Minggu 06 September 2020, 02:45 WIB

Membidik Emas Olimpiade

Galih Agus Saputra | Weekend
Membidik Emas Olimpiade

Dok. Pribadi
Rama Aryasuta Pangestu

MESKI tengah pandemi covid-19, kesibukan Rama Aryasuta Pangestu tidak menyurut.

Hasilnya, pelajar kelas tiga SMA itu mendulang dua medali emas untuk Indonesia dalam kompetisi bidang sains dan tekonologi.

Pertama, Rama yang mengaku sangat suka dengan informatika itu berhasil meraih medali emas di perhelatan Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2020. Belum satu bulan setelahnya, ia kembali berhasil meraih emas di ajang Asia Pacific Informatics Olympiad (APIO) 2020. 
Di tengah proses pembelajaran jarak jauh (PJJ)-nya kali ini, ia juga tengah mengikuti pelatih an nasional (pelatnas) untuk bertanding di babak selanjutnya, yakni International Olympiad in Informatics (IOI).

Bagaimana Rama mempersiapkan semuanya? Berikut kutipan wawancara Muda dengannya melalui sambungan telepon, Kamis (3/9).

Bagaimana awal mula ketertarikanmu dengan dunia informatika?
Awalnya, saya iseng-iseng saja. Waktu itu kelas 10 mulai tertarik. Saat itu penasaran, seperti apa sih OSN komputer itu. 

Terus waktu OSN di tingkat sekolah itu saya juga masih ragu-ragu, mau ikut matematika atau komputer, tapi akhirnya ikut komputer. Setelah itu, saya ikut Olimpiade Sains Kabupaten (OSK). Di tingkat kabupaten lolos, lalu ke provinsi. 

Nah, di tingkat provinsi itu saya mulai belajar banyak, soalnya waktu itu kan ada pelatihan kurang lebih dua minggu dan dari situlah akhirnya mulai suka sampai sekarang. Semakin ke sini, semakin banyak belajar, kok ternyata makin asyik, makin seru, ya sudah lanjut terus.

Bagaimana dukungan orang-orang terdekat?
Kalau dari keluarga, ya bisa pakai komputer, tetapi tidak terlalujadi fokus. Sebenarnya saya mengenal programing mungkin juga sejak SMP. 

Saat itu ada pela jaran di sekolah, tapi ya cuma sebatas pelajaran saja, dan selepas pelajaran saya tidak tertarik lagi. Baru ketika masuk SMA, mulai terpikirkan lagi.

Materi apa juga waktu itu tidak terlalu ingat, cuma perlahan-perlahan semakin suka begitu. Namun, mungkin itu juga setelah Olimpiade Sains Provinsi (OSP), setelah pengumuman lolos ke OSN itu kan nama saya terdaftar terus sekalian buat persiapan, barulah saya mulai belajar lagi lebih serius.

Selain senang dan bangga, bagaimana rasanya kemarin menjadi peraih medali emas di APIO 2020?
Enggak menyangka, sih. Sebelum pengumuman, aku yakin skorku lumayan tinggi, tapi pasti dalam hati kecilku itu pasti ada harapan, ‘pingin emas, pingin emas’, begitu. 

Tapi ya begitu, realistis saja, sepertinya enggak bakal seperti itu. Sempat pesimistis, terus akhirnya seperti itu, ya itu tadi enggak menyangka. Kaget!

Teknis lomba di APIO seperti apa?
Jadi, kita diberi tiga soal dan waktu lima jam untuk menyelesaikan. Selama lima jam itu kita disuruh membuat program untuk menjawab soal. 

Nah, soal-soalnya sendiri lebih menguji kemampuan berpikir kita secara algoritmik. Istilahnya, seperti soal matematika, tetapi ini diselesaikan menggunakan komputer.

Kamu sebelumnya juga meraih medali emas di OSN 2019, seperti apa perbedaannya dengan perhelatan kali ini?
Formatnya sama. Kita dikasih soal lalu disuruh untuk menyelesaikan. Tetapi, di APIO, jenis soalnya lebih susah. Saya tidak tahu kalau di OSN lain, tapi di OSN Komputer setelahnya kan ada pelatnas begitu, yang dapat medali emas diundang lagi, terus dari situ diseleksi lagi tiga kali untuk di kirim ke IOI. Jadi, untuk OSN itu taraf soalnya lebih mudah.

Tantangan terberat seperti apa?
Secara teknis enggak ada masalah, lancar-lancar saja. Kan kita selama bersama alumni Tim Olimpiade Komputer Indonesia (TOKI) sudah beberapa kali latihan di pelatnas begitu. 

Mereka juga sempat beberapa kali mengundang tamu dari negara lain, istilahnya untuk sparring. Terus sistemnya juga sangat mirip, jadi waktu kemarin memang sudah seperti biasanya saja.

Untuk menjelaskan soalnya seperti apa sebenarnya cukup susah karena teknis sekali. Namun, saya kira, soal-soalnya itu lebih menguji kemampuan problem solving kita.

Mendikbud Nadiem Makariem saat pembukaan APIO 2020 mengatakan kalian adalah generasi yang ulet, jujur, pantang menyerah, dan berharap ajang ini dapat menjadi tempat latihan kalian untuk menghadapi IOI. 

Bagaimana caramu memahami pidato ini?
Pidato itu saya pikir berhubungan dengan kondisi sekolah sekarang. Masih PJJ semua, mau menyontek lebih mudah, dan guru-guru tidak bisa menghentikan kita. Jadi, yang bisa menghentikan kita untuk curang atau tidak saat ini ya kita sendiri. 

Kalau misal diminta untuk merekam layar kita, mengakalinya juga lebih mudah. APIO juga kan lebih mudah pengawasannya kemarin, dalam artian, kita mengerjakan soal-soalnya dari rumah, saat mengerjakan ada webcam sama layarnya direkam selama lima jam. Tetapi, kalau kita mau curang atau tidak, itu kembali ke kejujuran kita sendiri. 

Pemenang APIO 2020 nantinya akan menjadi delegasi IOI, bagaimana caramu mempersiapkan diri?
IOI kan sebentar lagi, 13 September kalau tidak salah, dan selesainya 19 September. Dari selesai APIO kemarin sampai IOI nanti, saya sedang ada pelatnas terus.

Nantinya IOI akan digelar serentak. Nanti juga diatur kapan lima jam yang akan kita gunakan untuk menyelesaikan soal, dan kebetulan Indonesia kebagian lima jamnya itu dari pukul 06.00 sampai 23.00 WIB.  Jadi, dari pelatnas, untuk membiasakan itu, kita juga latihannya dari kemarin mulai pukul 06.00 sampai pukul 23.00.

Jadwal latihan seperti apa?
Dilakukan tiga hari dalam seminggu. Mulai dari Senin, Rabu, dan Jumat. Terus untuk Selasa dan Kamis kita membahas soal-soal, dari latihan-latihannya, atau soal-soal baru yang menarik begitu. 

Latihan ini sudah berjalan sejak tiga bulan lalu, nonstop. Dari 15 Juni itu kan kita lagi liburan sekolah, jadi waktu itu kita latihannya setiap hari. Nah, waktu mulai masuk sekolah itulah kita dipotong jadi tiga hari. Memang Pelatnas ini kemarin disiapkan untuk kami di APIO dan IOI.

Bagaimana caramu mengatur waktu untuk PJJ dan pelatnas?
Kalau saya tanya-tanya yang lain, mereka dapat izin dari sekolah. Namun, kalau saya sendiri, berhubung tetap ingin PJJ, jadi dua-duanya tetap saya jalani sampai sekarang. Meski mengatur waktunya mepet-mepet begitu.

PJJ itu kan sekarang empat jam mata pelajaran. Awalnya, saya biasanya izin di satu jam terakhir saja untuk Pelatnas karena waktunya berdekatan. Tapi sekarang berhubung mulainya jam 6 sore, saya jalani dua-duanya saja. 

Untuk menyelesaikan PR, biasanya setelah selesai sekolah ada waktu kosong, nah saya pakailah waktu itu. Saya langsung kerjakan saja, agar tidak ada yang pending PRnya dan tidak ada beban juga waktu pelatnas.

Seperti apa target kamu untuk IOI?
Kalau target tertinggi, tentu emas lagi. Namun, untuk IOI besok saya ingin mengerjakan soal semaksimal mungkin saja, supaya nanti waktu selesai tidak ada penyesalan atau pikiran ‘ah saya bisa lebih baik’ begitu.

Menurutmu, bagaimana agar anak muda sepertimu juga bisa ikut meminati atau akrab dengan bidang informatika?
Kalau dukungan selama ini ada di alumni TOKI, sudah ada website begitu untuk belajar. Untuk membuat ini populer sebenarnya agak susah, tetapi lebih enak kalau ini menjadi semacam hobi, atau mata pelajaran yang disukai.

Berhubung soal-soal di lomba OSK dan OSP lebih banyak ke matematika, jadi saya pikir kalau teman-teman ingin suka dengan informatika, sebelumnya perlu suka matematika terlebih dahulu.

Untuk aplikatif misalnya di industri gim atau gawai begitu mungkin memang ada, tetapi untuk yang dilombakan di OSN atau IOI ini sifatnya lebih seperti informatika murni. (M-2)

Baca Juga

Unsplash/ Tierra Mallorca

Tiga Hal yang Harus Dilakukan Bila Tak akan Miliki Dana Pensiun

👤Putri Rosmalia 🕔Sabtu 26 September 2020, 17:35 WIB
Tempat tinggal, kebutuhan harian, dan jaminan kesehatan harus direncanakan sejak...
Dok. Instagram @maquinnofficial

Label Adibusana asal Surabaya ini Tampil Milan Fashion Week

👤Putri Rosmalia 🕔Sabtu 26 September 2020, 16:45 WIB
Maquinn Couture yang berbasis di Surabaya ini akan menghadirkan karya akulturasi budaya Indonesia dan...
YouTube DSS Music

Jazz Gunung Virtual Concert, Kolaborasi untuk Negeri

👤Bagus Pradana 🕔Sabtu 26 September 2020, 15:18 WIB
Acara ini sekaligus menjadi konser pembuka 'Road to Jazz Gunung Series' yang akan diselenggarakan di empat destinasi wisata gunung...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya