Selasa 01 September 2020, 06:00 WIB

Pertamina Pangkas Belanja

M Iqbal Al Machmudi | Ekonomi
Pertamina Pangkas Belanja

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Dirut PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati (kanan) mengikuti RDP dengan Komisi VII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, kemarin.

 

PT Pertamina (persero) telah melakukan berbagai kebijakan untuk menutup kerugi­an sebesar Rp11 triliun yang dialaminya pada Semester I 2020. Salah satunya ialah dengan memangkas belanja modal (capital expenditure atau capex) dan belanja operasional (operational expenditure atau opex).

Direktur Keuangan Pertamina, Emma Sri Martini, saat rapat dengar pendapat (RDP) Komisi VII DPR RI dengan Dirut PT Pertamina (persero) di Gedung DPR RI, Jakarta, kemarin, mengatakan Pertamina telah melakukan sembilan kebijakan agar tidak terus merugi.

Pertama, memotong opex hingga 30% setara dengan US$3 miliar dan mengefisiensikan capex 23% senilai US$1,7 miliar. Dengan begitu, jumlahnya setara dengan Rp70 triliun.

“Bagaimana menyelamatkan Pertamina agar tidak merugi terus? Beberapa langkah strategis akan dilakukan dan akan terus dilakukan. Pertama, sejak Maret lalu kita sudah melakukan efisiensi capex dan opex. Kita sudah melakukan pemotongan hal ini juga yang membuat kita survive,” kata Emma.

Kedua, menjaga produksi minyak dan gas untuk menekan impor, optimalisasi program Pertamina loyalty dan diskon untuk meningkatkan pendapatan, renegosiasi kontrak dengan mata uang asing untuk dibayar dengan rupiah.

“Kelima, efisiensi konsumsi energi dengan mengganti penggunaan refinery fuel dengan natural gas/PLN, menurunkan integrated port time untuk menurunkan beban pokok penjualan, transformasi digital untuk SPBU dan centralised procurement,” jelasnya.

Selanjutnya, inventory build-up dengan manajemen time to buy pada saat harga minyak rendah dan melakukan mitigasi risiko selisih kurs dan meningkatkan kinerja cash flow.

Pertamina mengalami kerugian Rp11 triliun pada semester I 2020 akibat wabah covid-19 yang menekan demand dan nilai rupiah turut melemah.

Emma juga menyebut ada tiga faktor yang menyebabkan BUMN migas tersebut merugi. Salah satunya karena turunnya penjualan BBM.

Emma menjelaskan bahwa volume penjualan BBM turun hingga 26% yang dimulai pada Januari 2020 turun hingga 7,50% dan Mei 7,05%. Penjualan mulai menunjukkan tren positif sejak Mei meski belum kembali ke normal. Masalah kedua ialah fluktuasi rupiah. “Terakhir, pelemahan ICP tertekan hingga level yang terendah pada April 2020 sebesar US$21 per barel,” pungkasnya. (Iam/E-3)

Baca Juga

Dok Mi

Beri Kepastian Hukum ke Pelaku Usaha, KCN Apresiasi Sri Mulyani

👤Abdillah M Marzuqi 🕔Selasa 29 September 2020, 10:25 WIB
Kalau tidak ada kepastian hukum, tandasnya, akan berdampak juga langsung terhadap investasi yang dilakukan pelaku...
ANTARA/Puspa Perwitasari

IHSG dan Rupiah Dibuka Menguat

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 29 September 2020, 09:48 WIB
Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 6,1 poin atau 0,81% ke di posisi...
ANTARA/Adwit B Pramono

Hari Ini, Jokowi akan Resmikan Tol Manado-Danowudu

👤Insi Nantika Jelita 🕔Selasa 29 September 2020, 09:41 WIB
"Peresmian jalan tol Manado-Bitung ruas Manado-Danowudu oleh Presiden RI Joko Widodo akan dilaksanakan secara virtual melalui live...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya