Selasa 01 September 2020, 21:46 WIB

Safari TOSS Ajak Masyarakat Olah Sampah Jadi Energi Kerakyatan

Widhoroso | Humaniora
Safari TOSS Ajak Masyarakat Olah Sampah Jadi Energi Kerakyatan

Ist
Gerakan mengajak masyarakat mengelola sampah.

 

GERAKAN Ciliwung Bersih (GCB) dan perusahaan rintisan (startup company) comestoarra.com bekerja sama dengan PT PLN (Persero), PT Indonesia Power, PT Indofood Sukses Makmur Tbk mengedukasi masyarakat mengenai pengolahan sampah bertajuk Safari TOSS “Journey to The East”(JTE), 1–20 September 2020.

Dalam rangkaian safari ini, GCB dan comestoarra akan melakukan liputan aktivitas, seminar, serta pelatihan dengan mengunjungi 15 lokasi implementasi Tempat Olahan Sampah di Sumbernya (TOSS) di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Kalimantan secara daring. Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan kepada pemerintah pusat dan daerah untuk menggerakkan masyarakat dalam mengolah sampah di sumbernya dan memanfaatkan hasil olahannya menjadi energi kerakyatan.

Ketua Badan Eksekutif GCB Peni Susanti, Selasa (1/9) mengatakan kapasitas Tempat Pengelolaan Akhir Sampah (TPA) di sejumlah wilayah yang semakin kritis. Bahkan, beberapa TPA mengalami bencana seperti longsor yang terjadi di TPA Cipeuncang, Tanggerang Selatan awal 2020 dan kebakaran TPA yang terjadi di Putri Cempo, Solo akhir 2019.

Peni menambahkan, keberadaan TPS-3R dan bank sampah juga belum optimal karena masyarakat belum mampu melakukan pemilahan sampah di sumber. Bahkan tidak jarang, sampah dibuang ke sungai/kali sehingga menimbulkan pencemaran terutama di sektor hilir.

“Perlu sosialisasi dan edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat agar mampu melakukan pemilahan sampah di sumber. Karenanya, GCB memfasilitasi masyarakat dan seluruh stakeholders untuk bekerja sama dalam pelaksaanaan pengolahan sampah di sumber melalui TOSS yang digagas oleh Supriadi Legino dan Sonny Djatnika Sunda Djaja,” ujar Peni.  

TOSS adalah metode pengelolaan dan pengolahan sampah di sumber berbasis komunitas dimana. Metode ini mengubah paradigma pemilahan di awal menjadi pemilahan setelah proses pengolahan berlangsung. Melalui metode peuyeumisasi (biodrying), bau tak sedap dari sampah akan hilang dan mengering dalam waktu 3-7 hari.

Menurut penggagas TOSS dan juga Komisaris Utama comestoarra.com, Supriadi Legino, konsep gotong royong sangat menunjang keberhasilan pengolahan sampah di sumber. "Dari kajian sosiologi dan psikologi, masyarakat Indonesia membutuhkan teknologi yang sederhana namun sarat akan nilai-nilai budaya,” terang Supriadi. (RO/R-1)

Baca Juga

MI/Susanto

Dino Patti Djalal Pulih dari Covid-19

👤Basuki Eka Purnama 🕔Rabu 30 September 2020, 13:13 WIB
Rosa mengatakan Dino sebelumnya mendapat perawatan di Intensive Care Unit (ICU) selama 14 hari di RSPAD Gatot Soebroto sejak dirinya...
MI/Dwi Apriani

Penyerapan APBD untuk Pandemi Covid-19 Baru 46,9%

👤Theofilus Ifan Sucipto 🕔Rabu 30 September 2020, 12:51 WIB
Pemerintah pusat mengalokasikan dana sebesar Rp695 triliun. Sedangkan pemerintah daerah sebesar Rp78 triliun dan dana desa sebanyak Rp28...
ANTARA/Prasetia Fauzani

Pemerintah Salurkan Ratusan Triliun untuk Perlindungan Sosial

👤Theofilus Ifan Sucipto 🕔Rabu 30 September 2020, 11:50 WIB
Salah satu upaya memulihkan ekonomi melalui perlindungan sosial. Supaya daya beli masyarakat tetap...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya