Selasa 25 Agustus 2020, 15:45 WIB

Seekor Macan Tutul Dilepasliarkan di Gunung Sawal Ciamis

Adi Kristiadi | Humaniora
Seekor Macan Tutul Dilepasliarkan di Gunung Sawal Ciamis

MI/Adi Kristiadi
Macan tutul jawa yang tertangkap pada Juni lalu, dilepasliarkan kembali di kawasan Gunung Sawal, Kab.Ciamis (25/8/2020)

 

SEEKOR macan tutul jawa (Panthera Pardus) yang tertangkap warga di wilayah kaki Gunung Sawal, tepatnya di Desa Cikupa, Kecamatan Lumbung, Kabupaten Ciamis, dilepasliarkan kembali di Blok Pasirtamiang, kawasan Suaka Margasatwa Margasatwa Gunung Sawal, Desa Pasirtamiang, Kecamatan Cihaurbeuti, Selasa (25/8).

Macan tutul jantan tersebut memiliki panjang 2 meter, diperkirakan berumur 11 tahun telah kembali ke habitatnya setelah sebelumnya dirawat di Bandung Zoological Garden. Sebelumnya, macan tersebut terperangkap jebakan besi yang sengaja dipasang oleh warga pada Kamis (25/6).

"Macan tutul saat dibawa ke Bandung, kondisi itu stres hingga si Abah juga sudah dipastikan layak untuk dilepasliarkan kembali ke asalnya tetapi sempat jadi perdebatan. Akan tetapi, di Gunung Sawal juga akan ada pihak-pihak yang menangkapnya lagi karena adanya beberapa pihak yang menyarankan agar macan tutul itu dilepasliarkan ke habitat lain atau dirawatnya di kebun binatang, mengingat usianya sudah cukup tua," kata Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Ammy Nurwati, Selasa (25/8)

Ammy mengatakan, pihaknya juga telah memperhitungkan kondisi satwa liar dan diputuskannya kembali dilepasliarkan di Gunung Sawal. Karena, kalau di lokasi lainnya butuh adaptasi lama. Dengan dilepasliarkan ini supaya bisa tetap survive dan menambah populasi dan juga masih bisa reproduksi.

"Kami mengingatkan tugas seluruh elemen masyarakat untuk ikut menjaga kondisi lingkungan di sekitar Gunung Sawal. Edukasi kepada masyarakat jangan berhenti agar merasa bangga dengan macan tutul yang ada di kawasan tersebut. Ada macan tutul berarti ekosistem bagus," ujarnya.

Macan tutul tersebut, jelas dia, sudah dua kali tertangkap warga. Pertama, pada tahun 2018 dan pada Juni 2020. Kedua peristiwa tersebut karena warga sengaja memasang perangkap.

"Kalau dari aspek ekologi, pakan tersedia dan predator bisa survive dan aspek sosialnya dari analisis kami, harus secara intensif dialog untuk edukasi supaya warga di sekitar Gunung Sawal bisa merasa bangga memiliki macan tutul dan bukan justru ditangkap," pungkasnya. (OL-13)

Baca Juga: Macan Tutul Jawa Tertangkap lagi di Ciamis

 

Baca Juga

Istimewa

Opung Pilih Jalan Santai supaya Tetap Bugar

👤Suryani Wandari Putri Pertiwi 🕔Kamis 26 November 2020, 09:05 WIB
Olahraga bagi kaum lansia sangat penting, apa pun bentuknya. Yang penting durasi latihannya 150 menit per...
DOK BPJAMSOSTEK

BPJAMSOSTEK Raih 2 Penghargaan Digital Marketing & Human Capital

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 26 November 2020, 08:58 WIB
Dua trofi penghargaan yang diterima langsung oleh Naufal Mahfudz ini tentunya menjadi pelengkap prestasi yang diraih BPJAMSOSTEK di...
DOK KLHK

SIMONTANA KLHK Raih Top 45 Inovasi Pelayanan Publik 2020

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 26 November 2020, 08:53 WIB
Menteri LHK, Siti Nurbaya di Jakarta (25/11/2020) mengungkapkan kegembiraannya setelah mendapat kabar SIMONTANA berhasil masuk Top 45...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya