Kamis 03 September 2020, 05:00 WIB

Huma Betang yang Mengatasi Perbedaan (habis)

Surya Sriyanti/N-2 | Nusantara
Huma Betang yang Mengatasi Perbedaan (habis)

MI/SRIYANTI
Foto Replika Huma Betang Eka Tingang Nganderang, digunakan sebagai gedung pertemuan yang berada di Jalan DI Panjaitan No 3 Palangka Raya.

 

RAWING Rambang, 59, beragama Kristen. Namun, di keluarga besarnya, ada yang memeluk Islam.

"Namun, sebagai keluarga, persaudaran tetap terjalin erat dan harmonis," ujar warga berdarah Dayak yang tinggal di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, itu.

Ia menyebut huma betang sebagai jembatan yang mengatasi perbedaan itu. Meski berbeda keyakinan, falsafah rumah betang bisa membuat hubungan persaudaraan tetap erat.

Huma betang sebagai falsafah, lanjutnya, sudah mengakar dan terpelihara hingga sekarang. "Huma betang ialah rumah untuk keluarga besar. Kami bersatu di dalamnya, tanpa melihat keyakinan yang berbeda."

Rawing yang saat ini menjabat Kepala Dinas Perkebunan Kalimantan Tengah itu yakin falsafah huma betang akan terus terpelihara dan tak lekang oleh zaman. Masyarakat Dayak dengan berbagai keberagamannya tetap bisa bersatu.

"Huma betang membuat kami, sebuah keluarga besar bersatu, mulai tidur hingga makan bersama. Kini kebiasaan itu masih dipertahankan meski kami tidak tinggal dalam satu rumah lagi," lanjutnya.

Rawing mengungkapkan ibu kandungnya memiliki 4 saudara beragama Nasrani dan 3 Islam. Mereka merupakan keluarga Dayak Maanyan yang berasal dari daerah aliran Sungai Barito.

"Keluarga besar punya jadwal tetap selalu berkumpul saat Lebaran. Yang Nasrani datang ke saudara yang muslim. Ketika Natal tiba, kunjungan balasan pun dilakukan," paparnya.

Demikian juga saat terjadi kematian atau kebaktian, mereka saling mengundang walaupun mereka tidak ikut pada ritual keagamaanya. Sauara kandung dan sepupuk akan selalu hadir.

Huma betang atau rumah besar dalam arti harafiah ialah sebuah rumah adat berukuran besar. Sejumlah keluarga yang berbeda status sosial, ekonomi, dan agama, tinggal bersama-sama dan hidup harmonis.

Huma betang sebagai rumah suku dipimpin kepala suku. Huma betang di Kalimantan Tengah disebut lamin di Kalimantan Timur atau uma dadoq di Kalimantan Barat.

Saat ini, di Kalimantan Tengah, tidak ada lagi keluarga yang tinggal di huma betang. Rumah panjang masih bertahan sebagai cagar budaya. Sementara di Kalimantan Barat, sejumlah uma dadoq masih berfungsi sebagai rumah bersama.

Huma memiliki panjang lebih dari 100 meter dan lebar 30 meter serta tinggi 3 meter. Rumah dibuat dari kayu ulin sebagai material utama. Kayu terpasang tanpa paku. Satu huma betang dihuni beberapa keluarga.

Untuk melakukan sesuatu, seluruh penghuni harus bermusyawarah. Karena tinggal dan hidup dalam lingkungan keluarga besar, rumah adat berfungsi sebagai sarana pemupukan nilai-nilai budaya komunal. Ikatan solidaritas dan toleransi tinggi bagi sesama penghuni. (Surya Sriyanti/N-2)

Baca Juga

ANTARA/Bayu Pratama S

Sebanyak 84% Penderita Covid -19 di Kalsel Sembuh

👤Denny Susanto 🕔Minggu 20 September 2020, 11:14 WIB
Penderita sembuh terbanyak berasal dari Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, dan Kabupaten Tanah...
MI/Hery Susetyo

Kapolda Jatim Tinjau Operasi Yustisi di Daerah Rawan Covid-19

👤Hery Susetyo 🕔Minggu 20 September 2020, 10:50 WIB
Peninjauan operasi yustisi tersebut dilakukan di Jalan Tambak Sari di depan Stadion 10 November Surabaya dan kawasan Jembatan...
Ist

Sambut Para Wisatawan, NTT Tingkatkan Protokol CHSE

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 20 September 2020, 10:39 WIB
Kedisiplinan terhadap perilaku hidup bersih dan sehat menjadi salah satu dasar bagi keberlangsungan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya