Jumat 14 Agustus 2020, 06:41 WIB

Mendag Fokus Jaga Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi

Gan/S3-25 | HUT RI
Mendag Fokus Jaga Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi

Dok Kemendag
Menteri Perdagangan Agus Suparmanto

 

KEMENTERIAN Perdagangan (Kemendag) serius menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi covid-19. Setidaknya ada enam hal mendasar yang terus dilakukan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional di era new normal.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyampaikan sebagai salah satu negara dari 200 negara yang terserang virus covid-19, pertumbuhan ekonomi Indonesia ikut terimbas. Bersama kementerian dan lembaga lainnya, Kemendag mengambil langkah untuk memperkuat kebijakan dan membuat berbagai terobosan yang lebih sistematis dan terpadu.

“Setidaknya ada 6 hal mendasar yang sedang dan terus dilakukan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional di era new normal,” kata Agus dalam keterangan resmi yang diterima, Kamis (13/8).

Agus menjelaskan pertama, strategi Kemendag untuk mengerem laju penurunan kinerja di sektor perdagangan yang terus melemah akibat dampak pandemi covid-19. Terutama pada poin peningkatan ekspor, pengelolaan impor, dan penguatan pasar domestik.

Kedua, strategi peningkatan sejumlah perjanjian dagang internasional baik yang sudah berjalan maupun yang masih dibahas serta efek positif dan negatif terhadap perekonomian nasional. Ketiga, melakukan kebijakan terobosan pengamanan pasar dalam negeri yang selama pandemi turut menurunkan kinerja sektor ritel.

Keempat, peningkatan pengawasan perdagangan berjangka komoditas. Kelima, kebijakan antisipatif Kemendag terkait dengan babak baru
perang dagang AS-China yang masih berpotensi memanas. Keenam, langkah-langkah yang ditempuh dalam mendorong kembali gairah sektor usaha di dalam negeri. Keenam kebijakan akselerasi ini diharapkan dapat menahan ekonomi nasional agar tidak terjerembab ke jurang resesi bahkan bisa mengerek pertumbuhan ekonomi nasional.

Mendorong sektor usaha

Agus Suparmanto melanjutkan sejak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan, nyaris semua usaha di dalam negeri seolah berhenti. Sektor ritel terutama pusat perbelanjaan bahkan tidak beroperasi. “Memasuki new normal, kami mulai menggerakkan sektor usaha agar terus bisa beroperasi. Gairah usaha terus dibangkitkan,” kata dia.

Ia mengatakan bersama pemerintah daerah, Kemendag telah membuka Pusat Perbelanjaan di era normal baru dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan yang ketat untuk menjaga keselamatan masyarakat.

“Sejak awal masa PSBB, kami tetap menghimbau agar pasar rakyat tetap buka dengan protokol kesehatan ketat. Penerapan protokol kesehatan terutama di pasar rakyat harus diterapkan demi kelangsungan dan peningkatan pertumbuhan ekonomi. Kami juga terus fokus dengan pembangunan/revitalisasi pasar rakyat, sebagai salah satu pusat kegiatan ekonomi masyarakat. Pasar rakyat diharapkan dapat menggerakkan perekonomian sektor riil di daerah,” tegas Agus.

Agus mengatakan Kemendag juga mendukung Revolusi Industri 4.0 dan Ekonomi Digital, dengan mendorong upaya digitalisasi pasar rakyat yang menerapkan pembayaran retribusi pasar secara elektronik (e-retribusi) dan mendorong pedagang pasar melakukan transaksi tidak hanya secara langsung di pasar tapi juga secara daring. Kemendag juga bekerja sama dengan laman pemasaran dan penyedia jasa transportasi online.

“Di tengah masa pandemi yang penuh tantangan, sesuai arahan Presiden, kami terus berkomitmen memulihkan perekonomian nasional bersama dengan seluruh kementerian/lembaga terkait. Kemendag juga terus fokus untuk meningkatkan ekspor dan neraca perdagangan nasional serta mengamankan perdagangan dalam negeri,” tambah Agus.

Mengerem laju penurunan

Pada semester pertama 2020, sebagian besar permintaan global memang menurun, sehingga ekspor juga ikut tertekan. Kinerja ekspor dan impor di beberapa negara mitra dagang Indonesia pada Januari-Juni 2020 juga menunjukkan pelemahan akibat pandemi covid-19.

Di tengah perlambatan ekonomi dan perdagangan global, neraca perdagangan Indonesia periode Januari-Juni 2020 masih menghasilkan surplus sebesar US$5,5 miliar. Ini lebih baik dari periode sama tahun sebelumnya yang mengalami defisit US$1,9 miliar. “Meski surplus, kewaspadaan terus disiagakan. Surplus terjadi akibat impor turun lebih dalam dari periode sebelumnya,” kata dia.

Pada Januari-Juni 2020 ekspor Indonesia mencapai USD 76,4 miliar atau turun 5,49% (YoY), dan impor menurun sebesar 14,3% (YoY). Beberapa negara yang selama ini memberikan surplus non migas terbesar dalam neraca perdagangan Indonesia adalah Amerika Serikat, India, Filipina, Belanda dan Pakistan. Sementara itu, RRT, Thailand, Argentina, Australia, dan Brazil masih menyebabkan defisit non migas terbesar.

Di tengah penurunan ekspor nonmigas selama periode Januari-Juni 2020, ekspor Indonesia ke beberapa negara masih memiliki peluang dan cukup menjanjikan. Di antaranya adalah Swiss naik 217,8%, Australia 14,9%, RRT 12,0%, Pakistan 3,1%, dan Amerika Serikat naik 1,6%.

Dari sisi komoditas, batubara, CPO dan turunannya, perhiasan, alas kaki, serta kayu dan barang dari kayu, masih jadi penyumbang surplus neraca perdagangan nonmigas terbesar. Adapun mesin-mesin, plastik dan barang dari plastik, gandum dan bahan kimia organik jadi penyebab defisit.

Adapun, sepuluh komoditas utama ekspor nonmigas yang meningkat selama Januari-Juni antara lain perhiasan/permata naik 36,3%, besi dan baja 35,0%, alas kaki 13,5%, serta lemak dan minyak hewan/nabati 10,3%.

“Di tengah masa pandemi global ini, Kemendag memiliki kebijakan strategis mendorong ekspor di tengah pandemi global, yaitu strategi jangka pendek dan jangka panjang,” kata Agus.

Dalam strategi jangka pendek dilakukan pendekatan produk dan pasar. Pendekatan produk berfokus pada 3 kategori produk, yaitu pertama produk yang tumbuh positif selama pandemi covid-19 seperti makanan dan minuman olahan, alat-alat kesehatan, produk pertanian, produk perikanan, serta produk agro- industri. Kedua, produk yang kembali pulih pasca pandemi covid-19 seperti otomotif, TPT, alas kaki, elektronik, besi baja. Ketiga, produk baru yang mun- cul akibat pandemi covid-19 seperti produk farmasi dan produk ekspor baru yang merupakan hasil relokasi industri dari beberapa negara ke Indonesia.

Strategi jangka menengah dilakukan dengan mengklasifikasi negara-negara tiga kategori yaitu excellent products, yakni produk yang memiliki market power di negara tujuan ekspor, merging products yakni produk yang memiliki tren ekspor meningkat selama 5 tahun, dan losing products yaitu produk yang memiliki tren ekspor menurun selama 5 tahun.

Guna mendorong perekonomian nasional serta peran masyarakat menjadi vital. “Untuk itu Kemendag mengajak masyarakat untuk terus pakai produk buatan Indonesia. Selain bangga buatan Indonesia, juga akan menggerakkan perekonomian nasional,” pungkas Mendag. (Gan/S3-25)

Baca Juga

Ist/Prambors

Rayakan 75 Tahun Indonesia, Prambors Bagi-bagi Sepeda Setiap Hari

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 19 Agustus 2020, 15:15 WIB
Sebagai radio anak muda, Prambors menghadirkan sebuah campaign bertajuk Mendadak Sepedahan untuk membagikan sepeda secara gratis pada bulan...
Antara/Akbar Nugroho Gumay

Semangat untuk Maju di 75 Tahun Kemerdekaan

👤Dero Iqbal Mahendra 🕔Rabu 19 Agustus 2020, 08:48 WIB
Presiden kelima Indonesia Megawati Soekarnoputri mengingatkan kepada seluruh generasi muda agar terus memiliki keyakinan dan harapan...
Ist

Gelar Merdeka Berhasanah, BNI Syariah Tebar Promo dan Diskon

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 18 Agustus 2020, 09:32 WIB
Khusus untuk pengguna kartu kredit syariah BNI iB Hasanah Card, BNI Syariah menawarkan berbagai promo diskon, caschback, dan juga...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya