Kamis 13 Agustus 2020, 08:41 WIB

Perlu Kolaborasi Multisektor untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan

mediaindonesia.com | Ekonomi
Perlu Kolaborasi Multisektor untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan

Ist
Staf Khusus Wakil Presiden RI Lukmanul Hakim (kanan).

 

UNTUK meningkatkan produksi dan ketahanan pangan di tengah pandemi covid-19 diperlukan kolaborasi multisektor, yang melibatkan pemerintah, petani, dunia usaha, lembaga keuangan, perguruan tinggi, dan partisipasi masyarakat.

“Dengan kerja sama, sinergi, dan gotong royong semua sektor, produksi pangan akan meningkat signifikan untuk memenuhi kebutuhan nasional dan ekspor,” ungkap Staf Khusus Wakil Presiden RI Lukmanul Hakim, di Jakarta, Kamis (13/8).

Menurut Stafsus Wapres yang membidangi sektor ekonomi dan keuangan ini, ada empat pilar ketahanan pangan yang harus menjadi konsens semua pemangku kepentingan yakni ketersediaan pangan, akses pangan, pemanfaatan pangan, dan stabilitas pangan. 

“Seringkali ketersediaan pangan ada di petani, namun petani tidak memiliki akses ke pasar mengakibatkan harga pangan di petani murah, sementara masyarakat di perkotaan tidak memiliki akses ke sumber pangan yang mengakibatkan harga pangan mahal,” paparnya.

Lukmanul Hakim memaparkan Wapres Maruf Amin memprioritaskan pengentasan kemiskinan, pemberdayaan dan pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), pengembangan ekonomi syariah, dan peningkatan ketahanan pangan yang melibatkan semua pemangku kepentingan. Wakil Presiden juga meminta Kementerian Pertanian untuk membangun ekosistem pertanian di pesantren.

Kebijakan pemerintah dalam ketahanan pangan, jelas Lukmanul Hakim, adalah memastikan petani tetap berproduksi dan berpenghasilan, men jadi ketersediaan pangan dan stabilitas harga, memastikan kelancaran distribusi, menjaga daya beli masyarakat, optimalisasi pemanfaatan pangan lokal, dan pengembangan teknologi paktis yang aplikatif bagi petani. 

Sektor pangan menjadi isu global di tengah pandemi ini. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mengingatkan ancaman krisis pangan yang kemungkinan terjadi, bila masing-masing negara tidak melakukan berbagai langkah antisipasi untuk menyediakan kebutuhan pangannya.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki potensi besar untuk menjadi produsen pangan dunia. Dengan kondisi iklim tropis, Indonesia dapat kembali memperkuat sektor agraris untuk menjadi produsen pangan, hortikultura, dan produk pertanian lainnya. Sektor pertanian memiliki kontribusi besar dalam Produksi Domestik Bruto (PDB), yaitu sekitar 12,8%.

Menurut data Badan Pusat Statistik, produksi beras nasional pada semester I 2020 serkitar 16,8 juta ton sedangkan konsumsi beras pada paruh pertama tahun ini sebesar 15 juta ton.

"Surplus beras ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pangan pada semester II 2020 di mana pada umumnya produksi padi mengalami penurunan. Untuk itu intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian pangan juga harus terus dilakukan untuk menjamin ketersediaan pangan dan ketahanan pangan nasional," papar Lukmanul. (RO/OL-09)

Baca Juga

Antara/Puspa Perwitasari

Saham Bank Turun, Pengamat : Investor Asing Belum Yakin

👤Fetry Wuryasti 🕔Senin 28 September 2020, 21:30 WIB
Para investor asing tidak yakin dengan kondisi ekonomi Indonesia dalam enam bulan ke...
Antara/Moch Asim

Pertamina Perlu Cermat Tentukan Pengembang Kilang Tuban

👤Raja Suhud 🕔Senin 28 September 2020, 20:55 WIB
Saat ini dua peserta tender terbaik telah ada yakni Konsorsium JO Hyundai Engineering dan Konsorsium...
Ist/Kementan

Pusvetma Lakukan Vaksinasi Rabies Drive Thru Pertama di Indonesia

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 28 September 2020, 20:37 WIB
Ditjen  Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian (Kementan), Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) melakukan vaksinasi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya