Sabtu 05 September 2020, 15:31 WIB

Nelayan Kojadoi NTT Beralih Usaha Kelong

Gabriel Langga | Nusantara
Nelayan Kojadoi NTT Beralih Usaha Kelong

MI/John Lewar
ilustrasi pengeringan ikan di NTT

 

NELAYAN yang ada di Desa Kojadoi, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur mulai beralih usaha kelong untuk menangkap ikan halus atau ikan teri.

Kepala Desa Kojadoi Hanawi menceritakan awalnya nelayan disini melakukan budi daya rumput laut hingga dua kali mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Fredi Numberi mengunjungi desa untuk melakukan panen raya rumput laut.

Namun dalam perjalanannya, budi daya rumput mulai lesu, akibat gagal panen karena pemanfaatan obat green tonic membuat rumput laut terserang penyakit.

"Rumput laut mereka rontok secara massal. Jadi mereka berhenti budi daya rumput laut hingga sekarang," ungkap Hanawi, Sabtu (5/9).

Disampaikannya, ketika gagal budi daya rumput laut, nelayan kita berpindah untuk mencari ikan hiu dan juga mengandalkan mencari ikan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Dalam perjalanannya, ada larangan pemerintah untuk menjaring ikan hiu, mereka pun berhenti melakukan aktivitas tersebut.

"Sekarang mereka sudah beralih ke kelong. Perahu-perahu yang biasa tangkap hiu itu mereka jual untuk membuat kelong. Sekarang ini ada 15 kelong yang terpasang di laut," tuturnya.

Menurut dia, kelong ini digunakan untuk menangkap ikan halus atau ikan teri. Namun kelong ini tidak selamanya hanya berisi ikan teri, beberapa jenis ikan dan cumi juga ikut masuk ke dalam kadot (jaring kelong).

"Awalnya itu, hanya empat unit kelong saja. Namun sekarang sudah 15 kelong. Dalam satu bulan ada nelayan kita mendapatkan penghasilan Rp100 juta lebih dari usaha kelong itu," tukas Hanawi.

Baca juga: Nelayan di Pulau Parumaan NTT Mulai Bergairah Melaut

Ia mengaku satu orang pemilik kelong mampu mempekerjakan lima tenaga kerja. Dari hasil tangkapan lewat kelong ikan halus yang masih hidup mereka jual ke kapal-kapal pemancing ikan cakalang yang digunakan sebagai umpan.

"Satu ember matex ikan halus yang masih hidup itu dijual Rp500 ribu. Rata-rata mereka jual untuk suplai umpan kapal-kapal mancing cakalang. Sementara itu sisanya dikeringkan untuk dijual di pasar-pasar yang ada di Maumere," papar Hanawi

Dirinya mengaku ada beberapa nelayan masih menggunakan pancing untuk mencari ikan, ada juga yang masih menggunakan pukat tradisional namun lebih banyak nelayan mulai beralih ke kelong.

"Sekarang ada beberapa nelayan kita juga ada yang sementara kerjakan kelong. Mungkin karena penghasilan dari kelong ini bagus. Ada beberapa nelayan kita ekonominya mulai meningkat sehingga banyak nelayan yang mulai berahliah kelong," pungkas Hanawi.(OL-5)

Baca Juga

ANTARA

Sumsel Perpanjang Masa Pemutihan Pajak Kendaraan

👤Dwi Apriani 🕔Rabu 30 September 2020, 21:25 WIB
Kebijakan tersebut dikeluarkan untuk memberikan keringanan bagi masyarakat ditengah pelemahan ekonomi akibat situasi pandemi...
123rf.com

Klaster Ponpes Kembali Muncul di Tasikmalaya

👤Kristiadi 🕔Rabu 30 September 2020, 21:15 WIB
Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat mengoknfirmasi kemunculan klaster baru penyebaran Covid-19...
MI/Yoseph Pencawan

PTPN II Optimalisasi Lahan Tebu di Kwala Madu

👤Yoseph Pencawan 🕔Rabu 30 September 2020, 20:42 WIB
PTPN II saat ini sedang melakukan pembersihan lahan di Kebun Kwala Madu, Rayon Kwala tepatnya di Pasar IX, Desa Selemak, Kabupaten Langka,...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya