Kamis 13 Agustus 2020, 05:00 WIB

Pilkada, Dinasti Politik, dan Kandidasi Partai

Neni Nur Hayati Direktur Eksekutif Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP), Aktivis Nasyiatul Aisyiyah | Opini
Pilkada, Dinasti Politik, dan Kandidasi Partai

Dok.MI
Ilustrasi -- Dinasti Politik

PELAKSANAAN tahapan penyelenggaraan Pilkada Serentak 2020 di 270 daerah telah memasuki fase krusial. Tahapan tersebut merupakan kandidasi yang membuat area-area publik disesaki alat peraga sosialisasi, baik itu perseorangan maupun partai politik.

Merujuk PKPU 5 Tahun 2020, semuanya akan mengerucut pada 4-6 September 2020. Tidak ada yang berbeda dengan pilkada serentak sebelumnya, keterlibatan dari pasangan calon perseorangan di Pilkada 2020 juga masih minim. Hal ini menandakan bahwa partai tetap menjadi penyangga utama bagi kandidat yang ikut berlaga di perhelatan elektoral.

Penentuan kandidat di tengah merabaknya wabah covid-19 tentu tidak mudah bagi partai politik. Karena itu, tak ayal baru bisa memastikannya mendekati batas masa pendaftaran pasangan calon. Proses kandidasi ini menggambarkan bagaimana pengelolaan partai
dalam implementasi demokrasi internal. Potret dan dinamika tersebut setidaknya dapat dilihat dari ragam pemberitaan media massa.

Dalam tulisan Pippa Norris berjudul Recruitment (2016), kandidasi dimaknai sebagai proses bagaimana kandidat dipilih dari kandidat potensial yang mampu bersaing mendapatkan jabatan publik. Tentu, banyak orang berkehendak mencalonkan diri menjadi kepala daerah atau wakil kepala daerah (running for office) meski tak semua memiliki modal memadai.

Sejatinya, kandidasi ini menjadi sarana pelembagaan politik di tubuh partai sebagai bagian dari tahapan kaderisasi. Mekanisme kandidasi yang demokratis dengan mempertimbangkan kemampuan dan integritas calon harus benar-benar dijalankan partai politik.

Pelibatan kader, distribusi, dan alokasi kader ke sejumlah jabatan publik, termasuk melalui pintu pilkada untuk menjadi pemimpin di daerah, ialah sebuah keniscayaan. Kandidasi juga dapat menyumbang pada penguatan proses konsolidasi demokrasi di Indonesia dengan munculnya calon kepala daerah yang mumpuni dan transformasional.

Kuatnya oligarki

Realitasnya, proses kandidasi yang sehat ini kerap kali dirusak partai. Persaingan perebutan tiket di Pilkada 2020 telah dapat kita saksikan bersama di beberapa daerah. Majunya anak sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, dalam bursa pencalonan Wali Kota Solo menjadi perhatian semua pihak. Selain Gibran, ada juga menantu Jokowi, Bobby Nasution, yang akan mencalonkan diri di pemilihan Wali Kota Medan.

Proses tersebut memperlihatkan adanya oligarki di tubuh partai politik yang menyebabkan mekanisme kandidasi dan pencalonan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Seringkali kita saksikan partai-partai yang memiliki suara besar bahkan tidak mencalonkan kadernya untuk menjadi kepala daerah atau wakil kepala daerah. Partai politik justru mengusung pejabat birokrasi dan pengusaha yang memiliki modal kuat.

Praktik sempurna oligarki politik seakan menutup akses kompetisi dari hulu ke hilir. Karena itu, menyebabkan pilkada hanya sebagai permainan segelintir elite politik saja. Secara bersamaan, dinasti politik juga terus membangun jejaring kekuasaannya dengan kuat agar tetap dapat mempertahankan kekuasaannya dalam tubuh partai di tingkat daerah. Karena itu, dapat dipastikan dinasti politik mampu menguasai dan mematikan demokrasi dalam partai politik.

Bahkan, hanya beberapa bulan saja memiliki kartu tanda anggota (KTA) partai seperti Gibran, sudah bisa mendapatkan tiket untuk mendaftarkan diri sebagai calon kepala daerah. Penulis sendiri sempat mempertanyakan ketika Gibran bukan anak sulung Presiden, apakah PDIP akan tetap mencalonkan dia sebagai bakal pasangan calon Wali Kota Solo? Atau jika Bobby Nasution bukan menantu Jokowi, apakah akan tetap masuk dalam bursa pencalonan Wali Kota Medan? Keikutsertaan anak dan menantu Presiden dalam pilkada benar-benar memperlihatkan hadirnya politik dinasti dalam demokrasi.

Hal itu juga dinilai mencederai keadilan masyarakat sebab bagaimanapun juga, posisi Jokowi akan sangat berdampak pada elektabilitas anak atau menantunya yang mencalonkan, setidaknya calon tidak perlu bersusah payah memperkenalkan diri kepada masyarakat. Loyalis Jokowi tentu saja akan memberikan dukungan secara penuh meski tidak ikut berkampanye. Penulis melihat ketika ada dinasti politik akan menyebabkan ketidakadilan (unfairness) dalam kontestasi.

Studi Ernesto Dal Bo, Pedro Dal Bo dan Jason Snyder (2007) tentang dinasti politik di Kongres Amerika Serikat menunjukkan ada korelasi antara dinasti politik dan kompetensi politik. Semakin marak praktik politik dinasti akan berbanding lurus dengan kompetisi politik yang tidak sehat. Dinasti politik juga diyakini melahirkan oligarki kekuasaan.

Menurut Jeffrey Winters, salah seorang ilmuwan politik AS di Universitas Northwestern, oligarki muncul karena konsentrasi kekayaan yang ada sejak zaman kuno. Jika politik dinasti ini terus menguat, apalagi tidak diimbangi dengan kompetensi politik yang sehat, tidak menutup kemungkinan akan melanggengkan oligarki dan pembusukan demokrasi.

Seremoni

Proses kandidasi partai yang instan dan tidak sehat dalam tahapan kepemimpinan menjadi persoalan serius. Pada akhirnya, kandidasi ini seolah hanya seremoni belaka akibat kekuatan rujukan (reference power) yang begitu dominan. Selain itu, hal ini juga akan berdampak pada investor ekonomi dan politik yang memainkan peran secara signifi kan dalam kandidasi.

Pebisnis yang memiliki kepentingan bisa memberikan fasilitas seluas-luasnya pada calon kepala daerah. Utang biaya politik ini harus berbalas konsensi atas pencalonannya. Fakta tersebut juga dapat berpotensi pada tingginya calon tunggal di pilkada.

Oleh karena itu, perlu adanya pembenahan dan evaluasi terhadap mekanisme kandidasi partai. Pertama, merealisakan mekanisme internal yang demokratis, transparan, dan akuntabel. Partai memiliki peluang menempatkan seluruh komponen mengikuti proses pencarian kandidat dengan mempersiapkan diri sejak dini. Pengelolaan keanggotaan partai juga harus menjadi garapan yang serius.

Kedua, pentingnya desentralisasi kewenangan kepada partai di tingkat lokal untuk mengambil kebijakan terkait proses kandidasi. Ini menjadi upaya membangun demokratisasi di internal partai dan memutus rantai oligarki.

Ketiga, membangun sistem pengkaderan dan rekrutmen yang memadai oleh partai politik di tingkat lokal guna meningkatkan kapasitas dan kapabilitas kader, termasuk juga memperdalam visi kepemimpinan dalam membangun daerah. Dengan bekal yang cukup, ini juga bisa memudahkan partai untuk mengawal dan mengawasi kepemimpinannya apabila terpilih dan meyakinkan pemilih.

Baca Juga

Dok. Pribadi

Waspada Politik Uang

👤Ervanus Ridwan Tou Sekjen Vox Point Indonesia 🕔Senin 28 September 2020, 10:49 WIB
Praktik politik uang diduga masih terjadi, bahkan meningkat pada Pilkada 2020. Apalagi pilkada digelar di saat pandemi covid-19 tambah...
Dok. Pribadi

Transformasi Digital

👤Victor Yasadhana Direktur Pendidikan Yayasan Sukma 🕔Senin 28 September 2020, 03:05 WIB
Saat inisiatif menjadi bagian budaya lembaga, hambatan mental untuk berubah tidak memiliki kesempatan untuk menghambat tranformasi...
Dok. Twitter@muryantoamin

Menuju Digital Friendly University

👤Muryanto Amin Dekan FISIP Universitas Sumatra Utara 🕔Senin 28 September 2020, 03:00 WIB
TELAH lama era digital mengubah gaya hidup masyarakat menjadi serba praktis dan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya