Selasa 01 September 2020, 14:40 WIB

BPS: Nilai Tukar Petani Agustus 2020 Naik 0,56%

Despian Nurhidayat | Ekonomi
BPS: Nilai Tukar Petani Agustus 2020 Naik 0,56%

ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman
Petani sedang memanen padi

 

BADAN Pusat Statistik (BPS) mengatakan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) pada bulan Agustus 2020 mengalami kenaikan 0,56% secara bulanan atau month to month menjadi 100,65.

Kepala BPS Suhariyanto menuturkan bahwa dari seluruh subsektor, NTP mengalami kenaikan kecuali untuk subsektor hortikultura dan peternakan. Dia merinci, untuk NTP tanaman pangan pada bulan Agustus 2020, terjadi kenaikan sebesar 0,45%.

"Ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani ini mengalami kenaikan sebaliknya indeks harga yang dibayar pertani mengalami penurunan. Kenapa ini bisa naik? Salah satu penyebabnya ada kenaikan pada harga gabah dan kacang tanah," ungkapnya dalam konferensi pers secara daring, Selasa (1/9).

Dijelaskan Suharyanto, NTP merupakan perbandingan dari indeks harga yang diterima petani dari produk-produk pertanian dibandingkan dengan indeks harga yang dibayar petani baik itu untuk konsumsi rumah tangga, maupun produksi dan penambahan barang modal.

Menurut Suhariyanto situasi berbeda terjadi untuk NTP pada subsektor hortikultura. Hortikultura mengalami penurunan cukup dalam sebesar 1,98%. Hal ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani mengalami penurunan dan juga indeks yang dibayar petani hortikultura juga mengalami penurunan.

"Tetapi penurunan untuk indeks harga yang diterima oleh petani jauh lebih tajam, sehingga NTP mengalami penurunan. Penerimaan NTP hortikultura pada bulan Agustus ini menurun karena ada penurunan pada harga bawang merah, tomat dan beberapa harga buah-buahan seperti pisang dan sebagainya yang juga menyebabkan deflasi untuk indeks harga konsumen (IHK)," sambung Suhariyanto.

Lebih lanjut, untuk tanaman perkebunan rakyat, terjadi kenaikan NTP karena indeks harga yang diterima petani juga naik. Hal ini terjadi karena adanya kenaikan harga untuk beberapa komoditas perkebunan terutama untuk kelapa sawit dan karet.

Hal inilah yanb menyebabkan indeks harga yang diterima petani tanaman perkebunan naik sedangkan indeks harga yang dibayar turun, sehingga khusus untuk tanaman perkebunan rakyat, kenaikan NTP berada pada persentase yang cukup besae yakni 2,81%.

"Sementara untuk peternakan, terjadi penurunan baik untuk indeks yang diterima petani dan juga indeks yang diterima petani. Dengan catatan, indeks harga yang diterima petani turunnya lebih curam karena adanya penurunan harga beberapa komoditas peternakan sepeti ayam ras dan telur ayam. Lalu terakhir untuk perikanan, NTP naik 0,31%," ujarnya.

Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) juga dikatakan mengalami kenaikan yang sangat mirip dengan NTP. NTUP sendiri pada intinya memiliki artian yang sama dengan NTP, namun indeks harga yang dibayar oleh petani hanya mencakup indeks biaya produksi dan penambahan barang modal, tidak termasuk biaya untuk konsumsi sehari-hari.

"NTUP seluruh sektor mengalami kenailan kecuali untuk hortikulturan dan peternakan dengan alasan yang sama seperti NTP," kata Suhariyanto.

Untuk harga gabah kering panen pada bulan Agustus 2020 ini telah mencapai kisaran sebesar Rp4.818 per kg. Menurur Suhariyanto, jika dibandingkan dengan posisi bulan lalu dan tahun lalu berarti gabang kering panen di tingkat petani itu mengalami kenaikan.

Hal yang berbeda terjadi dengan gabah kering giling, di mana pada Agustus 2020 ini mencapai kisaran sebesar Rp5.396 per kg. "Kalau dibandingkan dengan bulan Juli 2020 terjadi penurunan (Rp5.451 per kg), tapi kalau dibandingkan Agustus 2019 masing mengalami kenaikan sebesar 1,65%," tambahnya.

Untuk perkembangan harga gabah di tingkat penggilingan dikatakan hampir sama dengan perkembangan harga di tingkat petani. Di mana gabah kering panen itu naik pada kisaran Rp4.905 per kg. Sementara untuk gabah kering giling pada kisara Rp5.516 per kg mengalami penurunan dari bulan sebelumnya, tetapi mengalami kenaikan dibanding bulan sama tahun lalu.

Selain itu, untuk harga beras di penggilingan, baik untuk premium, medium maupun luar kualitas, secara umum mengalami kenaikan. Hal tersebut terlihat dari harga beras premium di penggilingan pada bulan Agustus sebesar Rp9.963 per kg artinya naik 0,31% dibanding Juli 2020. Beras medium juga naik 0,20% dan luar kualitas juga naik 0,75%.

"Kalau kita gabungkan, kita bisa lihat gambaran perjalanan harga gabah sampai dengan beras. Baik di tingkat petani, penggilingan maupun sampai tingkat konsumen. Kita lihat gabah kering panen tingkat petani naik 0,61% karena jumlah panen agak berkurang jadi harga panen agak meningkat. Harga beras kualitas premium di tingkat penggilingannya juga naik 0,13%," ujar Suhariyanto.

"Tetapi harga beras grosir dan eceran di konsumen itu justru mengalami penurunan. Ini menunjukkan bahwa harga beras sangat terjaga, cadangan di bulog cukup sehingga dari sisi konsumen harga beras masih mengalami penurunan dibanding Juli 2020," pungkasnya. (OL-4)

Baca Juga

Ray White

Ray White Kembali Raih Top Brand Award

👤RO 🕔Selasa 29 September 2020, 02:50 WIB
Penghargaan Top Brand Award dinilai berdasarkan hasil survei berskala nasional di bawah penyelenggaraan Frontier Consulting Group terhadap...
ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Pertamina Diproyeksikan Jadi Perusahaan Pembuat Baterai

👤Antara 🕔Selasa 29 September 2020, 02:30 WIB
Pertamina akan berubah dari BUMN energi yang menjual energi fosil menjadi energi baterai untuk kendaraan...
Antara/Puspa Perwitasari

Saham Bank Turun, Pengamat : Investor Asing Belum Yakin

👤Fetry Wuryasti 🕔Senin 28 September 2020, 21:30 WIB
Para investor asing tidak yakin dengan kondisi ekonomi Indonesia dalam enam bulan ke...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya