Rabu 12 Agustus 2020, 01:50 WIB

Canggih, Sel Punca Bisa Perbaiki Sumbing

(Aiw/H-2) | Humaniora
Canggih, Sel Punca Bisa Perbaiki Sumbing

MI/SUMARYANTO BRONTO
BIBIR SUMBING: Warga mendengarkan penjelasan dokter mengenai bibir sumbing di Baubau, Sulawesi Tenggara, beberapa waktu lalu

 

BIBIR dan langit-langit sumbing merupakan cacat pada jaringan lunak yang meliputi bibir, langit-langit, dan tulang alveolus pada maksila. Dokter spesialis bedah plastik Kristaninta
Bangun menyebutkan rekayasa jaringan tulang (tissue engineering) bisa menjadi alternatif pengobatan terkini bibir sumbing, daripada cangkok tulang.

“Keunggulan dari metode ini, yaitu tidak menimbulkan morbiditas donor, memakan waktu operasi yang lebih pendek, dan lama perawatan yang lebih singkat. Pasien dapat dikerjakan
dengan one day care dengan teknik seperti ini,” katanya saat ujian promosi doktor Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Selasa (11/8).

Menurutnya, untuk rekayasa jaringan tulang, dapat digunakan sel punca mesenkimal dari sumsum tulang dewasa, lemak, periosteum, embrionik, tali pusat, dan sumsum tulang
fetus.

“Rekayasa jaringan tulang alveolus bisa ditutup dengan menggunakan sel punca, biomaterial scaffold yang diberikan growth factors sehingga bisa tumbuh tulang yang baru
pada defek,” terangnya.

Scaffold atau osteokonduksi terbuat dari berbagai bahan, seperti logam, keramik, polimer organik, dan polimer anorganik.

Kristaninta menyampaikan, bibir dan langit-langit sumbing merupakan jumlah kelainan tertinggi pada bidang bedah plastik. Sekitar 75% penderita bibir dan langit-langit sumbing
memiliki celah pada tulang alveolus maksila.

Celah ini menimbulkan beberapa masalah, seperti masalah estetis, gangguan periodontal, deviasi hidung, hingga gangguan psikologis. Oleh sebab itu, diperlukan tata laksana untuk
menutup celah pada alveolus.

Cangkok tulang yang dilakukan untuk menutup celah pada alveolus dengan menggunakan krista iliaka, tibialis, dan calvaria.

Namun, tata laksana yang menjadi gold standard ini memiliki dampak negatif, yakni morbiditas pada area donor, terdapat nyeri pascaoperasi, penurunan sensibilitas, gangguan
berjalan, parut jelek, durasi operasi lama, hingga masa perawatan yang cukup panjang. (Aiw/H-2)

Baca Juga

Instagram @TYA_ARIESTYA

Tya Ariestya Turunkan Berat Badan demi Program Hamil

👤MI 🕔Rabu 30 September 2020, 03:15 WIB
AKTRIS Tya Ariestya, 34 tidak setengah-setengah dalam menjalankan program penurunan berat...
ANTARA

Saleh Husin Panen Jagung dari Kebun

👤MI 🕔Rabu 30 September 2020, 02:55 WIB
KETUA Majelas Wali Amanat Universitas Indonesia, Saleh Husin, 57, punya rutinitas yang ia jalani setiap pagi, yakni seusai salat Subuh,...
Sumber: Alzi/BPS/Globocan/IDF/Kemenkes/WHO/Tim Riset MI-NRC/ Grafis: Seno

Jadi Lansia Sehat? Investasilah sejak Bayi

👤Atalya Puspa 🕔Rabu 30 September 2020, 02:35 WIB
NANI, 72, sudah tidak dapat beraktivitas seperti sedia kala sejak penyakit jantung koroner, hipertensi, dan diabetes merenggut...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya