Sabtu 15 Agustus 2020, 07:26 WIB

Merasa Ditikam, Palestina Tolak Kesepakatan UEA-Israel

Haufan HAsyim Salengke | Internasional
Merasa Ditikam, Palestina Tolak Kesepakatan UEA-Israel

AFP/Mohammed Abed
Warga Palestina memprotes kesepakatan normalisasi antara UEA dan Israel

 

PALESTINA mengaku kaget atas pengumuman kesepakatan antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Israel untuk menormalisasi hubungan seperti yang disampaikan Presiden AS Donald Trump.

Kesepakatan itu menjanjikan normalisasi penuh hubungan antara kedua negara di bidang keamanan, pariwisata, teknologi, dan perdagangan sebagai imbalan untuk menangguhkan rencana aneksasi Israel di Tepi Barat. Palestina pun dengan tegas menolak kesepakatan tersebut.

"Kami sama sekali tidak memiliki pengetahuan sebelumnya tentang perjanjian ini. Kesepkatan ini begitu cepat dan mengejutkan, terjadi di saat Palestina sedang berjuang," kata menteri urusan sosial Otoritas Palestina (PA) Ahmed Majdalani.

Mantan menteri PA Munib al-Masri menambahkan, Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, yang memerintah Abu Dhabi selama lebih dari 30 tahun sebelum kematiannya pada 2004, selalu menjadi pendukung kuat Palestina.

"Almarhum Sheikh Zayed adalah saudara tersayang bagi saya, saya tahu betapa dia bangga atas dukungannya untuk Palestina. Saya tidak pernah membayangkan dalam hidup saya, akan melihat UEA menjual orang-orang Palestina demi kepentingan normalisasi, " kata al-Masri.

"Ini sangat memalukan. Aku tidak percaya sampai sekarang," imbuhnya.

Baca juga: Palestina Sebut Kesepakatan Damai Israel dan UAE Pengkhianatan

Pejabat Palestina lainnya mengatakan, berita yang datang secara tiba-tiba itu tidak terlalu mengejutkan.

"Kami tidak terlalu terkejut karena tentara Emirat tidak pernah berada di perbatasan siap untuk memerangi Israel," kata pemimpin Prakarsa Nasional Palestina (PNI) dan anggota parlemen PA Mustafa al-Barghouti.

PA dan semua faksi Palestina, termasuk Hamas dan Jihad Islam, mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam perjanjian UEA-Israel. Para pemimpin Palestina yang berbicara dengan Al Jazeera menyebutnya sebagai 'tikaman dari belakang'.

"Kami memang sudah tahu telah terjadi normalisasi di bawah meja, tetapi dengan meresmikan dan melegalkannya seperti ini pada saat kritis ini sungguh mengejutkan. Itu merupakan tikaman di punggung kami dan punggung semua bangsa Arab," kata  mantan Menteri sosial PA Majida al-Masri.(Al Jazeera/OL-5)

Baca Juga

AFP

Presiden Azerbaijan Beri Peringatan Keras Atas Serangan Armenia

👤Antara 🕔Senin 28 September 2020, 05:53 WIB
Presiden  Azerbaijan Ilham Aliyev mengeluarkan peringatan keras atas provokasi militer berskala besar oleh tentara Armenia di garis...
AFP

Madrid Berisiko Serius tanpa Aturan yang Lebih Ketat

👤MI 🕔Senin 28 September 2020, 00:35 WIB
PEMERINTAH Spanyol mendesak pihak berwenang di Madrid untuk memperketat aturanaturan pembatasan virus korona...
Dok. Istimewa

Indonesia Bantah Tuduhan Vanuatu di Dewan HAM PBB

👤Haufan Hasyim Salengke 🕔Senin 28 September 2020, 00:10 WIB
INDONESIA menolak tegas pernyataan delegasi Vanuatu pada sesi pembahasan Dialog Interaktif (Interactive Dialogue) dengan Pelapor Khusus...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya