Jumat 14 Agustus 2020, 07:28 WIB

Manufaktur Rebound di Triwulan III

Hilda Julaika | HUT RI
Manufaktur Rebound di Triwulan III

ANTARA/M RISYAL HIDAYAT
Pekerja memproduksi alat pelindung diri di salah satu perusahaan garmen di Jakarta, Rabu (1/7).

 

BUKAN tanpa alasan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal membaik di triwulan III 2020. Ia pun amat meyakini sektor manufaktur akan berkontribusi paling besar dalam pertumbuhan itu.

“Saya amat yakin triwulan III ini akan rebound,” kata Menperin lewat keterangan resminya.

Keyakinannya itu berangkat dari digelontorkannya berbagai stimulus kepada pelaku industri, bukan cuma pabrikan besar, melainkan juga sektor industri kecil menengah (IKM) guna menggairahkan kembali kinerja mereka.

“Pemerintah sudah menggulirkan berbagai macam stimulus untuk dunia usaha, bahkan yang terbaru kami telah mengusulkan untuk penghapusan biaya minimum listrik 40 jam nyala bagi industri. Khusus untuk sektor industri, kami menyiapkan adanya stimulus khusus modal kerja yang dapat dinikmati sektor industri, termasuk bagi pelaku IKM,” katanya.

Agus menyatakan pihaknya bakal terus memantau dan mendorong semaksimal mungkin agar stimulus-stimulus yang telah diberikan pemerintah kepada sektor industri dapat segera terealisasi dan terasa manfaatnya.

“Kami juga akan menjaga momentum peningkatan purchasing managers’ index (PMI) manufaktur Indonesia agar bisa kembali menembus level 50,0 pada triwulan III 2020,” imbuhnya.

Pihaknya tengah berupaya adanya stimulus tambahan yang bisa mendorong tingkat utilisasi pabrik. Saat ini, stimulus tambahan tengah dibahas pembahasan bentuk dan mekanismenya.

“Soal stimulus tambahan masih dalam pembahasan. Utilisasi pabrik secara nasional masih 51%. Kalau bisa kita dorong dengan stimulus tambahan. Tentunya bisa menaikkan PMI kita yang saat ini sudah meningkat menjadi 46,9,” ujar Achmad.

Merujuk hasil survei yang dirilis IHS Markit, PMI manufaktur Indonesia pada Juli 2020 berada di level 46,9 atau naik jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya di level 39,1. Peningkatan indeks itu juga menunjukkan tingginya kepercayaan bisnis terhadap kondisi pasar yang lebih normal.

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), terjadinya kontraksi 5,74% pada industri pengolahan nonmigas pada triwulan II 2020 disebabkan dampak wabah covid-19.

Sementara itu, di periode yang sama, perekonomian Indonesia tumbuh minus 5,32% secara tahunan (yoy).

Di triwulan II 2020, sektor industri memberi kontribusi terbesar pada struktur produk domestik bruto (PDB) nasional dengan mencapai 19,87%.

Stimulus ekstra

Pada Juli lalu, Kementerian Keuangan menerbitkan beleid penjaminan kredit modal kerja untuk sejumlah sektor korporasi yang menjadi prioritas. Tak banyak yang masuk prioritas karena yang dipilih ialah sektor yang berorientasi padat karya.

“Kredit yang dijamin adalah 60% pemerintah dan 40% perbankan. Untuk sektor prioritas, pemerintah memberikan penjaminan lebih besar, yaitu 80% dan 20% perbankan,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Pelaku usaha korporasi yang masuk prioritas itu ialah sektor pariwisata, otomotif, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, elektronik, kayu olahan, furnitur, dan produk kertas.

Pemerintah melibatkan 15 bank yang berpartisipasi dalam penjaminan kredit modal kerja itu, yakni BNI, BRI, BTN, Bank Mandiri, Bank Danamon, Bank DKI, Bank HSBC, Bank ICBC Indonesia.

Kemudian, Maybank Indonesia, Bank MUFG Indonesia, Bank Resona Perdania, Standard Chartered Bank Indonesia, UOB Indonesia, BCA, dan DBS Indonesia.

Besaran tambahan kredit modal kerja yang dijamin bernilai Rp10 miliar hingga Rp1 triliun.

Pemerintah menanggung pembayaran imbal jasa penjaminan (IJP) sebesar 100% atas kredit modal kerja sampai dengan Rp300 miliar dan 50% untuk pinjaman dengan plafon Rp300 miliar sampai Rp1 triliun.

Skema penjaminan direncanakan berlangsung hingga akhir 2021 dan diharapkan dapat menjamin total kredit modal kerja yang disalurkan perbankan hingga Rp100 triliun.

Mulai berdenyut

Saat dihubungi di kesempatan terpisah, Marketing Director dan Corporate Planning & Communication Director PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Amelia

Tjandra mengatakan industri otomotif mulai menunjukkan adanya tren peningkatan sedikit demi sedikit. Perusahaannya mencatat pada Juni 2020, penjualan dari diler ke konsumen mencapai 5.558 unit atau meningkat dari 3.673 unit pada Mei sebelumnya.

“Operasional di pabrik PT ADM sudah siap untuk kembali menambah produksi kendaraan guna memenuhi kebutuhan pelanggan,” tandas Amelia.

Pada Juli 2020, PT ADM telah mulai membuat persiapan untuk melakukan produksi dua sif agar tetap mengikuti protokol kesehatan. Realisasi produksi dua sif sejak awal Agustus 2020, baik di pabrik Sunter (Jakarta) maupun Karawang (Jawa Barat).

“Kami bersyukur, pasar mobil mulai menunjukkan peningkatan,” kata Amelia. (Ant/E-2)

Baca Juga

Ist/Prambors

Rayakan 75 Tahun Indonesia, Prambors Bagi-bagi Sepeda Setiap Hari

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 19 Agustus 2020, 15:15 WIB
Sebagai radio anak muda, Prambors menghadirkan sebuah campaign bertajuk Mendadak Sepedahan untuk membagikan sepeda secara gratis pada bulan...
Antara/Akbar Nugroho Gumay

Semangat untuk Maju di 75 Tahun Kemerdekaan

👤Dero Iqbal Mahendra 🕔Rabu 19 Agustus 2020, 08:48 WIB
Presiden kelima Indonesia Megawati Soekarnoputri mengingatkan kepada seluruh generasi muda agar terus memiliki keyakinan dan harapan...
Ist

Gelar Merdeka Berhasanah, BNI Syariah Tebar Promo dan Diskon

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 18 Agustus 2020, 09:32 WIB
Khusus untuk pengguna kartu kredit syariah BNI iB Hasanah Card, BNI Syariah menawarkan berbagai promo diskon, caschback, dan juga...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya