Senin 07 September 2020, 03:38 WIB

Dokter Muda yang Turun di Medan Perang

Atalya Puspa/X-11 | Humaniora
Dokter Muda yang Turun di Medan Perang

UNAIR.AC.ID
Dokter muda Muhammad Afif Shofwan Fa’iq, Made Pratithi Awidya Sambhawahasti, Fauzan Illavi alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

 

SEHARUSNYA April lalu menjadi momen membahagiakan bagi Muhammad Afif Shofwan Fa’iq. Bagaimana tidak? Ia dan sang istri berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka. Namun, harapannya untuk menyaksikan kehadiran buah hati harus dikubur dalam-dalam.

Afif, sapaan akrabnya, mendadak menerima tugas dari satuannya, yakni Pusat Kesehatan Angkatan Darat, untuk menjadi tenaga medis di Rumah Sakit Darurat Corona (RSDC) Wisma Atlet, Jakarta.

Sebagai dokter militer, dia harus mengikuti perintah dan masuk tim satuan tugas gelombang kedua. “Setelah RSDC dipersiapkan, yang bergerak pertama adalah militer (TNI). Istri hamil delapan bulan, terus ada panggilan, ya berangkat meninggalkan dia. Baru bertemu lagi saat anak lahir,” ujarnya di laman resmi Universitas Airlangga (Unair), Sabtu (4/9).

“Dari cerita tim yang bertugas sebelumnya, satu dokter bisa menangani sampai 200 pasien. Kalau waktu saya, dokter sudah semakin banyak. Jadi, satu dokter pegang seratus pasien,” tutur alumnus Fakultas Kedokteran Unair angkatan 2011 itu.

Berbeda dengan Afif, Fauzan Illavi harus menunda penerimaan hasil seleksi pendidikan spesialis dari Universitas Indonesia sejak pertengahan April.

Fauzan mengaku terdorong untuk membantu proses penanganan pasien covid-19. “Kebetulan, pada pertengahan Maret, saya sudah mendapat informasi kalau RSDC sedang membutuhkan relawan,” katanya.

Orangtua Fauzan sempat terkejut karena berasumsi bahwa hal tersebut ialah keputusan yang berisiko. Mereka lalu mengizinkan setelah melihat dari segi medis, ketersediaan alat pelindung diri, tempat tinggal, akomodasi, hingga jam kerja.

Sumpah dokter

Made Pratithi Awidya Sambhawahasti ialah alumnus FK Unair angkatan 2010 yang sebetulnya tengah bersiap melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis. “Motivasi yang membuat saya lalu menjadi relawan RSDC adalah sumpah dokter yang berbunyi ‘Teman sejawat harus diperlakukan seperti keluarga kandung’. Relawan di sana saudara saya, masak saya biarkan mereka berperang sendiri?” tegas Widya.

Tantangan demi tantangan dihadapi ketiga dokter muda tersebut. Mulai permasalahan alat pelindung diri hingga karakteristik pasien yang menuntut mereka untuk bersikap tangguh.

Widya lalu mengutarakan harapannya agar masyarakat mendengarkan pihak yang lebih ahli soal penanganan pandemi dan selalu mengikuti protokol kesehatan.

“Jangan mendengarkan orang yang nyeleneh karena mereka tidak akan bertanggung jawab jika terjadi apa-apa pada kesehatan Anda,” tandasnya. (Atalya Puspa/X-11)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Nadiem Serukan Refleksi Peringatan Kesaktian Pancasila

👤Wan/Ant/H-3 🕔Kamis 01 Oktober 2020, 05:30 WIB
Nadiem menjelaskan pada peringatan Hari Kesaktian Pancasila, masyarakat diberikan kesempatan untuk melakukan refleksi...
MI/Rifaldi Irianto

STP Trisakti Buka Program S3 Pariwisata

👤Bay/H-3 🕔Kamis 01 Oktober 2020, 05:15 WIB
Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti secara resmi membuka program doktor atau strata 3 (S-3) untuk program studi (prodi)...
ANTARA/Adnan

Gaya Hidup Masa Depan Utamakan yang Berkelanjutan

👤Ata/H-1 🕔Kamis 01 Oktober 2020, 05:00 WIB
VISI gaya hidup masyarakat ke depan sudah seharusnya mengarah pada prinsip sustainable atau berkelanjutan yang jika tidak dilakukan dapat...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya