Jumat 04 September 2020, 22:35 WIB

Tenaga Medis Alami Sindrom Burnout, Kenali Tanda-tandanya

Zubaedah Hanum | Humaniora
Tenaga Medis Alami Sindrom Burnout, Kenali Tanda-tandanya

Antara
Sejumlah tenaga medis yang bertugas di ruang IGD covid-19 beristirahat dengan mengenakan APD di RSUD Arifin Achmad, Kota Pekanbaru, Riau.

 

ENAM bulan sudah pandemi covid-19 mencengkram Indonesia. Selain hilangnya banyak nyawa, pandemi juga menghantam sendi-sendi kehidupan yang sangat menguji kesehatan mental, tak terkecuali para tenaga kesehatan.

Dalam riset yang dilakukan terhadap 1.461 tenaga kesehatan, ditemukan fakta bahwa 82% responden yang mengalami burnout syndrome tingkat sedang dan 1% tingkat berat. Riset tersebut dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dengan mengambil responden dokter, dokter spesialis, dokter gigi, dokter gigi spsialis , perawat, bidan, apoteker dan analisis laboratorium di seluruh Indonesia.
    
Apakah burnout syndrome itu dan bagaimana gejalanya? Kepala Departemen Riset Rumah Sakit Kanker Dharmais, Mururul Aisyi SpA(K) menjelaskan, kata burnout pertama kali digunakan oleh Herbert Freudenberger pada 1974 dan digunakan sebagai model teori hingga saat ini.

Sindrom burnout didefiniskan sebagai ketidakmampuan untuk mengatasi stress pada saat kerja secara efektif, dan lebih diasosiasikan dengan stress kronik akibat kejadian sehari-hari dibandingkan dengan pada saat tertentu.

Faktor stres kronis yang berhubungan dengan pekerjaan dan berlangsung selama beberapa bulan ataupun tahun dapat menyebabkan gangguan yang lebih berat. "Sindrom burnout dapat berperan sebagai prekursor atau berkolerasi dengan depresi kronis," kata dokter Mururul seperti dikutip dari laman resmi RS Kanker Dharmais, Jumat (4/9)

Faktor penyebab burnout antara lain disebabkan beban pekerjaan yang melebihi batas, beban kerja teralu banyak, kebosanan, sumber daya yang kurang, tingkat keamanan kerja yang kurang, serta ketidakseimbangan antara usaha dan balas jasa.

Dari sekian banyak profesi, Mururul mengatakan, burnout biasa dialami oleh guru dan petugas medis. Pada petugas medis, pekerjaan yang merupakan faktor resiko terjadinya sindrom burnout antara lain, dokter, onkologi, bedah, anaestesi, dokter pada unit kerja AIDS, dokter pada perawatan intensif, unit perawatan intensif neonates, staf pengajar pendidikan kedokteran, praktisi rehabilitasi, petugas emergensi, dokter gigi, perawat, petugas sosial medis, petugas kesehatan jiwa, psikolog, petugas okupasi, terapi, petugas terapi wicara, residen dan mahasiswa kedokteran.

Mururul pun merinci sejumlah sinyal yang menandai munculnya sindrom burnout ini. "Burnout diindikasikan melalui nilai yang tinggi pada kelelahan emosional dan depersonalisasi, serta nilai yang rendah pada skala capaian individu," ujarnya.

Ia menjelaskan, munculnya kelelahan emosional ditandai dengan berkurangnya energi dan rasa antusias pada pekerjaan, emosional dan kognitif menjauh dari pekerjaan

Sinyal kedua yang perlu diwaspadai ialah terjadinya depersonalisasi yang menyebabkan orang tersebut menjadi sinis, cenderung mengurangi keterlibatan dan menjauhi pasien, dan menangani pasien tidak sebagai objek hidup. Waspadai juga jika terjadi penurunan capaian pada skala individu seperti rendahnya keterlibatan, komitmen dan janji.

Dalam pernyataannya, Satgas Covid-19 menilai perlunya pembatasan jam kerja dokter serta tenaga kesehatan Covid-19 untuk menghindari kelelahan luar biasa selama menangani pasien. Pasalnya, stres bisa menurunkan daya tahan tubuh dan mengakibatkan mereka menjadi rentan tertular virus tersebut. (H-2)

Baca Juga

DOK KEMENSOS

Mensos Pastikan Penyerapan Anggaran PEN TA 2020 Tetap Tinggi

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 26 September 2020, 17:20 WIB
Perlu dicatat, kata Mensos, lebih separuh anggaran PEN dengan pagu Rp204,95 triliun TA 2020, berada di...
Antara/Rahmad

Hari Ini, Kasus Covid-19 Bertambah 4.494 Orang

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Sabtu 26 September 2020, 17:11 WIB
Jumlah kasus terkonfirmasi positif covid-19 di Indonesia mencapai 271 ribu orang. Pasien covid-19 yang dinyatakan sembuh sejauh ini...
MI/Fransisco Carolio

KPAI: Banyak Anak Alami Kekerasan Fisik dan Psikis Saat Pandemi

👤Suryani Wandari Putri Pertiwi 🕔Sabtu 26 September 2020, 16:16 WIB
Berdasarkan survei KPAI, kekerasan fisik dan psikis dilakukan anggota keluarga terdekat, seperti ayah atau ibu, kakek atau nenek, hingga...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya