Jumat 04 September 2020, 13:12 WIB

KLHK Gelar E-Learning untuk Mitigasi Bencana Kekeringan

mediaindonesia.com | Humaniora
KLHK Gelar E-Learning untuk Mitigasi Bencana Kekeringan

Ist
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya saat memberi pemaparan dalam kegiatan e-learning.

 

WILAYAH Indonesia mulai mengalami kekeringan sejak 10 tahun terakhir. Kondisi yang sebetulnya tidak perlu terjadi, mengingat curah hujan di hampir seluruh wilayah Indonesia termasuk kategori tinggi. Namun beberapa wilayah termasuk daerah semi arid atau iklim semi kering seperti sebagian Bali timur, NTT, NTB, dan lembah Palu.

Akan tetapi hujan kumulatif tahunannya masih termasuk sedang (700-800 mm/tahun). Secara temporal, bulan kering juga relatif tidak lama, sekitar 3-4 bulan. Walaupun kondisi daerah semi arid juga berbeda, karena bulan keringnya 6-7 bulan.

Yang harus diwaspadai adanya peningkatan bencana kekeringan baik sebaran spasialnya, maupun jangka waktunya (temporal).

Semakin bertambah banyak daerah-daerah yang berdasarkan peta indeks kelangkaan air (water scarcity index) masuk kategori stressed. Dalam kondisi itu, air yang tersedia hanya mampu memenuhi kebutuhan 1.000-2.000 m3/kapita per tahun.

Tak hanya itu, kondisi yang langka ekstrim (severely scarce) hanya mampu memenuhi kebutuhan 1.000-2.000 m3/kapita per tahun. Sementara itu, ambang batas untuk kategori normal adalah 2.000 m3/kapita per tahun. Kondisi tersebut semakin menurunkan peluang akses ke air bersih.

“Saat ini kita sering melihat adanya fragmentasi program penanganan bencana kekeringan yang dilakukan multisector, padahal vektornya sama, yaitu ketahanan air dan pangan," ujar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya saat memberikan sambutannya dalam pembukaan e-learning yang dilakukan selama dua hari.

Menurut Menteri LHK, tata kelola bentang alam adalah pendekatan yang paling memadai untuk merajut berbagai strategi yang diinisiasi.

"Pemanfaatan instrumen Geographical Information System (GIS) menjadi kebutuhan agar sinergi program terformulasikan secara accountable, sehingga strategi yang dihasilkan memiliki tingkat akseptabilitas tinggi,“ tutur Menteri Siti dalam keterangan pers, Jumat (4/9).

Untuk itu, ditekankan oleh Menteri Siti, melalui sosialisasi dan pelatihan e-learning  diharapkan dapat memberi pemahaman dalam menemu kenali kondisi bentang alam dan potensi yang terjadi, serta proses analisis berbasis spasial dilakukan.

Ia berharap akan diperoleh referensi yang handal (reliable) untuk bertindak dan menentukan strategi penanganan. 

“Penyelenggaraan e-learning  ini juga menggambarkan metode adaptif dalam diseminasi kebijakan environmental governance  menghadapi situasi covid-19 yang saat ini melanda berbagai wilayah negara kita,“ ucap Menteri Siti.

Sementara itu dalam laporannya Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM), KLHK, Helmi Basalamah kegiatan sosialisasi diikuti oleh para pemangku kebijakan baik di pusat maupun daerah.

"Dari kegiatan ini diharapkan mereka dapat memahami kebijakan terkait dengan mitigasi bencana terutama bencana kekeringan dan kelangkaan air, yang dapat diinternalisasi dan diimplementasikan dalam perencanaan pembangunan di daerah," ujar Helmi.

Helmi berharap kegiatan e-learning ini semakin massif penggunaannya baik untuk  peningkatan kapasitas SDM aparatur maupun aparatur dan non aparatur/masyarakat. Seluruh aktivitas pembelajaran dilakukan pada LMS (Learning Management System) KLHK.

Pada akhir pelatihan peserta  dapat menunduh e-sertificate pelatihan. Sehari sebelumnya telah dilaksanakan pelatihan untuk para peserta dan juga para tutor yang akan memangku pembelajaran e-learning telah dilakukan TOT pelatihan selama dua hari.

Sosialisasi kebijakan tersebut diikuti 765 orang dengan materi sosialisasi di antaranya Kebijakan Rehabilitas Hutan dan Lahan dalam Mitigasi Bencana Hidrometeorologi oleh Ir. Hodoyo, MM (Plt. Dirjen PDASHL-KLHK), Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim (Kekeringan) oleh Dr. Ir. Riandha Agung Sugardiman, M.Sc (Dirjen PPI-KLHK).

Selain itu, materi Integrated Landscape Assessment For Hydrology (ILAH), oleh Prof. Soeratman Woro S., M.Sc (UGM), Analisisi Ketersediaan air untuk Rehabilitasi Hutan dan Lahan di Indonesia, oleh Dr. Pramono  Hadi (UGM) yang dimoderatori oleh Dr. Dyah Rahmawati Hizbaron, M.T, M.Sc (UGM). (OL-09)

 

 

Baca Juga

Ist

Edufair, Ajang Menentukan Fakultas dan Jurusan yang Tepat di PTN

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 01 Oktober 2020, 23:02 WIB
Persiapan lebih dini, pembekalan wawasan, dan pengetahuan akan meningkatkan keyakinan para siswa dalam memilih perguruan tinggi negari...
Antara

Indonesia Kekurangan 9 Juta Talenta Digital

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Kamis 01 Oktober 2020, 23:00 WIB
Ada kesenjangan yang cukup lebar dalam menerapkan pemahaman digital di era revolusi digital...
Antara

Hari Lanjut Usia Internasional, Lansia Diminta Adaptif

👤Suryani Wandari Putri Pertiwi 🕔Kamis 01 Oktober 2020, 22:45 WIB
TANGGAL 1 Oktober diperingati sebagai International Day of Older Persons (IDOP) atau Hari Lanjut Usia...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya