Minggu 06 September 2020, 20:40 WIB

Political Branding di Masa Pandemi

Chaerul Tamimi, Praktisi, Public Relations, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi IISIP Jakarta | Opini
Political Branding di Masa Pandemi

Dok.pribadi
Chaerul Tamimi

PADA 9 Desember 2020 menjadi salah satu waktu yang cukup krusial bagi bangsa ini, karena itu menjadi ajang pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak. Bahkan hari itu juga dilakukan pemungutan suara yang disambung penghitungan suara.

Pilkada kali ini diikuti 270 daerah yang terdiri dari 9 pasang gubernur/wakil gubernur, 224 pasang bupati/wakil bupati, 37 pasang calon wali kota/wakil wali kota yang sudah habis masa jabatannya. Masa pendaftaran dilakukan pada 4-6 September 2020.

Ibarat sebuah produk, calon yang akan ambil bagian dalam pilkada  harus diperkenalkan dan dijual kepada target market yaitu para pemilih. Namun dalam politik tidak secara langsung berurusan dengan profit seperti halnya produk, produk yang laku terjual akan menghasilkan uang. Di masa pandemi covid-19 ini, strategi politik yang paling efektif dan efisien yakni melakukan branding dengan memanfaatkan media berbasis internet seperti media sosial. 

Branding adalah proses komunikasi yang dilakukan secara terintegrasi dengan menggunakan berbagai media dan pesan-pesan yang sudah disusun sedemikian rupa. Objektif atau tujuan branding ini adalah memperkenalkan/menciptakan awareness kandidat kepada target pasar atau para pemilih. Branding juga sebagai upaya membangun, menghimpun kekuatan, kepercayaan dan dukungan publik. Dalam suasana keterbatasan akibat wabah covid-19, masihkah para tim sukses menggunakan cara-cara lama dalam memperkenalkan kandidatnya? Jawabannya tidak. Selain tidak diperbolehkan, juga tidak akan efektif menjaring pemilih.

Political branding sejatinya adalah sebuah taktik lama yang lazim digunakan oleh para kontestan politik untuk mendapatkan popularitas selama masa kampanye. Meski tidak serta merta menjamin kemenangan di tangan kontestan, akan tetapi political branding dapat menjadi senjata ampuh dalam menciptakan kampanye yang berbeda, lebih efektif dan efisien. Media merupakan penyampai pesan yang ampuh untuk menjangkau target pemiih. Hampir semua kegiatan kampanye politik branding dilakukan, mulai dari pemilihan kepada desa sampai pemilihan presiden. 

Peran media sosial

Personal branding dapat diartikan sebagai nilai lebih dari seorang calon yang ikut dalam kompetisi pilkada. Nilai lebih itu harus disampaikan kepada target market, yaitu para pemilih agar mereka mengenal lebih dekat dan pada proses akhir adalah memilih sang calon.
Dalam kehidupan, seperti halnya dalam bisnis, branding lebih efektif, kuat, dan berkelanjutan daripada penjualan dan pemasaran dan cara yang efektif untuk menghilangkan pesaing. Ini tentang memengaruhi orang lain, dengan menciptakan identitas brand yang mengaitkan persepsi dan perasaan tertentu dengan identitas. 

Branding tidak hanya untuk perusahaan lagi. Ada sebuah tren baru yang disebut personal branding. Sukses personal branding memerlukan persepsi secara efektif mengelola dan mengendalikan dan mempengaruhi bagaimana orang lain memandang dan memikirkan Anda. Memiliki personal branding yang kuat tampaknya menjadi aset yang sangat penting di hari ini baik secara daring, virtual, hal ini menjadi semakin penting dan merupakan kunci sukses individu. Jangankan kandidat yang belum dikenal, artis yang sudah terkenalpun masih harus tetap melakukan personal branding agar nama mereka tetap eksis di dunia entertainmen.
    
Di masa pandemi sekarang ini strategi politik yang paling jitu yaitu melakukan branding dengan memanfaatkan media berbasis internet, seperti media sosial. Media yang paling efektif dan efisien dalam membangun branding. Pesan kampanye akan sampai langsung ke tangan pemilih. Biaya untuk memperkenalkan kandidat melalui medsos jauh di bawah biaya kalau menggunakan media surat kabar, radio, billboard,  apalagi televisi.

Bayangkan, biaya untuk satu spot iklan televisi/TVC dengan durasi 30 detik bisa mencapai Rp15 juta untuk jam utama/prime time. Biaya tinggi juga sangat terasa untuk melakukan pengerahan masa dengan konvoi dan atau event musik. Di musim kampanye biasanya para artis memasang tarif lebih tinggi daripada biasanya. Artis papan atas yang biasanya dipajang di puncak kampanye memasang tarif sampai ratusan juta rupiah, belum termasuk band pengiring, panggung, dll. 

Sementara dari jauh-jauh hari KPU sudah memperingatkan agar selama kampanye dengan pengerahan massa harus sesuai dengan protokol kesehatan, yaitu dengan menjaga jarak dan undangan yang hadir hanya 50% dari total kapasitas ruangan. Bagaimana dengan pemasangan baliho dan spanduk? Media ini tetap dibutuhkan sebagai dukungan kampanye yang kita melalui media sosial.

Di era Industri 4.0 media sosial memegang peranan besar dalam menyampaikan pesan kepada target pasar; para pemilih. Yang harus mendapat perhatian serius adalah bagaimana membuat konten kampanye yang kreatif baik berupa e-poster, video atau materi kampanye lainnya. Peran besar para kreator memiliki peran penting dalam membuat disain e-poster atau  video. 

Dengan dukungan teknologi yang bisa dibuat di telepon pintar, para kreator dapat melakukan shooting dan editing dengan sebuah hand phone atau laptop, lewat sejumlah aplikasi pembuatan film yang mudah dioperasikan. Namun di balik kehebatan teknologi itu, kecerdasan manusia yang memiliki ide dan konseplah yang mampu menciptakan pesan promosi yang menarik dan menjual.  

Yang harus diingat jangan paksakan target untuk membaca/menonton video dengan durasi yang panjang dan membosankan. Buatlah pesan yang sederhana, mudah dicerna, visual yang menarik hingga pesan itu melekat di benak pemilih. Masa kegiatan kampanye yang berlangsung mulai 26 September-5 Desember 2020, merupakan waktu cukup panjang. Materi kampanye dengan media sosial, e-poster, video atau materi lainnya janganlah dibuat hanya satu versi. Buatkan bebagai versi yang menarik dan menjual. Namun harus ada penjadualan kapan penayangan atau pemuatan materi, hingga pesan promosi itu diterima dan dimengerti  dengan baik oleh komunikan.

Perusahaan platform media sosial dari Kanada, Hootsuite, bekerja sama dengan We are Social dari Inggris baru-baru ini merilis perkembangan pengguna internet di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Laporan itu bertajuk Digital 2020: A comprehensive look at the state of the internet, mobile devices, social media, and ecommerce. 

Untuk Indonesia, dari total 272,1 juta penduduk, pengguna internet mencapai 175,4 juta jiwa. Menariknya, jumlah smartphone yang terkoneksi mencapai 338,2 juta unit, hampir dua kali lipat jumlah pengguna internet. Artinya, hampir rata-rata orang Indonesia punya lebih dari satu smartphone. Sedangkan jumlah pengguna sosial media mencapai 160 juta jiwa. 

Pada Januari 2020 jumlah pengguna internet meningkat 17% (bertambah 25 juta jiwa) dibanding periode yang sama tahun lalu. Smartphone yang terkoneksi juga bertambah 15 juta unit atau 4,6%. Ada pun jumlah pengguna sosial media bertambah 12 juta jiwa atau naik 8,1%. Dari data ini dapat disimpulkan bahwa penyampaian pesan kampanye melalui media sosial merupakan langkah yang jitu, efektif dan efisien.

Dekan Fakultas Komunikasi dan Desain ARS University, Dr. Dasrun Hidayat, M.Ikom dalam sebuah webinar menyebutkan, yang juga harus mendapat perhatian adalah dukungan masyarakat kepada salah satu kandidat pilkada yang dinilai berhasil membangun emotional relationship/emotional bonding yaitu branding yang memposisikan masyarakat bukan sebagai pemilih semata, tetapi sebagai rekan politik.

Untuk mencapai ikatan batin tersebut, perlu diperhatikan tentang tahapan political branding yang meliputi brand identity, brand positioning, dan brand image. Dalam brand identity adalah persepsi tentang sebuah brand atau merek yang ingin sampaikan kepada konsumen, sehingga membentuk persepsi dari konsumen terhadap brand tersebut.  

Dalam tahap ini kandidat berusaha mempengaruhi persepsi dan pandangan calon pemilih mengapa kandidat harus dipilih sebagai pemimpin mereka. Brand identity bisa diaplikasikan di nama calon/akronim dari dua nama calon, logo, warna slogan, atau atribut identitas lainnya.

Brand image yang kita ciptakan harus benar-benar merefleksikan tentang diri kita. Seperti halnya produk yang diiklankan, jangan berlebihan. Ketika orang membeli dan mencoba produk lantas tidak sesuai dengan yang kita janjikan, orang akan kecewa dan tidak akan pernah memilih  kita lagi dalam pemilihan medatang. 

Ketika orang kecewa sangat sulit untuk meyakinkan kembali, dan kandidat tersebut akan memiliki citra buruk di benak masyarakat. Brand positioning adalah adalah tindakan merancang dan membangun citra kandidat agar mendapatkan tempat khusus dalam benak pemilih. Tujuan dari brand positioning sendiri adalah untuk mendapatkan hati konsumen dan menempatkan brand/nama calon  dalam prioritas konsumen/pemilih, bagaimana agar para pemilih jatuh hati kepada kandidat. 

Dalam kalimat lain dapat disampaikan bagaimana kita menempatkan kandidat di benak para pemilih di tengah banyaknya pesan yang disampaikan kompetitor. Pada saat pencoblosan nanti, kanditat inilah yang akan dipilih dengan suka rela. Sementara brand image adalah keyakinan, ide atau kesan seseorang terhadap sebuah brand

Dalam bahasa sederhananya, image seorang kandidat di mata masyarakat pemilih, misalnya orang itu santun, dekat dengan masyarakat, visi misinya bagus atau citra lain yang dibuat tim kampanyenya. Atau citra sebaliknya, buruk di mata pemilih. Yang juga penting adalah produk politik yaitu visi dan misi dang kandidat. Masyarakat akan menentukan pilihan mana sesuai dengan yang mereka inginkan atau kelompok mereka. Selamat berkampanye.

Baca Juga

Medcom.id/Annisa Ayu Artanti

Menyoal Kebijakan Sosialisasi Wabah Covid-19

👤IGK Manila Gubernur Akademi Bela Negara (ABN) Partai NasDem 🕔Jumat 25 September 2020, 03:05 WIB
Sosialisasi pada dasarnya harus sampai pada kesadaran dan praktik sebagai ‘disiplin diri harga...
Dok. Pribadi

Menggagas Kampanye Digital

👤Cecep Darmawan Guru Besar Ilmu Politik dan Pengurus Pusat Kajian Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan Universitas Pendidikan Indonesia 🕔Jumat 25 September 2020, 03:00 WIB
Kerentanan penyebaran covid-19 di masa pandemi ini menjadi keniscayaan. Beberapa klaster baru di institusi pemerintah justru...
Dok.pribadi

Jangan Berharap Indonesia Bisa Maju

👤Sarah Nurlaily, Fungsional BPS Kabupaten Bogor, Mahasiswa Pascasarjana UI 🕔Kamis 24 September 2020, 23:05 WIB
Semua data menyajikan informasi agar kita mengetahui dan dapat menentukan langkah apa yang dapat dilakukan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya