Senin 07 September 2020, 01:30 WIB

Kesuksesan Program Perlu Kolaborasi

Syarief Oebaidilah | Humaniora
Kesuksesan Program Perlu Kolaborasi

MI /SUSANTO
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat

 

PROGRAM prioritas pendidikan nasional harus memperhitungkan kesiapan sejumlah sektor pendukung yang pengelolaannya dilakukan instansi di luar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Perlu kolaborasi yang kuat antarinstansi untuk mewujudkannya.

"Tujuh program prioritas pendidikan dari Kemendikbud, sebagian besar sangat tergantung kesiapan infrastruktur yang ditangani kementerian di luar Kemendikbud," kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, kemarin.

Menurut Lestari, tujuh program prioritas pendidikan itu terkait dengan pembiayaan pendidikan, digitalisasi sekolah, sekolah penggerak dan guru penggerak, peningkatan kualitas kurikulum dan asesmen kompetensi minimum, revitalisasi pendidikan vokasi, program kampus merdeka, serta pemajuan budaya dan bahasa.

Menurut Rerie, sapaan akrab Lestari, misalnya terkait dengan program digitalisasi sekolah. Di tengah masih terbatasnya jaringan internet di Tanah Air, untuk merealisasikan program digitalisasi sekolah perlu perencanaan yang matang dan kerja sama antarinstansi yang kuat antara lain dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika yang berwenang menangani infrastruktur komunikasi/telekomunikasi.

"Kemendikbud harus tuntas dalam menyiapkan program digitalisasi sekolah. Jangan sampai program prioritas ini terbengkalai karena infrastrukturnya belum siap," ujar legislator Partai NasDem itu.

Perihal revitalisasi pendidikan vokasi sangat memerlukan updating kebutuhan pasar kerja di dunia industri. "Kerja sama yang erat dengan para pelaku industri atau asosiasi industri sangat diperlukan agar antara kebutuhan dan pasokan SDM yang berkualitas bisa sesuai," imbuh Rerie. Pelaksanaan program prioritas pendidikan tidak hanya mengalokasikan anggaran.

Buat wadah

Pada kesempatan terpisah, Ditjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud akan meluncurkan wadah guna mempertemukan akademisi, pengusaha, komunitas, pemerintah, dan media sebagai proses penghiliran inovasi di perguruan tinggi melalui platform Kedai Reka.

"Platform tersebut akan menjadi wadah pertemuan inventor dari sisi dosen dan mahasiswa, serta investor atau pengusaha dalam rangka mengimplementasikan Kampus Merdeka," kata Sesditjen Dikti Kemendikbud Paristiyanti Nurwardani, kemarin.

Dikatakan, Kemendikbud terus mengembangkan spirit kewirausahaan di dunia perguruan tinggi untuk membantu pemulihan ekonomi negara saat ini yang tengah terdampak pandemi covid-19. Guna mewujudkan platform Kedai Reka (Kedaulatan Inovasi untuk Reka Cipta), saat ini pihaknya terus menjalin kerja sama dengan berbagai kalangan, seperti Persatuan Insinyur Indonesia, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, Kamar Dagang dan Industri Indonesia DKI Jakarta dan Jawa Barat, serta lainnya.

Ditambahkan, dunia usaha dan industri dapat bersinergi dan berkolaborasi dengan dunia kampus. Pasalnya, banyak dosen juga mahasiswa yang memiliki inovasi untuk membantu menciptakan pasar kerja dan usaha kreatif. Dikatakan guna menarik minat pengusaha, pihaknya telah menandatangani nota kesepahaman dengan sejumlah kalangan tersebut. (H-1)

Baca Juga

Antara

Ini Jurus Luhut Tekan Pertumbuhan Korona

👤Insi Nantika Jelita 🕔Selasa 29 September 2020, 21:23 WIB
Per hari ini, Kemenkes mencatat ada 4.002 kasus baru positif covid-19 dalam...
123RF

Inilah Kebutuhan Vitamin untuk Mendukung Daya Tahan Tubuh

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 29 September 2020, 20:50 WIB
Kebutuhan kedua vitamin C dan B akan lebih tinggi bagi kelompok yang cukup rentan seperti ibu hamil dan masyarakat usia...
Antara

Turun 50 Persen, Kopi Kawa juga Terimbas Pandemi

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 29 September 2020, 20:16 WIB
Kopi kawa sudah ada semenjak zaman kolonial Belanda itu agar minuman tradisional tetap terjaga di...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya