Kamis 03 September 2020, 04:13 WIB

Pandemi Menahan Konsumsi dan Investasi

Mir/Pra/X-3 | Ekonomi
Pandemi Menahan Konsumsi dan Investasi

Asian Development Bank/Kemenkeu/Tim Riset MI-NRC
Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Negara ASEAN 2020

 

BERATNYA dampak pandemi covid-19 yang menerpa perekonomian nasional sepanjang triwulan II mengharuskan pemerintah merevisi pertumbuhan ekonomi 2020 ke kisaran -1,1% hingga 0,2%.

Angka itu merupakan perubahan dari taksiran awal di kisaran 0,4%-1% dan didasari pula perkiraan pertumbuhan ekonomi triwulan III yang diprediksi masih negatif.

“Proyeksi kami minus 1,1% hingga 0,2%. Triwulan III mungkin masih negative growth dan triwulan IV sedikit di bawah netral,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, kemarin.

Berdasarkan asumsi itu, lanjut Sri Mulyani, pemulihan pada 2021 tidak serta-merta langsung mengungkit kinerja perekonomian di semester pertama. “Di paruh pertama 2021, fokus utama ialah pengadaan vaksin covid-19 lalu vaksinasi secara meluas.”

Oleh karena itu, pemerintah mematok target pertumbuhan ekonomi dalam RAPBN 2021 di rentang 4,5%-5,5%. Itu pun bergantung capaian semester II.

“Semester 1 tahun depan covid-19 masih menjadi faktor yang menahan pemulihan, baik di konsumsi maupun investasi,” ujar Sri Mulyani.

Dalam rapat kerja tersebut, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memprediksi pertumbuhan ekonomi 2021 berada di kisaran 4,8%-5,8%. Proyeksi positif itu berdasarkan pada kondisi ekonomi yang saat ini mulai menunjukkan perbaikan.

“Secara keseluruhan untuk 2021, pertumbuhan ekonomi dalam RAPBN 2021 sekitar 4,5%-5,5% yang disampaikan Ibu Menteri Keuangan cukup realistis dan sejalan dengan perkiraan BI,” jelas Perry.

Perry menambahkan indikasi perbaikan ekonomi juga terlihat dari meningkatnya mobilitas manusia di beberapa daerah, peningkatan penjualan eceran, naiknya keyakinan konsumen, meningkatnya PMI manufaktur, dan naiknya ekspektasi investasi di semester II 2020.

Terpisah, Ketua Satgas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Nasional Budi Gunadi Sadikin memaparkan kebijakan pemerintah menggelontorkan dana Rp180 triliun untuk menyelamatkan Indonesia dari kemungkinan terjerembap ke jurang resesi.

“Angka Rp180 triliun diperoleh dari hasil perkalian PDB dengan pertumbuhan ekonomi kuartal kedua. PDB kita sekitar US$1 triliun atau setara Rp14.500 triliun. Jika dibagi per kuartal secara rata, PDB setiap kuartal Rp3.600 triliun. Nah, di kuartal kedua kita mencatat pertumbuhan ekonomi -5,32%. Jadi, yang kita bicarakan ialah 5,32% dari Rp3.600 triliun. Itu sekitar Rp180 triliun. Kita kehilangan Rp180 triliun pada kuartal kedua. Kucuran dana Rp180 triliun itu akan menutup sama persis minus -5,32%,” tandas Budi di Kantor Presiden Jakarta, kemarin. (Mir/Pra/X-3)

Baca Juga

Antara

PT KAI Gelar Diskon 25 Persen untuk Layanan Ini

👤Hilda Julaika 🕔Sabtu 26 September 2020, 17:00 WIB
PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 1 Jakarta memberikan diskon 25 persen, untuk layanan angkutan barang menggunakan Rail...
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Pemerintah Siapkan Diskon Wisata Rp2,35 juta per Orang

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Sabtu 26 September 2020, 16:15 WIB
Stimulus itu direncanakan akan memiliki anggaran sebesar Rp1 triliun dan dirilis berbarengan dengan pendistribusian vaksin covid-19 pada...
Antara/Kornelis Kaha

Geliat Pariwisata Bisa Cegah Pelambatan Ekonomi Berkelanjutan

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Sabtu 26 September 2020, 15:25 WIB
Pemerintah telah menyiapkan strategi dan program untuk menggerakkan sektor pariwisata. Namun, tetap mengedepankan protokol kesehatan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya