Sabtu 15 Agustus 2020, 19:20 WIB

Penanganan Dini Kunci Sukses Atasi Trauma Mata

Eni Kartinah | Humaniora
Penanganan Dini Kunci Sukses Atasi Trauma Mata

AFP/Mohammed Huwais
Ilustrasi operasi mata yang dilakukan di sebuah rumah sakit.

 

INDONESIA salah satu negara berkembang dengan kejadian trauma mata atau ophthalmic trauma yang masih sering dijumpai. Trauma mata berpotensi terjadi kapan saja dan tak bisa diantisipasi karena berlangsung secara tiba-tiba.

“Trauma mata merupakan kondisi yang dapat merusak kelopak mata, tulang orbita atau dinding bola mata, bola mata, dan syaraf mata akibat benturan keras benda tajam atau tumpul pada area sekitar mata, serta dapat disebabkan juga oleh trauma panas, radiasi dan trauma kimia,” papar dr. Yunia Irawati, SpM(K), Ketua Ophthalmic Trauma Service JEC.

“Dampak kerusakan dapat terlihat dan dirasakan seketika setelah kejadian ataupun berlangsung secara lambat,” kata Yunia pada webinar tentang ophthalmic trauma dengan tema ‘Overcoming the Challenges in Ophthalmic Trauma’ yang diadakan JEC Eye Hospitals and Clinics di Jakarta, Sabtu (15/8).

Pada individu yang mengalami trauma mata ringan, seperti kelilipan atau menggosok-gosok mata, acapkali tidak segera memeriksakan diri karena merasa penglihatannya tidak terganggu.

 “Padahal, pengaruh pada penglihatan bisa jadi baru muncul beberapa hari setelah kejadian,” jelas Yunia pada webinar yang bekerja sama dengan Asia Pacific Ophthalmic Trauma Society (APOTS) dan termasuk dalam rangkaian APOTS Webinar (the 4th APOTS Webinar).

Lebih lanjut Yunia menjelaskan trauma pada mata atau ophthalmic trauma berisiko menurunkan tingkat penglihatan secara tajam, bahkan hingga kebutaan dan lebih lanjut berdampak pula pada berkurangnya kualitas hidup dan produktivitas penderita.

“Artinya, dampak trauma mata tidak hanya dirasakan penderita, tetapi juga keluarga. Penanganan sedini mungkin dan menyeluruh menjadi kunci,” tuturnya.

Menurut Yunia, secara umum, ophthalmic trauma terbagi ke dalam dua kategori. Pertama, trauma tertutup (closed-globe injury), yaitu terjadinya kerusakan intraokuler meskipun dinding bola mata (sklera dan kornea) tidak mengalami luka terdiri atas contusio (kerusakan pada lokasi benturan), dan laserasi lamellar (luka yang tidak sepenuhnya menembus lapisan sklera dan kornea).

Kedua, trauma terbuka (open-globe injury), yakni terjadinya luka yang menembus seluruh lapisan dinding mata; terdiri atas: ruptur (luka pada dinding bola mata akibat benda tumpul, disebabkan meningkatnya tekanan intraokuler secara tiba-tiba melalui mekanisme inside-out), dan laserasi (luka pada dinding mata akibat benda tajam, disebabkan mekanisme luar ke dalam atau outside-in.

“Trauma juga dapat diakibatkan oleh panas, radiasi dan zat-zat kimia. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai setelah area mata mengalami benturan, antara lain pandangan buram mendadak, pendarahan, nyeri pada area bola mata, mata terlihat merah, gerakan bola mata terhambat, dan mata terasa mengganjal,” jelas Yunia.

Menurut Yunia, kasus trauma mata tidak selalu berdampak pada bagian mata yang mengalami benturan, tetapi juga pada jaringan di sekitarnya. Penanganan trauma mata yang JEC tawarkan melalui Ophthalmic Trauma Service mengimplementasikan sistem yang komprehensif, mulai diagnosis hingga tatalaksana, serta tahap pemantauan dan rehabilitasi pasca tindakan, untuk mengantisipasi risiko dampak hingga penanganan pasien berlangsung tuntas.

Sementara itu, terkait webinar tentang ophthalmic trauma dengan tema ‘Overcoming the Challenges in Ophthalmic Trauma’, dr. Johan A Hutauruk, SpM(K), Presiden Direktur JEC Korporat mengatakan webinar ini juga termasuk dalam rangkaian APOTS Webinar (the 4th APOTS Webinar) yang melibatkan narasumber dan moderator dari 9 negara: Amerika Serikat, Australia, Singapura, Malaysia, India, Pakistan, Taiwan, Nepal, dan tentunya Indonesia..

Selama pandemi Covid-19, sepanjang Mei-Agustus 2020, JEC telah menjalankan sepuluh seri webinar dengan jumlah keikutsertaan hingga lebih dari 11.500 partisipan dari seluruh Indonesia.

“Tidak hanya memberikan pelayanan klinis berkualitas dan penerapan teknologi mutakhir, JEC Eye Hospitals and Clinics juga berupaya mengimplementasikan misi kami untuk mengembangkan kompetensi dokter dan staf melalui riset dan pendidikan,” kata Johan.

“Sebab, JEC memahami betul, bahwa untuk meningkatkan kualitas kesehatan mata masyarakat Indonesia sekaligus menurunkan angka kebutaan, perlu adanya dukungan kebersamaan dan semangat untuk maju dari berbagai kalangan, utamanya para praktisi kesehatan mata,” paparnya.

Di tengah pandemi Covid-19, keselamatan dan kenyamanan pasien tetap menjadi concern utama JEC. Di seluruh cabangnya, JEC tegas menjalankan protokol kesehatan sesuai imbauan pemerintah sehingga pasien tidak perlu khawatir ketika berkunjung. Terlebih bagi pasien yang mengalami ophthalmic trauma dan membutuhkan penanganan segera. (Eni/OL-09)  

 

Baca Juga

AFP/Adek Berry

Catatan Sejarah tentang Covid-19 dan Virus Lain

👤Wisnu AS 🕔Senin 28 September 2020, 07:08 WIB
Meskipun demikian, sejauh ini penyakit itu tidak lebih mematikan daripada flu Spanyol seabad...
Medcom.id

Tidak Ada Perubahan Kurikulum hingga 2021

👤Bay/Aiw/PO/X-7 🕔Senin 28 September 2020, 05:30 WIB
Beberapa yang sudah mulai masuk pembahasan ialah peningkatan kualitas guru dan implementasi mata pelajaran sejarah agar lebih bermakna....
Medcom.id

Vaksin Johnson & Johnson Perlihatkan Respons Kekebalan

👤Bernama/Hym/Wan/X-6 🕔Senin 28 September 2020, 05:21 WIB
Dosis tunggal Ad26.COV2.S menimbulkan respons humoral yang kuat di sebagian besar penerima...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya