Jumat 14 Agustus 2020, 06:11 WIB

Menerobos Blank Spot dengan BTS Mobile dan 5 Ribu Tablet

MI | HUT RI
Menerobos Blank Spot dengan BTS Mobile dan 5 Ribu Tablet

ANTARA/ADWIT B PRAMONO
Menerobos Blank Spot dengan BTS Mobile dan 5 Ribu Tablet

 

AGAK sedikit berbeda memang masalah yang dijumpai di pendidikan tinggi dan pendidikan dasar menengah terkait proses belajar daring. Kesiapan SDM yang membedakannya. Entitas di pendidikan tinggi tentunya juga dituntut lebih siap.

Untuk mempercepat pelaksanaan perkuliahan secara daring dalam menghadapi pandemi Covid-19, pemerintah melalui Ditjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Ditjen Dikti Kemendikbud) merancang dan menggencarkan reka cipta guna membantu mengatasi masalah yang muncul di masa darurat ini.

Di antaranya dengan menyiapkan sarana Base Transceiver Station (BTS) Mobile dan 5.000-an Tablet Modeling karya anak bangsa yang akan ditempatkan di daerah rural atau wilayah yang sulit dijangkau akses internet.

Menariknya, BTS Mobile dan tablet ini akan dibuat melalui kerja sama kampus dan kalangan industri. Upaya ini sebagai bentuk komitmen penuh dalam upaya pemulihan pasca pandemi Covid-19 dengan membangun sinergitas pada berbagai pihak sebagai bagian dari Penta-Helix Collaboration.

Hal tersebut dikatakan Sekretaris Ditjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud Paristiyanti Nurwardani saat menjelaskan terkait peran Ditjen Pendidikan Tinggi untuk membantu pembelajaran daring di masa pandemic Covid-19.

“Di tengah situasi pandemi seperti ini, Ditjen Dikti Kemendikbud terus berupaya membangun ekosistem reka cipta yang mempertemukan antara pereka cipta dan industri. Ekosistem ini perlu dibangun agar implementasi ide dari pereka cipta dan industri tidak hanya selesai di atas meja, melainkan harus dapat bermanfaat dan dirasakan oleh masyarakat,” kata Paris sapaan akrab Paristiyanti.

Ia pun menjelaskan maksud dan tujuan program BTS Mobile dan tablet tersebut, yang sangat dibutuhkan kalangan akademisi kampus saat ini. Yakni, pertama Ditjen Dikti turut serta dalam penanggulangan dampak pandemi Covid-19 dengan menyediakan infrastruktur telekomunikasi yang baik agar Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dapat terlaksana dengan baik.

Kedua, memberikan alternatif infrastruktur digital murah bagi sebagian besar pelajar dan mahasiswa di Indonesia. Ketiga adalah membantu kestabilan penggunaan barang dalam negeri.

Ke empat, dampak ekonomi dan sosial dari terserapnya produk hasil riset teknologi tinggi melalui ekosistem industri elektronika di Indonesia, yaitu tersedianya kebutuhan perangkat buatan dalam negeri serta turunan komponennya yang secara langsung akan meningkatkan kualitas lapangan pekerjaan produksi perangkat dan komponen penunjangnya. Hal ini tentu akan menimbulkan efek industri yang tidak sedikit bagi Indonesia.

Lantas kelima, semua produk dan layanan jasa desa digital akan berjalan di atas platform teknologi karya anak negeri. Dari sini diharapkan menjadi benih dari kemandirian bangsa di bidang teknologi informasi.

Lebih lanjut, Paris mengutarakan sejak masalah pandemi Covid-19 mencuat, Ditjen Dikti Kemendikbud mengoptimalkan berbagai sumber
daya yang dimiliki untuk berkontribusi dalam penanganannya. Upaya untuk menciptakan ekosistem kolaborasi ditingkatkan dengan mempertemukan pereka cipta dan industri.

Hal ini didukung dengan adanya potensi yang besar untuk reka cipta yang tersebar di banyak perguruan tinggi, serta adanya sekitar 280 ribu dosen dan peneliti yang dapat berperan dalam pengembangan ekosistem reka cipta saat ini.

BTS mobile

Data yang dihimpun Ditjen Dikti Kemendikbud, menunjukkan bahwa masih banyak mahasiswa di daerah terpencil atau terdepan, terluar dan tertinggal (3T) tidak dapat melaksanakan PJJ selama pandemi Covid-19. Kondisi ini terjadi karena adanya keterbatasan fasilitas pendukung seperti akses internet, komputer, laptop, maupun ponsel.

Untuk mengatasi hal itu Ditjen Dikti menyiapkan sarana Base BTS Mobile dan 5.000-an Tablet Modeling karya anak bangsa. Hasil reka cipta ini akan menjadi alternatif solusi dalam menjawab persoalan PJJ di masa pandemi.

Jum’at lalu (7/8), Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud RI, Prof. Nizam mengunjungi pusat unggulan iptek bidang Advanced Intelligent Communications (AICOMS), Universitas Telkom untuk meninjau secara langsung pengembangan BTS Mobile yang dapat menjadi alternatif solusi dalam menjawab persoalan PJJ. Pada kunjungan tersebut, Nizam juga berbincang bersama Assoc. Prof. Khoirul Anwar, pemilik paten teknologi double FFT yang merupakan konsep dasar yang dipakai pada teknologi 4G (dan juga di 5G) yang menjadi standard international telecommunication union (ITU) dan Vice Chairman Asia Pasific Wireless Group (AWG) yang berpusat di Bangkok, Thailand.

“Salah satu cara untuk membantu pembelajaran di dunia perguruan tinggi antara lain adalah dengan mengembangkan teknologi yang juga
berasal dari para inovator dan peneliti di perguruan tinggi. Kedaulatan teknologi harus dilakukan secara bersama-sama, dan kami yakin kita pasti bisa melahirkan teknologi, inovasi, dan reka cipta yang membantu masyarakat Indonesia,” ungkap Nizam.

BTS mobile dibuat oleh Ditjen Dikti bekerja sama dengan sejumlah kampus di Indonesia. BTS mobile tersebut nantinya dapat secara aktif masuk ke daerah terpencil di tanah air untuk membantu menangkap dan merelai sinyal internet untuk daerah rural yang berjarak dari pusat kota 10-2.600 km yang kemudian disebar lagi ke desa-desa di daerah rural tersebut dengan radius 5 km. Setidaknya sudah disiapkan 3 jenis teknologi yang dipersiapkan oleh Ditjen Dikti untuk berbagai jenis daerah rural berdasarkan jaraknya dari pusat kota.

Disadari ruang kolaborasi bersama investor (industri) dengan perguruan tinggi sangat diperlukan dalam rangka pengembangan reka cipta dan mendorong transformasi penelitian yang dapat bersinergi dengan industri.(H-1)

Paris juga mendorong bahwa melalui kerjasama ini dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk program dan kegiatan yang terkait dengan tugas dan fungsi Ditjen Dikti. Kedua, berbagai kerjasama dapat dilakukan dengan fokus kepada peningkatan sumber daya manusia dimana peran perguruan tinggi sangat diperlukan. Selain itu, Ditjen Dikti juga akan mengembangkan program competitve fund, matching fund dengan pendekatan market driven yang mendekatkan dunia industri dengan inovator di perguruan tinggi.

Nizam meyakini bahwa melalui peran Penta-Helix Collaboration yakni perguruan tinggi, industri, pemerintah, media, dan komunitas program tersebut dapat berkesinambungan dan berkelanjutan. “Semoga ke depan berbagai inovasi telekomunikasi seperti pengembangan jaringan 5G, 6G, dan bahkan 7G dapat lahir dari karya anak bangsa dengan semangat kemerdekaan dan semangat Kampus Merdeka, kita bangkit untuk Indonesia maju,” ujar Nizam.

Baca Juga

Ist/Prambors

Rayakan 75 Tahun Indonesia, Prambors Bagi-bagi Sepeda Setiap Hari

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 19 Agustus 2020, 15:15 WIB
Sebagai radio anak muda, Prambors menghadirkan sebuah campaign bertajuk Mendadak Sepedahan untuk membagikan sepeda secara gratis pada bulan...
Antara/Akbar Nugroho Gumay

Semangat untuk Maju di 75 Tahun Kemerdekaan

👤Dero Iqbal Mahendra 🕔Rabu 19 Agustus 2020, 08:48 WIB
Presiden kelima Indonesia Megawati Soekarnoputri mengingatkan kepada seluruh generasi muda agar terus memiliki keyakinan dan harapan...
Ist

Gelar Merdeka Berhasanah, BNI Syariah Tebar Promo dan Diskon

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 18 Agustus 2020, 09:32 WIB
Khusus untuk pengguna kartu kredit syariah BNI iB Hasanah Card, BNI Syariah menawarkan berbagai promo diskon, caschback, dan juga...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya