Minggu 30 Agustus 2020, 01:15 WIB

Online Learning dan Kesehatan Mental

Jesica Ery | Weekend
Online Learning dan Kesehatan Mental

MI/Duta

PANDEMI covid-19 telah membawa perubahan besar terhadap aktivitas dan perilaku masyarakat dunia.

Sayangnya, perubahan tersebut tidak melulu berdampak positif, terutama dalam hal kesehatan mental. Kematian, physical distancing, dan kejenuhan selama pandemi menghantui keseharian masyarakat.

Pandemi covid-19 secara khusus membawa dampak nyata terhadap mahasiswa fakultas kedokteran yang harus melakukan online learning atau pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Beberapa dampak itu diungkapkan dalam penelitian M Czeisler dan kawan-kawan tentang dampak karantina pada kesehatan mental dan perilaku belajar mahasiswa kedokteran (mental health, substance use, and suicidal ideation during the covid-19 pandemic) di Amerika Serikat, 24-30 Juni 2020.

Riset itu mengemukakan, mahasiswa merasa dampak dari karantina membuat mereka terpisah secara emosional dari keluarga dan teman serta menurunnya kinerja dan waktu belajar.

Menurut penelitian tersebut, 23,5% mahasiswa kedokteran merasa depresi dan putus asa. Penelitian lain yang dilakukan S Abbasi dan kawan-kawan di Liaquat College of Medicine and Dentistry Pakistan dalam Perceptions of Students Regarding E-Learning During Covid19, menyatakan, mahasiswa di sana tidak lebih memilih pembelajaran e-learning daripada pembelajaran tatap muka selama lockdown.

Berangkat dari hasil penelitian-penelitian tersebut, kami mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atmajaya Jakarta semester 7 sekaligus peserta blok Ilmu Pendidikan Kedokteran (IPK) juga melakukan survei singkat kepada 182 mahasiswa kedokteran angkatan 2017, pada 15-16 Agustus 2020, melalui kuesioner.

Survei itu antara lain untuk mengetahui apakah selama PJJ, para responden merasa cemas, stres, dan depresi. Kemudian pertanyaan lain terkait dengan identitas diri. Responden kemudian juga diminta memberikan penjelasan panjang atas gejala yang mereka alami.

Hasilnya, terdapat 55 responden yang mengisi kuesioner. Sebanyak 40 di antara mereka (22%) mengakui mengalami masalah kesehatan mental. Di antara mereka ada 23 merasa cemas, 32 merasa cemas dan stres, dan 4 merasakan gejala ketiganya, yakni cemas, stres, dan depresi.

“Tugas selalu muncul tibatiba, bahkan di luar jam kuliah. Pernah saat saya mau tidur pukul 22.00 atau 23.00 WIB, tiba-tiba tugas muncul dan harus dikerjakan saat itu juga karena deadline pukul 04.00,” kata salah satu responden berinisial A Semenjak PJJ, lanjutnya, semua serbadigital.

Hal itu membuat dosen bahkan teman-teman semakin tidak tahu waktu kapan harus istirahat dan kapan harus bekerja atau belajar.

“Karena hal tersebut, saya merasa kurang istirahat, screen time saya juga bertambah semenjak PJJ. Hal ini membuat saya hanya tidur 3-4 jam sehari dan hal tersebut menurut saya memicu depresi,” jelas responden A dalam kuesionernya.


Kebosanan sebabkan stres

Setelah mengolah data hasil survei, kelompok kami mewawancarai psikiater dr Mahaputra SpKJ, Selasa (18/8). Menurutnya, ada tiga hal yang dapat menyebabkan mahasiswa mengalami masalah mental saat online learning.

Pertama, mahasiswa merasa seperti terjebak dalam rumah. Rasanya seperti tidak ada kesempatan untuk keluar rumah, terutama pada saat pembatasan sosial berskala besar (PSBB) awal. Jadi, kebosanan yang terjadi lambat laun menciptakan stres.

Kedua, perbedaan ketika kuliah tatap muka langsung dan saat pembelajaran jarak jauh. Keberadaan bertemu empat mata jauh lebih membuat pesertanya merasa lebih terhubung jika dibandingkan dengan hanya bertemu melalui layar. Kemudian, ketiga, karena takut akan penyakit covid-19.

“Online learning memang melelahkan dan menjadi sebuah tantangan baru untuk kita semua. Beberapa orang mungkin merasa lebih lelah ketimbang biasanya karena rasanya seperti tidak ada celah untuk bernapas,” ujarnya.

Namun, tambah Mahaputra, coba lihat kembali apa yang dapat kita lakukan sekarang. Oleh karena itu, kita harus sama-sama berjuang, baik dari mahasiswa maupun dosen.

Tidak ada yang menginginkan covid-19 terjadi sehingga kita harus mendukung satu sama lain untuk kuat menghadapi perubahan baru. Jangan saling menuntut dan harus saling memahami. Musuh utama bukanlah online learning-nya, melainkan pandeminya. (M-2)
 

Baca Juga

Unsplash/ Craig McLachlan

Benarkah Memakai Kacamata Menghindari Tertular Covid-10?

👤Fathurrozak 🕔Sabtu 19 September 2020, 19:05 WIB
Peneliti Tiongkok menemukan orang-orang yang memakai kacamata tampak memiliki risiko lebih rendah untuk tertular...
Dok. Instagram @oliviawilde

Olivia Wilde Dikabarkan Sutradarai Film Marvel

👤MI Weekend 🕔Sabtu 19 September 2020, 18:55 WIB
Dalam film itu dikabarkan juga akan menampilkan karakter Spider...
 VALERIE MACON/AFP

Kehadiran Minivan ini Bantu Siswa Peroleh Akses Internet

👤Adiyanto 🕔Sabtu 19 September 2020, 17:16 WIB
Kehadiran mobil tersebut untuk membantu ratusan siswa yang kurang beruntung dalam mengatasi pembelajaran jarak jauh selama pandemi virus...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya