit dan tak terduga. Cinderella kali ini harus dibumikan.

"Saya mengubah Cinderella menjadi gadis yang lebih berjuang dan lebih punya dilema. Cinderella dalam buku saya juga seorang feminis. Ini era feminisme sudah menubuh dan menjadi jiwa semua perempuan," paparnya.

Baca juga: Berpuisi untuk Negeri

Tapi tetap Cinderella jatuh cinta. Ia terjatuh dalam kisah cinta yang tak sederhana. Cinta yang bertabrakan, bertentangan dengan paham feminisnya selama ini.

Di era ini, Cinderella lebih manusiawi. Ia dapat terjepit utang. Ia mungkin juga pernah tertipu cinta pria. Ia bisa saja terpaksa harus aborsi. Problem ini tak pernah ada dalam dongeng lama.

"Dari waktu ke waktu saya tuliskan kisah ini di media sosial sejak 2019. Tapi bagaimana Cinderella baru itu harus saya tulis? Dalam bentuk novel? Puisi? Atau cerpen? Tak didesain, kisah Cinderella itu terus saya tuliskan dalam bentuk puisi berseri. Saya menyebutnya Puri," paparnya.

Ia berseri karena kisahnya berkembang dalam empat babak berbeda. Babak pertama siapa Cinderella dan harapannya. Babak kedua, ia jatuh cinta dan kesulitan dalam hidupnya. Babak ketiga, pertarungan ideologi dengan cinta. Babak keempat, Cinderella memilih cinta di atas ideologi.

"Puisi berseri ini saya persembahkan untuk cinta di hidup saya, Mr. VBD. Juga buku ini untuk mereka yang tak pernah lelah berjuang melawan segala kesulitan di dalam hidupnya. Jangan pernah membunuh cinta, karena tindakan itu sia sia. Dan jangan pernah padamkan harapan karena ia adalah api bagi sumbu kehidupan," pungkasnya. (A-2)

Baca Juga

ANTARA/Dhemas Reviyanto

Kemenhub Tegaskan Aturan Pesepeda bukan Aturan Asal-Asalan

👤Selamat Saragih 🕔Selasa 29 September 2020, 07:49 WIB
Permen yang ditandatangani Menteri Perhububungan Budi Karya Sumadi itu dimaksudkan sebagai pelindung, tidak hanya bagi pengguna sepeda,...
ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo

Rabies Masih Jadi Ancaman di Indonesia

👤Atalya Puspa 🕔Selasa 29 September 2020, 07:03 WIB
Dari 34 provinsi di Indonesia, hanya 8 provinsi yang bebas rabies sementara 26 provinsi lainnya masih endemik...
Dok. Kementerian Kominfo

Dua Jurnalis Senior Metro TV Raih Satya Lencana Wira Karya

👤 (Medcom.id/H-2) 🕔Selasa 29 September 2020, 06:05 WIB
DUA jurnalis senior Metro TV, Andy F Noya dan Desi Fitriani, diganjar anugerah Satyalencana Wira...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya