Minggu 06 September 2020, 06:10 WIB

SSB, Harapan Panjang bagi Tembadau

Ata/N-2 | Nusantara
SSB, Harapan Panjang bagi Tembadau

DOK KLHK
Dua banteng jawa (Bos javanicus) akan dilepas untuk dikembalikan ke habitatnya, di Taman Nasional Baluran, Banyuwangi, Jatim, Kamis (3/9).

 

TEKAD, 6, dan Patih, 4, dilepas di Taman Nasional Baluran, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (3/9). Keduanya banteng jawa atau Bos javanicus.

Mereka lahir dan besar di Suaka Satwa Banteng (SSB), konservasi eksitu yang berada di lingkungan Taman Nasional Baluran. Pelepasliaran kedua banteng jantan itu merupakan catatan sejarah bagi dunia konservasi Indonesia. Ini untuk pertama kalinya banteng jawa hasil pengembangbiakan eksitu dikembalikan ke habitat alaminya.

Tekad lahir pada 9 Juli 2014 dan Patih pada 23 Mei 2016. Suaka Satwa Banteng merupakan areal konservasi eksitu yang dibangun untuk mendukung peles­tarian banteng jawa, satwa yang sudah dinyatakan terancam punah.

“Juga untuk memperkaya keragaman genetik banteng yang ada di Taman Nasional Baluran,” kata Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkung­an Hidup dan Kehutanan, Wiratno, kemarin.

Dia memaparkan, saat ini populasi banteng jawa atau tembadau di alam diperkirakan hanya tersisa kurang dari 5.000 ekor. Namun, di Baluran, selama 5 tahun terakhir, populasinya menunjukkan tren meningkat.

Dari estimasi 44-51 individu pada 2015, meningkat menjadi 124-140 pada 2019. “Estimasi populasi didapatkan dari analisis data kamera trap,” tambah mantan Direktur Penyiapan Kawasan Perhutanan Sosial itu.

Empat taman nasional menjadi kantor populasi utama banteng jawa, yakni Taman Nasional Baluran, Taman Nasional Alas Purwo, Taman Nasional Meru Betiri, dan Taman Nasional Ujung Kulon. Kondisi keempat taman nasional di Pulau Jawa itu tidak terlalu menggembirakan karena dikepung area permukiman dan budi daya pertanian.

“Kondisi itu membuat banteng-banteng tidak bisa saling berhubung­an dalam jangka panjang sehingga kualitas genetik mereka mengalami penurunan,” sambung Kepala Taman Nasional Gunung Leuser 2005-2007 tersebut.

Kondisi itu juga berdampak pada penyakit genetik hingga potensi banteng menjadi kerdil. “Karena itu dibangun Suaka Satwa Banteng. SSB menjadi salah satu strategi untuk mengintervensi faktor alam.”

Alumnus Universitas Gadjah Mada itu menambahkan SSB menjadi gene pool yang berfungsi menampung banteng dari berbagai kantong populasi. “Mereka dikembangbiakkan agar menghasilkan individu banteng dengan variasi genetik yang lebih beragam.” (Ata/N-2)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah

Lima Konser Hiburan Hajatan Dibubarkan

👤MG/JI/GL/N-1 🕔Kamis 01 Oktober 2020, 04:20 WIB
Kelima panggung hiburan yang berlangsung di empat kecamatan itu dinilai berpotensi menyebabkan kerumunan sehingga dapat memicu penularan...
MI/Haryanto

Jawa Tengah Menuju Sekolah Luar Jaringan

👤HT/AD/LD/N-2 🕔Kamis 01 Oktober 2020, 04:00 WIB
Dengan evaluasi yang menunjukkan hasil baik itu, dia memutuskan akan kembali melanjutkan simulasi tatap...
Antara/Basri Marzuki

Surabaya Jadi Tuan Rumah Peringatan Hari Habitat Dunia 2020

👤Insi Nantika Jelita 🕔Kamis 01 Oktober 2020, 00:18 WIB
Kesepakatan tersebut diwakili oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dan Direktur Eksekutif...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya