Selasa 01 September 2020, 17:42 WIB

Penjelasan Linguis UGM tentang Makna Kata Anjay

Ardi Teristi | Humaniora
Penjelasan Linguis UGM tentang Makna Kata Anjay

Dokumen Instagram itsalex_sagitarius
Anjay

 

Linguis Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya UGM, Dr Suhandono, memberikan pandangannya tentang makna kata Anjay. Hal tersebut berkaitan dengan munculnya polemik kata Anjay yang baru-baru ini mengemuka di berbagai media, termasuk media sosial, serta melibatkan Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA).

Menurut Suhandono, makna kata adalah apa yang ada dalam pikiran ketika mendengar atau membaca suatu kata. Karena makna ada dalam pikiran, makna kata yang sama bisa berbeda antara orang per orang, tergantung pada pengalamannya, demikian pula tentang kata anjay.

Orang bisa memaknai kata anjay berbeda-beda. Jika mereka belum tahu dan kemudian diberi penjelasan tentang arti kata anjay, mungkin mereka akan menerima penjelasan itu. "Tetapi meskipun belum tahu orang bisa mengira-ira makna kata berdasarkan pengalamannya," ujarnya, Selasa (1/9), lewat siaran pers dari Humas UGM.

Dalam kehidupan sehari-hari, kata Suhandano, ada saja kata yang diplesetkan. Demikian pula dengan kata anjay, orang bisa saja menafsirkan kata tersebut sebagai plesetan kata anjing sehingga bermakna jelek apabila digunakan untuk memaki.

Menurut Suhandano, kata anjing dalam makian memiliki makna jelek karena dalam budaya Indonesia anjing dikonotasikan seperti najis, kotor, ataupun rakus. Dalam makian, orang terkadang memplesetkan kata itu karena tidak sampai hati mengucapkan apa adanya sebab akan terkesan vulgar. "Demikian juga makian "asem" dan "bajigur" dalam masyarakat Jawa, misalnya, maksudnya tentu bukan buah asam dan jenis minuman tentunya," lanjut dia.

Oleh karena itu, kata anjay dan kata-kata lain yang bisa menimbulkan kesan buruk, dan salah paham sebaiknya dihindari. Meski begitu, bila dalam konteks dan orang yang terlibat dalam percakapan sudah saling mengenal dengan baik, bisa saja kata-kata semacam itu dipergunakan. "Konteksnya beda, dalam dunia komedi misalnya, mungkin ada kata yang lebih vulgar dari itu, tapi biasa saja sebab dalam konteks melawak hal yang menyimpang dari hal yang umum bisa dianggap wajar," pungkas dia. (OL-12)

Baca Juga

ANTARA/Novrian Arbi

Lebih dari 2.000 Bencana Terjadi Hingga Akhir September 2020

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Rabu 30 September 2020, 23:15 WIB
Berdasarkan data yang tercatat, jumlah bencana 2020 turun sekitar 25,1% dibandingkan pada tahun...
Tangkapan layar konpers daring Kemenristek

Kemenristek Tindaklanjuti Riset ITB soal Tsunami 20 Meter di Jawa

👤Suryani Wandari Putri Pertiwi 🕔Rabu 30 September 2020, 23:05 WIB
Kementerian Riset dan Teknologi menyiapkan sejumlah langkah dalam merespons temuan riset potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Pulau...
ANTARA FOTO/Risky Andrianto

DKI Gandeng Swasta Olah Sampah di Bantargebang

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Rabu 30 September 2020, 22:45 WIB
Dalam kolaborasi ini, pihak swasta mendukung kegiatan penambangan sampah atau 'landfill mining' pada zona tidak aktif di TPST...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya