Selasa 11 Agustus 2020, 23:05 WIB

Mereka yang Kreatif yang Mampu Bertahan saat Pandemi Covid-19

mediaindonesia.com | Humaniora
Mereka yang Kreatif yang Mampu Bertahan saat Pandemi Covid-19

Istimewa
Ilustrasi

 

WABAH global atau pandemi Covid-19 yang pertama kali menghantam wilayah Asia Tenggara pada Januari 2020 berdampak besar. Dampak ekonomi dari pandemic ini diperkirakan setara dengan Krisis Keuangan Asia tahun 1997-1998, atau bahkan lebih besar. IMF memproyeksikan pertumbuhan ASEAN-5 (Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam) -0,6 persen pada tahun ini, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar +4,8 persen (Pusat Studi Strategis dan Internasional, 2020).

White paper mengeksplorasi dan membahas dampak pandemi COVID-19 pada industry influencer marketing dan digital entertainment di pasar utama di Asia Tenggara, yaitu Singapura, Malaysia, Indonesia, Filipina, Vietnam dan Thailand, sementara juga melihat studi kasus dari Cina dan Amerika Serikat, yang sering menetapkan standard dan praktik yang diikuti pasar Asia Tenggara.

Saat virtual press conference dalam rilis Gushcloud Whitepaper, exclusive talents di Gushcloud Jang Hansol dan Amel Carla menyatakan, sejak adanya pandemi COVID-19 ini, terdapat banyak perubahan yang terjadi dalam pembuatan sebuah konten.

 “Dengan kondisi sepert isaat ini, kami sebagai content  creator  harus dapat membuat ide dan kreatifitas baru supaya konten tersebut dapat dinikmati audiens kami meskipun berada di rumah” ungkap Jang Hansol.

Amel Carla juga mengakui bahwa dalam masa pandemic ini harus mencari ide-ide yang lebih kreatif untuk tetap bias menarik perhatian audiens yang saat ini semakin banyak memiliki referensi content. Hal ini berlaku juga untuk beberapa content yang berafiliasi pada sebuah brand.

Pernyataan mereka sebagai content creator diperkuat oleh beberapa insight dalam Whitepaper tersebut. “exclusive talents di Gushcloud exclusive talents di Gushcloud

Oddie Randa, Country Director Gushcloud Indonesia menjelaskan bisnis influencer  marketing di tengah pandemi COVID-19 saat ini mampu bertahan meskipun tetap merasakan dampak yang cukup besar dari pengurangan marketing budget dari beberapa big spender. “Dengan adanya pengurangan marketing budget ini, Gushcloud melihat ini sebagai sesuatu yang  wajar karena banyak bisnis yang harus melakukan penyesuaian dengan lini pendapatan mereka yang terhantam keras oleh pandemi. Dalam beberapa bulan kedepan, semua perusahaan ini akan mampu menyesuaikandiri dengan pandemi dan kembali ke posisi spending seperti semula.” Ungkap Oddie.

Whitepaper juga mengeksplorasi bagaimana keadaan dunia pasca-COVID-19. Audiens saatini memiliki dengan kemampuan pembelian digital yang luas, pemegang merek dan influencer harus melihat dan memanfaatkan strategie-commerce sepert ilive-commerce dan social commerce sebagai peluang pendapatan baru. Dalam hal output konten, peluang baru dari adopsi format dan platform baru seperti TikTok, Twitch, dan Instagram Live diperkirakan akan bertahan untuk jangka panjang. Pemegang merek dan influencer harus berupaya mengoptimalkan konten pemasaran mereka untuk platform ini.

Lani Rahayu, AVP Social Media & Community Blibli.com mengungkapkan bahwa pelaku industry idan brand juga harusmenyesuaikan diri dalam memanfaatkan influencer marketing. Blibli, yang merupakan platform e-commerce, memiliki keunggulan lebih dalam melihat karakteristik pasar terutama dari kacamata pelanggan.

“Sebagai sebuah brand, kami juga harus mengambil satu langkah di depan pasar agar dapat memanfaatkan influencer marketing dengan maksimal. Sebagai contoh,Blibli telah menerapkan hal ini saat mengadakan program live streaming Blibli 9th Anniversary: Bagi-Bagi Hepi yang terbukti sukses menarik perhatian, bahkan mereka yang belum menjadi pelanggan kami. Hal ini menunjukkan sinergi dan kolaborasi antara brand dan influencer adalah suatu keharusan di situasi New Normal,” tuturLani.

Whitepaper menampilkan wawasan dari para professional industry dari seluruh wilayah, dan juga dibentuk atas kolaborasi dengan Dr. Crystal Abidin (Internet Studies, Curtin University), seorang antropolog dan ahli etnografi yang meneliti budaya influencer, terutama hubungan kaum muda dengan selebriti internet, visibilitas online dan budaya pop media sosial.

“Memang, pandemic ini terbukti menjadi periode yang sangat suli tbagi seluruh industri. Namun, dengan adanya situasi ini juga menciptakan peluang baru untuk influencer, content creator, bisnis, dan agesi merek. Jika ada industri yang mampu gesit dan cepat untuk menyesuaikan dan beradaptasi dengan perubahan besar, itulah industry pencipta digital, " tambah Althea Lim. (OL-13)

 

Baca Juga

Dok. Pexels.com/Medcom.id

Supaya Psikis Anak Tetap Terjaga

👤Wan/SS/N-2 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 05:57 WIB
Ibarat naik pesawat, yang pertama menggunakan bantuan oksigen ibu dulu, baru anak. Di masa pandemi, orangtua dulu yang dikuatkan sehingga...
Medcom.id

Pemerintah Kebut Penyusunan Prioritas Vaksinasi

👤Ykb/Nur/AFP/E-3 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 04:54 WIB
Semakin cepat dapat data, semakin cepat kita susun data...
Ilustrasi

Tingkatkan Literasi Media, Kemendikbud Gandeng Maarif Institute

👤Syarief Oebaidillah 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 04:28 WIB
Literasi media merupakan kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan merekonstruksi citra di...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya