Selasa 11 Agustus 2020, 03:00 WIB

Mewujudkan Hunian bagi Milenial

DERO IQBAL MAHENDRA | Ekonomi
Mewujudkan Hunian bagi Milenial

Dwi Apriani
Deretan rumah siap huni yang bisa dimiliki kaum milenial dengan ikut serta dalam program Tunjuk Rumah BNI Syariah 2020

 

RUMAH merupakan salah satu kebutuhan primer yang diidamkan setiap orang, termasuk generasi milenial. Kalangan ini pun dipandang pengembang properti sebagai segmen potensial.

Wakil Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Bambang Eka Jaya menyebutkan segmen milenial merupakan pasar dengan potensi besar, bahkan untuk kondisi di tengah pandemi saat ini. Menurutnya, dalam peluncuran sejumlah proyek perumahan belakangan ini, 50% di antaranya merupakan konsumen kelompok milenial.

“Justru saat ini dari beberapa proyek yang di-launching oleh beberapa developer beberapa waktu lalu, yang sukses itu 50%-nya merupakan milenial.

Appetite segmen ini masih besar dan daya beli masih ada,” terang Bambang kepada Media Indonesia, kemarin.

Bambang menyebut pihak pengembang pun menyesuaikan desain sebagaimana kebutuhan para milenial. Termasuk dalam hal ini menyesuaikan ukuran rumah untuk wilayah
perkotaan.

Para milenial umumnya lebih menyukai tinggal di rumah tapak daripada di apartemen. Bila untuk rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) ketentuan luasnya
sudah baku di kisaran 60 meter persegi, ukuran untuk milenial di perkotaan sekitar 35-45 m2.

Dengan luas tanah tersebut, desain yang dibuat lebih condong kepada model vertikal dalam bentuk klaster untuk kelas menengah. Selain kenyamanan, faktor ketersediaan
garasi pun menjadi poin utama segmen milenial.

“Untuk kelompok menengah di dalam kota harus ada transit oriented development (TOD). Kalau luar kota, ada transportasi publik yang mendukung.

Itu yang harus kita atur,” terang Bambang. Lebih lanjut ia menekankan, dari segi pembiayaan, segmen perbankan pun harus melakukan penyesuaian agar dapat mendorong maksimal
segmen ini. Perbankan dinilainya terlalu kaku dan prudent dalam menyikapi kelompok milenial.

Padahal, di satu sisi banyak milenial yang usianya kurang dari 30 tahun sudah berpenghasilan di atas Rp25 juta. Selain itu, usia mereka pun sebetulnya layak mendapatkan masa
tenor lebih lama karena masa kerja yang lebih panjang.

Dukungan pemerintah

Dalam kesempatan berbeda, Direktur Jenderal Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPera) Khalawi Abdul Hamid menerangkan bahwa pemerintah
berkomitmen agar masyarakat memiliki rumah, khususnya bagi kelompok milenial.

“Potensi segmen milenial itu besar. Pada 2019 jumlah penduduk generasi milenial Indonesia sebanyak 81 juta dan diperkirakan pada 2020 kelompok milenial mencapai 155 juta jiwa.

Untuk itu, pemerintah telah menyiapkan sejumlah dukungan kebijakan,” terang Khalawi. Salah satunya dengan pembangunan perumahan di kawasan strategis TOD, yakni
dengan menggunakan konsep rumah susun yang dekat dengan pusat kegiatan sesuai karakteristik milenial.

Pihaknya juga memiliki program inovasi pembangunan perumahan komunitas dan skala besar. “Ini menjangkau milenial golongan MBR nonfixed income dan skala besar
meningkatkan ketersediaan rumah subsidi bagi MBR fi xed income,” terangnya.

Dari sisi harga, Kementerian PU-Pera telah menerbitkan peraturan menteri terkait penyesuaian harga rumah bersubsidi yang dibangun pengembang.

Hal itu demi mengakomodasi variasi tingkat daya beli segmen milenial. Lebih lanjut Khawali menyebutkan adanya fasilitas Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera). Program tersebut
dapat menjadi sarana pembiayaan perumahan jangka panjang bagi milenial, sekaligus meningkatkan kesadaran sedini mungkin menabung untuk membeli rumah di masa
depan.

Saatnya membeli

Direktur Bisnis Konsumer BNI Corina Leyla Karnalies menyatakan segmen milenial umumnya pembeli properti pertama sehingga sangat potensial.

Karena itu, lanjut dia, saat ini tepat bagi milenial untuk membeli hunian pertama. “Sekarang adalah waktunya untuk beli properti. Time to buy,” tegasnya.

Terlebih harga properti di pasar primer pada Q1- 2020 juga sedang melambat dengan indikasi dari indeks harga pro perti residensial yang menurun minus 1,68%
jika dibandingkan dengan Q4-2019 sebesar minus 1,77%. Perlambatan itu pun diperkirakan berlanjut di Q2-2020.

Faktor lainnya, menurut Corina, ialah adanya penghematan dari milenial dalam hal biaya traveling maupun belanja sebagai dampak pembatasan beraktivitas di luar
rumah selama pandemi. (S-2)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Galih Pradipta/aww.

Dirut Pertamina Masuk Daftar Fortune

👤(Ins/E-3) 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 04:55 WIB
Media bisnis global Fortune menobatkan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati sebagai perempuan paling berpengaruh di...
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/wsj.

Anggaran Mengendap Menkeu Meradang

👤M Ilham RA 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 04:50 WIB
MENTERI Keuangan Sri Mulyani Indrawati mendesak pemerintah daerah agar memiliki kesepahaman yang sama dengan pusat dalam upaya memulihkan...
ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/nz

Hindari Kenaikan Tarif Cukai Berlebih

👤(Ant/RO/E-1) 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 04:40 WIB
Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia menolak dengan tegas kenaikan cukai rokok yang eksesif demi kelangsungan hidup industri hasil...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya