Jumat 11 Maret 2016, 17:54 WIB

Andy F Noya Terima Penghargaan Sahabat Demensia

Puput Mutiara | Humaniora
Andy F Noya Terima Penghargaan Sahabat Demensia

MI/Rommy Pujianto

 

PENYAKIT demensia alzheimer atau yang lebih dikenal dengan gejala kepikunan seringkali dianggap biasa oleh kebanyakan orang. Padahal, dampaknya bukan hanya pada kesehatan si penderita tetapi juga orang-orang di sekitarnya.

Acara Kick Andy edisi Melawan Pikun yang tayang pada 4 September 2015 lalu, ternyata berhasil membangkitkan semangat banyak orang untuk melakukan deteksi dini terhadap penyakit demensia.

Terbukti, dalam kurun waktu tiga bulan usai ditayangkan, Alzheimer's Disease International (ADI) menerima laporan dari tiga rumah sakit yaitu RSCM di Jakarta, RS Sardjito di Yogyakarta, dan RS Kariadi di Semarang bahwa deteksi dini demensia alzheimer meningkat hingga 300%.

"Itu alasan kami mendaulatnya (Andy) sebagai Sahabat Demensia. Supaya bisa meneruskan apa yang sudah dilakukan dengan baik," ujar Executive Director ADI Marc Wortmann ditemui usai memberikan penghargaan di Kantor Media Group, Jakarta, Jumat (11/3).

Ia pun berharap, ke depan bisa menjalin kerja sama membuat kompetisi dokumenter. Dengan begitu, semakin banyak generasi muda yang ikut mengkampanyekan peduli demensia.

Namun yang pasti, jelasnya, melalui tayangannya itu Andy F Noya mampu mengubah perilaku hampir 350 ribu orang Indonesia di Belanda tergerak melakukan deteksi dini demensia.

"Kita ingin ada satu gerakan melawan pikun seperti yang ditampilkan di Kick Andy, jadi masyarakat bisa lebih aware," ucap Marc.

Menurut Andy, sosialisasi diperlukan untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya demensia alzheimer. Faktanya, saat ini penyakit tersebut telah menjadi satu ancaman yang serius.

Berdasarkan laporan ADI tahun 2015, jumlah penduduk Indonesia yang sudah terkena demensia sekitar 1,2 juta orang. Bahkan diprediksi akan terus bertambah hingga 2,2 juta orang di tahun 2030 dan naik menjadi 4 juta orang pada 2050.

"Semakin besar orang yang menyadari, kita bisa menekan segala kemungkinan dampaknya. Menjaga orang pikun itu sulit, banyak kerugian yang dialami," cetus dia.

Secara pribadi, Andy mengaku pernah merasakan dampak dari demensia alzheimer. Sejak lima tahun lalu, sang paman, 75, yang hilang karena menderita alzheimer tak kunjung ditemukan.

Bagi mantan Pemimpin Redaksi Media Indonesia itu, ada tanggung jawab yang diemban untuk lebih menyosialisasikan demensia kepada masyarakat luas.

Tidak hanya melalui acara Kick Andy, lebih dari itu mendukung program Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang telah lebih dulu memproklamirkan Jakarta sebagai Kota Ramah Demensia.

"Kita mesti dukung agar apa yang sudah dilakukan oleh Pak Ahok bisa ditiru oleh kepala daerah lain di seluruh Indonesia. Masyarakat perlu tahu alzheimer tidak bisa sembuh, tapi bisa dicegah," tandasnya. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More