Rabu 12 Agustus 2020, 05:05 WIB

Perempuan Politik dalam Pusaran Pandemi

Eneng Humaeroh Pengurus DPP Kaukus Perempuan Politik Indonesia | Opini
Perempuan Politik dalam Pusaran Pandemi

ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Ilustrasi -- Anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan berfoto bersama usai pelantikan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode 2019-2024

SEJAK WHO menetapkan dunia mengalami pandemi global, semua sektor mengalami keguncangan dan kelumpuhan. Bagaimana perempuan politik menghadapi situasi ini? Faktanya, dalam situasi pandemi, perempuan malah menerima beban yang lebih besar karena semua kegiatan berpusat di rumah, tempat perempuan dianggap sebagai penanggung jawab.

Selain melaksanakan work from home, perempuan menjadi pendamping kegiatan anak-anak, pengajar, bahkan menjadi tenaga medis keluarga dari ancaman covid-19. Memastikan keluarga aman, nyaman, dan tenteram secara psikologis diberikan pada pundak perempuan.

Nyata sekali bukti kemandirian perempuan dalam menghadapi pandemi sehingga meruntuhkan stigma dan stereotip perempuan yang selama ini dianggap lemah. Hal ini semestinya menjadi perhatian pemerintah terhadap peran perempuan, terutama dalam bingkai kepentingan politik.

Sepi popularitas

Di tengah pandemi, perempuan politik terus bergerak melakukan tugas pendidikan politik. Mendorong representasi perempuan di legislatif, melakukan advokasi atas persoalan perempuan, anak, keluarga, dan sosial, serta terus membangun sinergi dengan berbagai elemen gerakan lain.

Selepas menunaikan tugas-tugas domestik, perempuan politik tetap beraktivitas dalam berbagai kegiatan politik meskipun dilakukan secara daring atau virtual. Berbagai diskusi serial dan webinar terus digelar demi mewujudkan keterwakilan perempuan, baik di parlemen maupun di pemerintahan.

Hal itu menunjukkan kesiapan mental spiritual perempuan politik dalam menghadapi tantangan politik. Pandemi tidak menyurutkan langkah perempuan politik untuk terus menyosialisasikan keterwakilan 30% perempuan di kancah perpolitikan praktis.

Sayangnya, semangat dan kiprah perempuan politik belum dibarengi dengan perhatian publik terhadap aktivitas ini. Publik masih dingin-dingin saja menanggapi isu ini. Bahkan, analisis big data yang dilansir Evello terhadap politik terutama Pilkada 2020 pada masa pendemi ini sama sekali tidak menarik perhatian.

Politik tidak menarik untuk dibicarakan, apalagi mengenai perempuan. Tren berita yang muncul dalam enam bulan terakhir masih seputar covid-19, masalah kesehatan, ekonomi, dan pendidikan.

Isu kemandirian dan ketangguhan perempuan di tengah pan- demi belum menjadi trending topic yang meningkatkan popularitas perempuan politik. Kendati pun muncul kandidat perempuan yang maju di pilkada, porsi pemberitaannya belum sebesar kandidat laki-laki. Artinya, tingkat popularitasnya masih tertinggal dari kandidat laki-laki. Hal ini perlu menjadi perhatian gerakan perempuan agar jangan sampai aktivitas perempuan hanya riuh di kalangan terbatas, tetapi sepi dari perbincangan masyarakat.

Ada beberapa faktor penyebab kurang populernya aktivitas perempuan politik. Pertama, isu yang diangkat kurang menarik perhatian. Sebagian orang masih menganggap isu keterwakilan perempuan atau isu afi rmasi ialah isu sektoral yang sempit, terbatas, eksklusif, dan hanya bicara soal perempuan. Meski pandangan ini salah kaprah, sayangnya itulah realitas masyarakat.

Kedua, kurang membangun sinergi dengan media, infl uencer, ataupun lembaga publik yang dapat meningkatkan popularitas perempuan politik. Masih banyak perempuan politik yang gagap dalam menghadapi media dan cecaran pertanyaan wartawan.

Ketiga, kurang optimal menggunakan IT untuk meningkatkan kekuatan jejaring sosial melalui media sosial. Saat ini kekuatan media sosial begitu luar biasa dalam membentuk opini publik, meningkatkan popularitas seseorang, dan membangun jejaring.

Dukungan partai politik

Berdasarkan penelusuran Evello yang dilakukan sepanjang April 2020, pemberitaan bertema politik hanya menguasai share index sebesar 3,79% jika dibandingkan dengan tema berita lainnya. Jumlah komentar pengguna media sosial terhadap berita-berita politik juga terbilang kecil, hanya 11,5% jika dibandingkan dengan tema lainnya.

Apabila big data itu dijadikan data awal, ini merupakan suatu tantangan serius, bagaimana perempuan dengan kemandiriannya mampu meningkatkan popularitas dan elektabilitas diri dalam kancah pertarungan politik, baik menghadapi pilkada maupun Pileg 2024 nanti.

Jika parpol serius dan sungguh-sungguh ingin memunculkan kader perempuannya sebagai kandidat cakada dan kandidat caleg potensial pada 2024, perlu memberikan langkah-langkah dukungan.

Salah satu langkah strategis ialah menjadikan isu kemandirian perempuan selama pandemi sebagai isu yang dikemas menarik, dijual dan di publikasikan. Kemandirian perempuan yang teruji selama pandemi, dapat dijadikan tema politik. Bagaimana perempuan eksis dan menjadi model inspiratif dalam menghadapi segala macam problematik sosial yang mengepung berbagai aspek.

Baca Juga

Dok.MI

Setop Melodrama

👤Dewan Pengarah Media Group Saur M Hutabarat 🕔Senin 21 September 2020, 03:57 WIB
Membawa jenazah ke Balai Kota itu justru menunjukkan Pemprov Jakarta bertindak responsive without responsibility, responsif tanpa tanggung...
dok.pribadi

Bunuh Diri Massal di Konser Pilkada

👤Chaerul Tamimi, Praktisi PR, Dosen Fikom IISIP Jakarta 🕔Sabtu 19 September 2020, 14:55 WIB
massa yang datang dan  tidak bisa masuk ke depan panggung utama akan membentuk kerumunan lain di lokasi dekat panggung...
ANTARA

Pilkada Sehat bukan Ilusi

👤Arif Susanto Analis Politik Exposit Strategic 🕔Sabtu 19 September 2020, 03:05 WIB
SEBANYAK 243 pelanggaran protokol kesehatan selama masa pendaftaran bakal pasangan calon Pilkada serentak 2020 itu sungguh ceroboh dan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya