Senin 31 Agustus 2020, 04:48 WIB

Penguatan Karakter Di Ekosistem Pendidikan

Syarief Oebaidillah | Humaniora
Penguatan Karakter Di Ekosistem Pendidikan

Kemendikbud
Cerdas Berkarakter

 

SEBAGAI unit organisasi di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) tak lantas menunggu aba-aba untuk bergerak cepat. Untuk menunjang pelaksanaan program penguatan pendidikan karakter sebagai program prioritas Kemendikbud, Puspeka hadir untuk menyiapkan generasi bangsa yang cakap dalam menghadapi tantangan perkembangan era globalisasi melalui restorasi pendidikan karakter di sekolah, di lingkungan keluarga, maupun masyarakat.

Puspeka sendiri terbentuk berdasarkan Permendikbud Nomor 45 Tahun 2019 tentang Organisasi dan Tata Kerja (OTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagaimana telah diubah dengan Permendikbud Nomor 9 Tahun 2020 tentang OTK Kemendikbud.

“Penguatan karakter menjadi bagian dari program Presiden Joko Widodo yakni Gerakan Nasional Revolusi Mental. Dalam konteks Kemendikbud maka penguatan karakter harus disasar kepada satuan pendidikan, keluarga dan masyarakat yang dikenal sebagai ekosistem pendidikan,” kata Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemendikbud Hendarman di Jakarta, Sabtu (29/8).

Di era kepemimpinan Nadiem Anwar Makarim, di Kemendikbud terjadi perubahan dalam transformasi pembelajaran yakni dengan menggunakan pendekatan strategi komunikasi yang dimulai dari tahap menyadarkan, lalu tahap mengetahui, serta bergabung untuk menerapkan, kemudian mengajak orang lain berbuat yang sama. Di akhir adalah terjadinya pembiasaan atau habituasi.

Menyinggung masa pandemi covid-19 yang belum melandai dan melanda dunia pendidikan di Tanah Air, Hendarman menegaskan bahwa peran sekolah dan kampus untuk menguatkan karakter terkait Nasionalisme atau daya juang yang pantang menyerah menjadi penting. Pasalnya, berbagai dinamika global dan perubahan teknologi yang ditandai revolusi industri 4.0 dan berkembangnya masyarakat era
5.0 serta kemungkinan perubahan bidang-bidang pekerjaan yang mengarah kepada penggunaan informasi teknologi (IT).

“Karakter daya juang dan pantang menyerah menjadi suatu yang harus dibekali kepada siawa atau mahasiwa yang dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran di kelas atau ruang kuliah dengan kegiatan berbasis kelas, budaya sekolah atau kampus atau berbasis masyarakat,” Doktor jebolan IPB University ini.

Pengembangan karakter tersebut menjadi penting tidak hanya untuk guru atau dosen tetapi juga masyarakat sekitar dan orangtua. Menurut Hendarman, Puspeka Kemendikbud diberikan mandat untuk menyosialisasikan dan mengedukasi penguatan karakter secara khusus dan juga kebijakan-kebijakan terkait Merdeka Belajar yang dipadukan dengan nilai-nilai karakter.

Untuk itu, lanjut dia, yang digunakan adalah penggunaan media yang dipertimbangkan lebih efektif dan mudah dipahami anak-anak atau
generasi Z dan milenial, ketimbang menggunakan ceramah-ceramah dan metode yang menjadikan siswa cenderung sebagai obyek.

Media dimaksud dapat melalui kanal TV atau radio dan juga ILM atau video dan sejumlah moda lain. ”Puspeka lebih kepada penyediaan media- media bernilai karakter dengan merujuk kepada profil pelajar Pancasila yakni berakhlak mulia, kebinekaan global, bergotong-royong, mandiri dan nalar,” pungkas Hendarman.

Sarat pesan moral

Terkait pentingnya media dalam penguatan karakter sekaligus memperingati Hari Pramuka 14 Agustus dan menyambut Hari Kemerdekaan RI ke-75, belum lama ini Puspeka Kemendikbud menggelar acara nonton bareng (nobar) virtual yang berjudul Battle of Surabaya. Tema dari nobar virtual ini adalah Indonesia Bangkit, Indonesia Maju.

Hendarman, mengapresiasi acara ini sebagai terobosan guna menumbuhkan sikap mental yang tangguh seperti disiplin, berani, loyal, dan bertanggung jawab. Menumbuhkan rasa nasionalisme pada generasi muda; menghargai jasa para pahlawan bangsa; serta memahami makna dan arti kemerdekaan Indonesia.

Berkenaan dengan penguatan pendidikan karakter itu, Rektor Universitas Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (Amikom) Yogyakarta Prof Mohammad Suyanto, selaku produser dan penulis film Battle of Surabaya mengatakan alasannya untuk membuat film dengan latar belakang perang 10 November di Surabaya karena kuatnya pesan moral yang ingin disampaikan kepada generasi muda.

“Tidak ada (pihak) yang menang dalam peperangan, kita ingin dunia penuh kedamaian dan cinta. Sosok Musa dalam film ini merupakan cerminan orang yang lebih mementingkan orang lain untuk berbagi dan berkasih sayang ketimbang kepentingan dirinya,” ujar Suyanto kepada Media Indo- nesia.

Film Battle of Surabaya yang bergenre animasi itu dipilih dan dinilai paling sesuai dengan karakteristik penonton muda. Harapannya melalui animasi, nilai-nilai positif tentang penguatan karakter dapat tersampaikan dengan baik, meski di tengah pandemi covid-19.

Selain itu, film animasi ini merupakan karya anak bangsa yang berlatar belakang sejarah perang di Surabaya tahun 1945 dan sudah memenangi 40 penghargaan internasional. Film ini juga mempunyai nilai-nilai sejarah yang terkandung didalam karakter tokoh-tokohnya yang mempunyai sifat semangat juang yang tinggi. (H-1)

Baca Juga

MI/Rudi Kurniawansyah

Erick Pastikan Harga Avigan Murah karena Diproduksi Sendiri

👤Insi Nantika Jelita 🕔Selasa 22 September 2020, 21:50 WIB
Erick menyebut, untuk jenis obat covid-19 lainnya seperti oseltamivir belum bisa dipatok dengan harga murah karena...
Antara/FB Anggoro

Klaster Perkantoran Bukti Penerapan Protokol Kesehatan Masih Lemah

👤Andhika Pasetyo 🕔Selasa 22 September 2020, 21:01 WIB
Jika ternyata terjadi penularan di lingkunga kerja, pelaku usaha harus berani menyampaikan kepada dinas kesehatan setempat dan segera...
Antara/Rivan Awal lingga

Aturan Pemerintah soal Kebiri Kimia Bakal Segera Terbit

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Selasa 22 September 2020, 20:14 WIB
“Saat ini RPP kebiri sedang dalam proses penetapan di Setneg (Sekretariat...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya