Jumat 04 September 2020, 14:05 WIB

Tercapai Kesepakatan Usaha dan Pemasaran Kelapa, Aren di Sumsel

mediaindonesia.com | Ekonomi
Tercapai Kesepakatan Usaha dan Pemasaran Kelapa, Aren di Sumsel

DOK KEMENTAN

 

Pada 3-4 September 2020, telah ditandatangani 4 dokumen Kesepakatan Kerjasama Kemitraan Usaha dan Pemasaran Produk Perkebunan. Penandatanganan ini bertepatan saat Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan dan Direktorat Pengolahan & Pemasaran Hasil Perkebunan menyelenggarakan pertemuan Sosialisasi Hasil Sidang Internasional dan Capacity Building Pelaku Ekspor Komoditas Perkebunan.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, H. Fakhrurrozi Rais dalam pembukaan pertemuan menyatakan bahwa pertemuan ini menjadi semangat baru untuk menggali kembali bahkan memperkuat potensi-potensi komoditas perkebunan yang ada di Sumatera Selatan. Selain karet dengan luasan terbesar di Indonesia, ada sawit, kopi, kelapa, dan lada yang merupakan komoditas unggulan di Sumatera Selatan.

Beberapa tahun terakhir, petani rakyat mulai mengembangkan produk aren dan sereh wangi sebagai bahan pangan (gula aren) dan industri minyak atsiri (sereh wangi).

“Kami mengharapkan Ditjen Perkebunan mulai memperhatikan produk unggulan spesifik daerah ini. Karena potensi yang sangat besar untuk ekspor. Melalui MoU ini kami juga mengharapkan terjalin kemitraan yang baik dan tentunya berkelanjutan untuk mengangkat ekonomi petani di daerah sentra,” jelas H Fakhrurrozi.

Selanjutnya dalam pemaparan, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian (Kementan), Dedi Junaedi menyampaikan rasa bangganya terhadap antusias petani dan pelaku usaha yang datang pada pertemuan ini melalui kesepakatan kerja sama yang akan ditandatangani.

“Melalui MoU ini akan membuka semakin luas arah pengembangan dan akses pasar produk perkebunan di Prov Sumatera Selatan. Kami juga berharap Dinas Perkebunan Prov Sumatera Selatan tidak berhenti sampai di sini, terus melakukan pengawalan dan melakukan pembinaan kepada petani terkait aspek-aspek kualitas dan kontinuitas produk yang dipasarkan. Kami juga akan terus memfasilitasi sarana dan prasarana yang dibutuhkan petani dalam hal bimbingan teknis, alat pascapanen dan pengolahan juga pemasarannya,” papar Dedi.

Lebih lanjut, menurut Dedi, pada sidang-sidang Internasional pemerintah perlu melihat peluang-peluang yang bisa diterapkan dari kebijakan yang dihasilkan dalam forum-forum Internasional seperti ICO untuk kopi, ICCO untuk kakao, IPC untuk lada, ICC untuk kelapa, ITRC dan ANRPC untuk karet.

Tidak hanya itu, CPOPC pada kelapa sawit dan secara regional dalam tataran Asean (ANFPWG Pepper, Coffee, Teh, Cocoa, Coconut, dan lainnya) terutama terkait kebijakan dinamika harga, peningkatan produktivitas, rantai pasok, konsumsi, distribusi, standarisasi kualitas, akses pasar dan promosi.

Ini penting mengingat perkebunan sebagai komoditas ekspor. Hal ini dibuktikan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa hingga Triwulan 2 tahun 2020, nilai ekspor komoditas perkebunan meningkat 7% atau senilai US$12,27 juta jika dibandingkan periode yang sama tahun 2019.

Sementara itu, Dirjen Perkebunan, Kementan, Kasdi Subagyono mengakui, komoditas yang memiliki kinerja positif selama matriwulan ke-2 tahun 2020 ini adalah jambu mete, teh, pala, kayu manis, vanili, cengkeh, kakao, dan kelapa dengan pertumbuhan mencapai 4-69% dibandingkan triwulan ke 2 tahun 2019.

“India, Tiongkok, Belanda, Pakistan, dan Amerika Serikat masih menjadi tujuan ekspor utama komoditas perkebunan selama TW ke-2 tahun 2020 dengan total volume mencapai 7,5 juta ton atau senilai US$5,2 juta,” jelas Kasdi.

Mengenai kinerja ekspor produk perkebunan, peluang dan tantangan oleh Kepala Sub Direktorat Pemasaran Hasil yang menjelaskan bahwa perdagangan dunia semakin kompleks dan kompetitif, terdapat berbagai macam hambatan baik tarif dan nontarif.

Kasdi berharap komoditas perkebunan Indonesia dapat memenangi persaingan pasar ini. Tentunya dengan mengedepankan kualitas, kontinuitas dan diplomasi pada forum-forum bilateral, regional dan multilateral.

Selain itu dipaparkan oleh Dekan Fakultas Pertanian Univesitas Sriwijaya, Andi Mulyana mengenai peran akademisi dalam peningkatan kualitas produk untuk ekspor melalui penelitian bidang perkebunan serta oleh Balai Karantina Pertanian kelas 1 Palembang yang menyampaikan mengenai peran karantina dalam akselerasi ekspor komoditas perkebunan.

Di akhir pertemuan ditandatangani 4 dokumen Kesepakatan Kerjasama Kemitraan Usaha dan Pemasaran Produk Perkebunan. Yakni pertama, usaha mikro kecil menengah (UMKM) Gasing Maju Bersama dengan Gapoktan Tirta Mandiri untuk produk kelapa dari Kabupaten Banyuasin.

Kedua, UMKM Kelapa Rumbuh dengan Kelompok Tani Mustopa untuk produk kelapa dari Kabupaten Banyuasin. Ketiga, CV. Rerira Global dengan Pemasok Munawarman untuk produk gula aren dan sereh wangi dari Kabupaten OKU Selatan.

“Keempat, yakni CV. Rerira Global dengan Kelompok Tani Sereh Serumpun untuk produk gula aren dan sereh wangi dari Kabupaten OKU Selatan,” pungkas Andi. (RO/OL-10)

Baca Juga

Ist

Sosialiasi ASABRI untuk Divisi Infantri III Kostrad, Kariango

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 20 September 2020, 11:59 WIB
Direktur Investasi ASABRI Jeffry Hariyadi P Manulang bersama Simon P Semedi dan tim memenuhi undangan Pangkostrad melaksanakan sosialisasi...
Ist/Kementan

Di Tuban, Penguatan Balai Penyuluhan Pertanian Disambut Antusias

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 20 September 2020, 11:40 WIB
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tuba, Murtadji, memberikan apresiasi terhadap kedatangan rombongan BPPSDMP, Kementerian...
Ist/Kementan

Petani Milenial Tuban Turut Menentukan Kemajuan Sektor Pertanian 

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 20 September 2020, 11:31 WIB
Dedi menegaskan jika kualitas SDM pertanian yang terdiri dari Poktan, Gapoktan, petani, petani milenial, dan penyuluh meningkat, pertanian...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya