Selasa 01 September 2020, 11:59 WIB

Keluarga Jadi Ujung Tombak Pengentasan Stunting

Atalya Puspa | Humaniora
Keluarga Jadi Ujung Tombak Pengentasan Stunting

ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo
Petugas kesehatan memberi imunisasi dalam upaya pencegahan stunting di Puskesmas 1 Denpasar Selatan, Bali.

 

KELUARGA menjadi ujung tombak dalam melakukan langkah pencegahan stunting pada anak. Hal itu disampaikan Deputi Menteri PPPA Bidang Tumbuh Kembang Anak KPPPA Lenny N Rosalin.

"Keluarga menjadi pengasuh pertama dan utama. Untuk itu, kita harus melakukan yang terbaik untuk anak-anak yang kita cintai, itu jadi prinsip utama. Kita harus lakukan intervensi gizi agar anak hidup, tumbuh dan berkembang sehingga menjadi SDM yang berkualitas," kata Lenny dalam webinar bertajuk ASI dan Gizi Seimbang dalam Upaya Penurunan Stunting, Selasa (1/9).

Lenny menjabarkan, saat ini, terdapat 79,5 juta anak dari 81,2 juta keluarga. Adapun, terdapat 10% anak yang konsumsi kalori hariannya kurang dari batas normal yakni 1.400 kilo kalori/hari.

Baca juga: Imunisasi Anak Tetap Penting di Tengah Pandemi

"Konsumsi kalori hariannya kurang. Tapi berdasarkan data BPS pada 2019, uang yang dimiliki keluarga dialokasikan untuk pembelian beras 20%, rokok 12%, daging 4%, telur 4%. Bayangkan rokok menghabiskan lebih banyak dari belanja protein untuk anak," bebernya.

Untuk itu, Lenny meminta keterlibatan aktif masyarakat untuk melakukan pencegahan stunting mulai dari keluarga sendiri, mulai dari pemenuhan gizi hingga pemberian ASI eksklusif.

"Lokus intervensi dimulai keluarga sendiri, keluarga se-RT, keluarga se-RW, sedesa, sekecamatan, kita harus aktif lapor apabila ada kasus anak yang terlihat kurang gizi," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Ahli Gizi Tan Shot Yen mengungkapkan, stunting terjadi bukan hanya karena minimnya pemenuhan gizi setelah bayi lahir. Jauh dari itu, kebutuhan nutrisi ibu saat masa kehamilan menjadi faktor penting bagi pertumbuhan bayi.

"Tidak dilakukan inisiasi menyusui dini, anak tidak mendapatkan ASI eksklusif, ibunya percaya bahwa ASI saja tidak cukup, lalu ibunya tidak pede, dicampur makanan lain, susu lain selain ASI. Ini yang membuat tumbuh kembang anak jadi terganggu. Konfirmasi anaknya bisa stunting dan risiko anak bisa terkena penyakit tidak menular," bebernya.

Untuk itu, penting bagi ibu untuk memerhatikan asupan gizi selama masa kehamilan dan menyusui. Selanjutnya, setiap ibu juga harus menyadari bahwa pemberian ASI eksklusif memberikan banyak manfaat bagi anak dan ibu.

Di antaranya, anak yang sering disusui biasanya punya rasa aman, rasa puas, dan lebih tenang. Selain itu, kompsisi ASI pas dengan kebutuhan bayi, pasalnya ASI akan menyesuaikan dengan kebutuhan bayi.

"Kemudian bayi akan tehindar dari diare karena ASI steril. Selain itu, menyusui dapat melatih panca indera bayi hingga di kemudian hari anak memiliki kestabilan emosi yang baik," jelas Tan

"ASI juga dapat menurunkan risiko kegemukan dan alergi, dan ini yang tidak didapatkan dari susu formula," tandasnya. (OL-1)

Baca Juga

MI/Rifaldi Irianto

STP Trisakti Buka Program S3 Pariwisata

👤Bay/H-3 🕔Kamis 01 Oktober 2020, 05:15 WIB
Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti secara resmi membuka program doktor atau strata 3 (S-3) untuk program studi (prodi)...
ANTARA/Adnan

Gaya Hidup Masa Depan Utamakan yang Berkelanjutan

👤Ata/H-1 🕔Kamis 01 Oktober 2020, 05:00 WIB
VISI gaya hidup masyarakat ke depan sudah seharusnya mengarah pada prinsip sustainable atau berkelanjutan yang jika tidak dilakukan dapat...
 Medcom.id

RI Belajar dari Jepang Mitigasi Gempa Megathrust

👤Wan/X-11 🕔Kamis 01 Oktober 2020, 05:00 WIB
Jepang berhasil memitigasi bencana dengan memberlakukan protokol yang jelas mengenai apa yang harus dilakukan masyarakat saat bencana...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya