Sabtu 05 September 2020, 05:50 WIB

Transaksi Digital BCA Meroket di Masa Pandemi

Ins/Ant/E-3 | Ekonomi
Transaksi Digital BCA Meroket di Masa Pandemi

ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Pengunjung mencoba produk perbankan digital yang ada di BCA Expoversary 2020 di Indonesia Convention Exebation, Tangerang, Jumat (21/2).

 

PANDEMI covid-19 menyebabkan lonjakan transaksi digital di PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Bahkan, 98% transaksi nasabah BCA dilakukan secara digital.

“Tren digitalisasi yang saat ini berkembang. Sekitar 98% transaksi di BCA saat ini berlangsung secara digital,” ungkap Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja dalam keterangan resminya, kemarin.

BCA mencatat nilai transaksi mobile banking naik hingga 30,4% (yoy) dan internet banking BCA tumbuh 5,7% (yoy) per semester I-2020. Lebih lanjut, Jahja menyebut pada akhir Juni 2020 terdapat 22,5 juta rekening nasabah.

Setiap hari, kata Jahja, pihaknya memproses sekitar 30 juta transaksi. Itu tersebar di 1.251 kantor cabang, 17.360 ATM, serta layanan internet, dan mobile banking.

“Di Hari Pelanggan Nasional kali ini terasa berbeda dari tahun sebelumnya. Tahun ini kami tidak dapat menyapa (nasabah) secara langsung karena pandemi covid-19,” ungkap Jahja.

Kendati demikian, kata Jahja, kantor cabang BCA tetap beroperasi untuk memenuhi kebutuhan nasabah. “Tentunya dengan memperhatikan protokol kesehatan untuk nasabah dan karyawan. Seperti wajib menggunakan masker, jaga jarak, dan cek suhu,” pungkasnya.

Seiring meroketnya transaksi digital tersebut, Jahja sebelumnya telah meminta Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memberikan kesempatan kepada bank untuk menciptakan semacam platform e-commerce untuk menampung pelaku UMKM yang ingin melakukan penjualan.

Menurut Jahja, platform e-commerce, seperti Shopee, Tokopedia, dan lainnya, sebagian besar masih menjual produk-produk impor. Artinya, lanjut Jahja, pelaku UMKM belum mempunyai semacam super apps yang bisa menempatkan produk-produk lokal sehingga dapat semakin berkembang ke depan.

“Memang bank tidak boleh jualan, tapi mohon sekali dari OJK ataupun BI bisa memberikan kesempatan bank menciptakan suatu platform untuk e-commerce, bukan untuk jualan. Kita hanya melakukan payment system. Dalam hal ini QRIS sudah sangat adaptif dan sudah bisa kita pergunakan, di samping tentunya ada payment-payment lain juga yang bisa ditempatkan dalam e-commerce,” ujar Jahja.

Selain itu, Jahja juga menyoroti soal pentingnya infrastruktur telekomunikasi sehingga transaksi secara digital dapat dilakukan pelaku UMKM di seluruh pelosok Indonesia. (Ins/Ant/E-3)

 

Baca Juga

Antara

Kemenkeu Cegah Bambang Trihatmodjo ke Luar Negeri

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Jumat 18 September 2020, 16:35 WIB
Kemenkeu mencegah Bambang Trihatmodjo bepergian ke luar negeri lantaran memiliki permasalahan piutang negara kala dirinya menjadi Ketua...
Antara/Nurul Ramadhan

Teten: Gagal Transformasi UMKM, Pengangguran Bisa Meningkat

👤Insi Nantika Jelita 🕔Jumat 18 September 2020, 16:19 WIB
Pemulihan ekonomi nasional tidak bisa berjalan tanpa mendorong sektor UMKM. Mengingat, mayoritas pelaku usaha di Indonesia atau...
Antara

Kasus Kepailitan Ancam Industri Properti

👤Ihfa Firdusya 🕔Jumat 18 September 2020, 16:15 WIB
Selain kerugian bagi developer, permasalahan pailit yang mendera industri properti bisa merugikan dan berdampak signifikan pada...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya