Sabtu 29 Agustus 2020, 13:58 WIB

Ini Korelasi Tidur dengan Nafsu Makan

Bagus Pradana | Weekend
Ini Korelasi Tidur dengan Nafsu Makan

Unsplash.com
Tidur

RAPID Eye Movement (REM) kadang juga disebut sebagai tahap 'paradoks' dalam tidur, karena dalam aktivitas  ini terdapat kesamaan dengan aktivitas ketika otak masih bangun. Fase ini juga merupakan fase di mana sebagian besar mimpi kita terjadi.

Ketika dalam fase REM, aktivitas listrik tingkat tinggi akan mengalir ke beberapa bagian dalam otak termasuk di area yang berfungsi untuk mengatur memori atau emosi. Salah satu bagian yang dialiri adalah bagian hipotalamus yang terletak di dasar otak. Para ahli menyebutkan bagian ini memegang fungsi vital sebagai pengontrol nafsu makan, persepsi nyeri, hingga kontrol suhu dalam tubuh.

Penelitian terbaru tentang fungsi hipotalamus ini dilakukan oleh Lukas Oesch dari Inselspital University Hospital Bern, Swiss. Dilansir Dailymail.co.uk, Sabtu (29/8), Oesch menemukan pola aktivitas spesifik dari neuron hipotalamus lateral yang mengontrol rasa lapar seseorang, yang ternyata juga bekerja saat seseorang sedang memasuki fase REM dalam tidurnya. 

Dalam eksperimennya terhadap tikus, tim peneliti yang ia pimpin kemudian mencoba mematikan aktivitas neuron hipotalamus lateral tersebut melalui teknik 'optogenetika' saat tikus tertidur. Eksperimen tersebut berhasil memanipulasi pola makan tikus, sehingga tikus makan lebih sedikit saat bangun.

"Kami terkejut ternyata intervensi yang kami lakukan terhadap tikus percobaan kami ternyata dapat memengaruhi aktivitas saraf di hipotalamus lateral-nya yang kemudian menyebabkan perilaku makan tikus tersebut berubah," ungkap Oesch.

Penemuan ini membuktikan bahwa aktivitas hipotalamus selama fase REM ini sangat berpengaruh terhadap kestabilan perilaku makan dari mamalia (termasuk manusia) terlebih lagi, aktivitas ini dapat diintervensi dengan mudah dibentuk.

"Penemuan ini menunjukkan bahwa fase tidur REM ternyata sangat diperlukan untuk menstabilkan asupan makanan," ujar ahli saraf Antoine Adamantidis dari University of Bern yang juga terlibat dalam penelitian ini.

Menurut para peneliti penemuan yang juga telah dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini bahkan dapat dikembangkan sebagai jenis terapi baru untuk mengobati gangguan makan dan juga berbagai kecanduan terhadap kebiasaan tertentu. (M-1)

Baca Juga

Unsplash/ Tierra Mallorca

Tiga Hal yang Harus Dilakukan Bila Tak akan Miliki Dana Pensiun

👤Putri Rosmalia 🕔Sabtu 26 September 2020, 17:35 WIB
Tempat tinggal, kebutuhan harian, dan jaminan kesehatan harus direncanakan sejak...
Dok. Instagram @maquinnofficial

Label Adibusana asal Surabaya ini Tampil Milan Fashion Week

👤Putri Rosmalia 🕔Sabtu 26 September 2020, 16:45 WIB
Maquinn Couture yang berbasis di Surabaya ini akan menghadirkan karya akulturasi budaya Indonesia dan...
YouTube DSS Music

Jazz Gunung Virtual Concert, Kolaborasi untuk Negeri

👤Bagus Pradana 🕔Sabtu 26 September 2020, 15:18 WIB
Acara ini sekaligus menjadi konser pembuka 'Road to Jazz Gunung Series' yang akan diselenggarakan di empat destinasi wisata gunung...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya