Rabu 12 Agustus 2020, 16:01 WIB

Ledakan Beirut Menimbulkan Luka Baru

Pengirim: Faustinus Nua | Internasional
Ledakan Beirut Menimbulkan Luka Baru

AFP/Mahmoud Zayyat
Anggota keluarga korban ledakan Beirut meratapi peristiwa tragis tersebut.

 

WARGA yang selamat dari ledakan di Beirut, Libanon, masih terguncang. Apalagi bencana itu merusak sebagian kota.

Ledakan dahsyat di wilayah Ibu Kota Libanon telah menewaskan 171 orang dan melukai lebih dari 6.000 orang. Pukulan mengerikan bagi negara yang berada dalam masa krisis.

Hampir setiap generasi di Libanon pernah mengalami konflik. Mulai dari perang saudara 1975-1990 hingga konflik dengan Israel pada 2006. Walaupun episode suram telah berlalu, namun trauma masih tertinggal jelas di benak masyarakat.

Baca juga: Pasukan Keamanan Libanon Bentrok dengan Pemrotes Beirut

Ledakan dahsyat pekan lalu kembali menambah luka pada jiwa warga Libanon. Seperti Carla, seorang warga Beirut yang mengira perang akan kembali dimulai. Saat peristiwa tragis itu dia tengah berada di balkon.

"Awalnya, saya mengira itu serangan udara. Karena saya mengaitkan kebisingan itu dengan apa yang saya ingat dari perang 2006," ujar warga berusia 28 tahun.

Setelah ledakan menghancurkan jendelanya, dia bergegas ke tangga dan berdiam cukup lama. Namun sebelum Carla bisa menenangkan diri, tetangganya yang sudah tua dan selamat dari perang saudara 1975-1990, sudah sibuk menyapu lantai.

"Ini adalah refleks dari perang, setiap kali ada yang rusak, mereka langsung menyapu," tutur Carla.

Baca juga: Amonium Nitrat, Sumber Ledakan di Berbagai Negara

Doctors of the World, sebuah badan amal internasional, menawarkan pendampingan psikologis gratis bagi warga Beirut. Pascaledakan di pelabuhan Beirut, warga sibuk mencari pertolongan medis dan membersihkan puing-puing bangunan. Saat keadaan perlahan kembali normal, mereka tampak lebih siap untuk berbicara.

"Itu membantu meredakan semua amarah mereka," ujar Direktur Doctors of the World, Noelle Jouane.

Situasi berbeda di distrik Mar Mikhael yang hancur akibat ledakan. Suara benturan sedikit saja sudah memicu alarm. Di pintu masuk lingkungan itu, seorang lelaki tua tampat terkejut dengan benturan palu pada lempengan besi. Dia bahkan merunduk dan menempelkan tubuh ke kap mobilnya.

Baca juga: Macron, Pemimpin Dunia Pertama yang Kunjungi Ledakan Beirut

"Bukan apa-apa," seorang pejalan kaki meyakinkannya.

Rima Makki, manajer aktivitas kesehatan mental untuk Doctors Without Borders, mengungkapkan banyak warga Libanon yang mengalami trauma. Kepanikan dan ketakutan menjadi reaksi normal terhadap peristiwa abnormal. Apalagi ledakan terjadi saat Libanon berjuang melawan krisis ekonomi dan pandemi covid-19.

"Seluruh masyarakat sudah berada di bawah tekanan psikologis. Adanya insiden besar jelas membawa dampak trauma,” pungkas Makki.(CNA/AFP/OL-11)

 

Baca Juga

AFP/MICHAEL DANTAS

Kasus Covid-19 Amerika Latin Lampaui Sembilan Juta

👤Haufan Hasyim Salengke 🕔Minggu 27 September 2020, 09:11 WIB
Lebih dari enam bulan sejak kasus virus korona pertama terdeteksi di Amerika Latin, tercatat sudah lebih dari 9 juta kasus dan 330.000...
AFP/Fabrice COFFRINI

Google Blokir Iklan Pemilu AS Setelah Pemungutan Suara Ditutup

👤Antara 🕔Minggu 27 September 2020, 08:39 WIB
Google akan melarang iklan pemilu, termasuk yang menyebutkan pejabat negara bagian atau federal, kandidat atau partai politik, serta iklan...
AFP/Mark RALSTON

Uji Klinis Vaksin AS Tunjukkan Respons Kekebalan Kuat Lawan Korona

👤Haufan Hasyim Salengke 🕔Minggu 27 September 2020, 08:01 WIB
Perusahaan farmasi AS Johnson and Johnson mengklaim hasil uji klinis vaksin covid-19 menunjukkan respons kekebalan kuat melawan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya