Jumat 14 Agustus 2020, 04:26 WIB

Dari Sampah jadi Substitusi Batubara

Dro/S1-25 | HUT RI
Dari Sampah jadi Substitusi Batubara

dok klhk
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Rosa Vivien Ratnawati, melalukan peninjauan di Kabupaten Cilacap, 22 Juli 2020.

 

SAMPAH masih menjadi persoalan, baik bagi lingkungan maupun bagi kehidupan manusia. Seiring terus bertumbuhnya populasi manusia di suatu wilayah, sebesar itu juga sampahnya bertumbuh.

Untuk menyelesaikan persoalan ini dibutuhkan suatu pendekatan komprehensif dari hulu ke hilir, dengan memilah sampah sebagai langkah pertama di hulu.

Seiring dengan perkembangan teknologi, pengolahan sampah di hilir tidak lagi sekadar di bakar, kini bisa diolah menjadi energi.

Salah satu teknologi yang kini digunakan adalah Teknologi RDF (refused derived fuel). Pada teknologi ini mengolah sampah melalui proses homogenizers menjadi ukuran yang lebih kecil atau bio masa. Produk akhir ini nantinya akan digunakan sebagai cofiring batu bara di Plant Industri Semen dan Plant PLTU.

Proyek ini sudah dimulai sejak 2017, yang dilakukan di atas lahan seluas 1 hektare.

Pada proyek ini melibatkan banyak pihak seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kedutaan Besar Denmark- DANIDA, Pemprov Jateng, Pemkab Cilacap, dan PT Solusi Bangun Indonesia (SBI).

Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, Bahan Beracun dan Berbahaya (PSLB3) KLHK, Rosa Vivien mengemukakan penggunaan RDF pengolahan sampah di Cilacap dengan kapasitas 120 ton per hari sebagai tonggak sejarah penting dalam upaya implementasi teknologi pengolahan sampah berskala kota di Indonesia.

“Teknologi ini, telah melengkapi kemajuan teknologi Waste to Electricity (PSEL) sebelumnya pada 12 Kota yang telah ditetapkan Presiden, serta Teknologi Landfill (Sanitary dan Control landfill) pada kabupaten/kota lainnya di Indonesia,” terang Vivien.

Ia juga menjelaskan teknologi RDF memiliki potensi pengolahan yang besar dengan off taker Plant Industri Semen dan PLTU. Menurutnya, potensinya sangat besar, apalagi di Indonesia ada 34 titik pabrik semen dan 50 lebih PLTU. Dalam satu hari, ada 28 ribu ton sampah yang dapat diolah.

“Kami sangat meyakini pengelolaan sampah di Indonesia dapat dilakukan 100%, sebagaimana Perpres No 97 Tahun 2017 tentang Jakstranas (kebijakan strategi nasional) dapat kita wujudkan menjadi sebuah realita bukan utopia,” terang Vivien.

Berdasarkan data, terlihat dengan menggunakan RDF akan ada peningkatan efisiensi dari penggunaan batu bara. Setidaknya akan memberikan 3% subtitusi dari kebutuhan batu bara, yakni dengan 60 ton RDF per hari dapat sebagai substitusi batu bara per hari. Selain itu, harganya pun lebih murah dibandingkan dengan batu bara.

Diketahui biaya produksi olahan sampah dengan sistem RDF membutuhkan Rp300 ribu/ton setiap harinya atau sekitar US$20. Sedangkan untuk batu bara, dalam satu ton mencapai US$40-US$50. Padahal nilai kalorinya sampai 3.200 kalori per ton. (Dro/S1-25)

Baca Juga

Ist/Prambors

Rayakan 75 Tahun Indonesia, Prambors Bagi-bagi Sepeda Setiap Hari

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 19 Agustus 2020, 15:15 WIB
Sebagai radio anak muda, Prambors menghadirkan sebuah campaign bertajuk Mendadak Sepedahan untuk membagikan sepeda secara gratis pada bulan...
Antara/Akbar Nugroho Gumay

Semangat untuk Maju di 75 Tahun Kemerdekaan

👤Dero Iqbal Mahendra 🕔Rabu 19 Agustus 2020, 08:48 WIB
Presiden kelima Indonesia Megawati Soekarnoputri mengingatkan kepada seluruh generasi muda agar terus memiliki keyakinan dan harapan...
Ist

Gelar Merdeka Berhasanah, BNI Syariah Tebar Promo dan Diskon

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 18 Agustus 2020, 09:32 WIB
Khusus untuk pengguna kartu kredit syariah BNI iB Hasanah Card, BNI Syariah menawarkan berbagai promo diskon, caschback, dan juga...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya