Senin 07 September 2020, 03:00 WIB

Tantangan dan Peluang PJJ di Era New Normal

Azwar Anas Guru Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe | Opini
Tantangan dan Peluang PJJ di Era New Normal

MI/Duta
Ilustrasi MI

PEKAN ini publik dibuat terkesima dengan adanya angin segar yang datang dari Kemendikbud. Pasalnya, rilis surat edaran tentang pemberian kuota internet bagi peserta didik oleh Kemendikbud pada 27 Agustus lalu, menjadi bukti nyata dukungan pemerintah terhadap pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) saat ini.
Sebagaimana diketahui, penerapan PJJ sejak beberapa bulan lalu menuai banyak hambatan. Bahkan, tak sedikit berujung kecaman akibat minimnya pelayanan, seperti tidak meratanya akses internet dalam pelaksanaan PJJ bagi guru dan siswa.

Sementara itu, sekitar sebulan yang lalu, Kemendikbud juga mengeluarkan surat keputusan tentang pedoman pelaksanaan kurikulum pada satuan pendidikan dalam kondisi khusus. Surat yang ditandatangani langsung oleh Menteri Pendidikan, Nadiem Anwar Makarim, juga menjadi bukti nyata ikhtiar pemerintah terhadap pelaksanaan PJJ yang selama ini dinilai cukup morat-marit. Pelaksanaan PJJ tanpa adanya panduan dari pemerintah tak hanya membuat siswa menjadi bingung, lelah, dan stres, tetapi juga membuat guru kelimpungan hingga kewalahan dalam menyusun dan mengatur jalannya PJJ.

 

Hambatan

Adanya dukungan dari banyak pihak, seperti pemerintah bukan berarti membuat PJJ menjadi mulus dalam pelaksanaannya. Tantangan terbesar justru datang dari guru dan siswa sebagai pelaku utama PJJ. Pelaksanaan PJJ secara tiba-tiba membuat banyak pihak kurang adaptif.

Hal ini karena pola pendidikan kita yang belum terbiasa dengan pembelajaran tanpa tatap muka. Selain itu, proses pembelajaran selama ini juga masih kurang menitikberatkan pada penggunaan teknologi sebagai media penunjang. Di samping ketersediaan infrastruktur pendukung yang juga belum memadai, seperti hardware, materi pembelajaran, dan bahan pedukung lainnya.

Yang ada justru kita masih terbiasa dengan pembelajaran cara lama yang berpusat pada manusia sebagai sumber belajar. Maka itu, pembelajaran menghasilkan siswa yang kurang interaktif dan kolaboratif, miskin komunikasi dan pemanfaatan teknologi, serta pudarnya semangat belajar sepanjang hayat (long life learning) pada diri siswa.

Perubahan modus belajar yang terjadi secara mendadak juga menjadi tantangan tersendiri bagi guru sebagai pelaku pendidikan. Minimnya kapasitas guru dalam mengelola PJJ menjadi masalah utama yang menghambat realisasi PJJ dengan baik. Tak dapat dimungkiri jika upaya pengembangan kapasitas guru yang dilakukan pemerintah selama ini cenderung sebatas hanya pada aspek administratif semata, seperti pelatihan penyusunan rencana pembelajaran, kurikulum, dan berbagai hal lain yang hanya digunakan sebagai bahan administrasi guru.

Sebaliknya, sangat jarang ditemukan adanya pelatihan pengembangan kapasitas guru yang fokus pada pengembangan teknis mengajar yang manfaatnya berkelanjutan, seperti cara mengajar yang ideal, pemanfaatan teknologi sebagai media ajar, dan berbagai hal lain yang dapat memperkaya kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran.

Di samping itu, tantangan lain yang tak kalah mencuri perhatian ialah terjadinya inklusivitas dalam pendidikan kita. Pandemi yang memaksa setiap siswa untuk berhenti dari aktivitas belajar normal dan harus beralih ke PJJ, nyatanya tak sedikit menyisakan kesenjangan serius. Kesenjangan yang paling tampak justru terjadi pada guru dan siswa dalam pembelajaran.

Selain tidak dapat menunaikan tugas pokonya sebagai pendidik, guru yang tidak memiliki kemampuan dalam mengawal PJJ juga akan menyebabkan siswa menjadi tidak terpenuhi haknya untuk belajar. Akibatnya, terjadi perbedaan pada setiap siswa dalam hal pemenuhan kebutuhan belajar dan bermuara pada tidak meratanya pendidikan bagi setiap siswa.

Inklusivitas juga terjadi pada siswa yang tidak memiliki media pendukung terlaksananya PJJ, seperti gawai pintar, komputer/laptop, akses internet, dan beragam kebutuhan lain. Tak pelak hal ini semakin memperparah kesenjangan antarsiswa dan seakan pendidikan hanya menjadi milik sebagian golongan masyarakat yang berpunya. Di samping itu, tidak meratanya sarana pendukung pada setiap satuan pendidikan antardaerah juga yang semakin memperparah perbedaan hak belajar bagi setiap siswa.
Kesempatan

Terlepas dari beragam tantangan sebagaimana tersebut di atas, pelaksanaan PJJ nyatanya juga memiliki peluang yang dapat disikapi dengan optimisme dalam dunia pendidikan. Sebut saja akselerasi pendidikan 4.0 yang terjadi akibat pandemi yang menghantam dunia. Adanya keharusan setiap orang untuk beralih ke PJJ dan memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran merupakan realisasi dari perkembangan era digital 4.0 yang diterapkan pada pendidikan. Dalam hal ini pandemi berfungsi sebagai katalis yang memacu perkembangan pendidikan menjadi lebih baik dengan pemanfaatan teknologi dalam PJJ.

Selain itu, pandemi juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk melatih belajar secara mandiri dan berperan aktif serta berpikir kritis untuk menjangkau pengetahuan yang lebih luas. Selain itu, juga memberikan akses pembelajaran yang bermutu dan dapat dicapai secara bebas. Yang tak kalah penting, PJJ dapat memberikan keluwesan bagi guru dan siswa untuk mengatur waktu belajar secara fleksibel tanpa mengurangi waktu inti yang seharusnya sehingga waktu yang tersedia menjadi lebih efektif melakukan berbagai kegiatan produktif lainnya.

Adanya PJJ juga dapat meningkatkan budaya belajar dan tumbuhnya kolaborasi di kalangan guru sebagai akibat dari keterbatasan dalam mengelola pendidikan darurat seperti sekarang. Upaya guru untuk keluar dari krisis belajar dan memperbaiki proses pembelajaran akan meningkatkan taraf kapasitas diri mereka. Hal itu akan memunculkan komunitas belajar, baik secara daring maupun luring untuk saling berbagi persoalan dan pengalaman agar dapat memberikan kontribusi yang lebih baik.

Terakhir, pandemi yang mengharuskan terlaksananya PJJ nyatanya mampu meningkatkan rasa hormat (respect) dan apresiasi terhadap keberadaan sekolah dan guru dalam pendidikan yang selama ini mungkin dipandang sebelah mata. Keberadaan dan peranan penting guru di tengah masyarakat begitu terasa akhir-akhir ini akibat dari keterbatasan siswa dalam mengelola pembelajaran secara mandiri.

Banyaknya keluhan tentang belajar dari rumah yang berujung pada tekanan yang dialami siswa memunculkan kesadaran masyarakat bahwa posisi guru ternyata tak semudah itu bisa digantikan. Peran vital guru dalam pendidikan tetap dibutuhkan dalam keadaan dan kondisi apa pun guna mendukung perkembangan setiap siswa sebagai elemen dari masyarakat. Percaya atau tidak percaya, setiap musibah ada hikmah di baliknya. Ambil yang baik, tinggalkan yang buruk. Semoga pandemi segera usai.

Baca Juga

Dok. MI

SDGs, Multilateralisme dan Wabah Korona

👤Wahyu Susilo Direktur Eksekutif Migrant CARE, Hamong Santono Peneliti Masalah SDGs 🕔Selasa 22 September 2020, 03:05 WIB
Tema yang diusung tahun ini adalah The future we want, the UN we need: reaffirming our collective commitment to multilateralism –...
MI/Agus Utantoro

Legitimasi Pilkada di Masa Pandemi

👤A Ahsin Thohari Dosen Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Jakarta 🕔Selasa 22 September 2020, 03:00 WIB
Jadi, apakah pilkada 2020 harus tetap diselenggarakan, atau harus ditunda lagi? Mungkin jawabannya bisa...
Dok.MI

Setop Melodrama

👤Dewan Pengarah Media Group Saur M Hutabarat 🕔Senin 21 September 2020, 03:57 WIB
Membawa jenazah ke Balai Kota itu justru menunjukkan Pemprov Jakarta bertindak responsive without responsibility, responsif tanpa tanggung...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya