Senin 10 Agustus 2020, 17:58 WIB

1.000 Karyawan Industri Kayu di Sumut Terancam Menganggur

Yoseph Pencawan | Nusantara
1.000 Karyawan Industri Kayu di Sumut Terancam Menganggur

Dokumentasi Media Indonesia
Ilustrasi kayu.

 

Sekitar 1.000 karyawan dari dua perusahaan industri kayu di Sumatra Utara terancam kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Pembukaan sementara keran ekspor kayu log dinilai menjadi solusi terakhir.

Kedua perusahaan tersebut adalah PT Gunung Raya Utama Timber Industries (GRUTI) dan PT Mujur Timber Plywood Industry. GRUTI memiliki sekitar 450 orang karyawan dan Mujur Timber selama ini menjadi tempat mencari nafkah lebih dari 500 pegawai. "Sudah empat bulan ini kegiatan usaha tidak lagi berjalan normal," ujar Irwan Mulyadi, Direktur PT Gunung Raya Utama Timber Industries, Senin (10/8).

Selama ini, kayu bulat (kayu log) dari GRUTI disuplai Mujur Timber untuk bahan baku produk industri perkayuannya yang berupa plywood. Namun selama pandemi Covid-19 berlangsung, suplai kayu bulat (kayu log) dari GRUTI tidak lagi berjalan dengan baik. Dampaknya, saat ini GRUTI terpaksa menumpuk sekitar 20.000 meter kubik kayu log Yansen Ali, Pimpinan PT Mujur Timber Plywood Industry mengatakan pihaknya
tidak dapat lagi menerima bahan baku kayu log dari GRUTI karena penyerapan plywood di sejumlah negara importir juga terhenti dengan kebijakan lockdown akibat pademi. Karena itu, penumpukan stok plywood juga harus dilakukan Mujur Timber.

Situasi menjadi lebih runyam karena kondisi kayu log yang tertumpuk di logpond hari demi hari semakin membusuk. GRUTI sudah menawarkannya ke industri-industri lain yang sebelum pandemi masih mau menerima, tetapi kini mereka juga sudah menolak karena mengalami kondisi serupa.

Belakangan, kondisi keuangan perusahaan sudah sangat terbatas akibat kegiatan usaha yang tidak lagi berjalan normal tersebut. Apalagi di masa pandemi yang masih berlangsung saat ini harga kayu log sudah anjlok.

Sebelum masa pandemi, harga kayu log mencapai sekitar Rp2 juta per meter kubik, tetapi saat ini hanya sekitar Rp1 juta.

Namun, setelah melalui berbagai kajian dan perhitungan yang matang, GRUTI menilai bahwa pengiriman kayu log ke luar negeri dapat menjadi solusi terakhir.

Irwan yakin ini bukan saja dapat menjadi obat sementara bagi perusahaannya, tetapi juga terhadap perusahaan-perusahaan industri perkayuan lain di Indonesia yang saat ini dipastikannya sedang bernasib sama. "Untuk itu, kami pun sudah mengajukan permohonan izin ekspor kayu log, ke Kementerian Perdagangan," kata dia.

Bahkan, pihaknya sudah dua kali mengajukan permohonan tersebut ke Kemendag, yakni pada 15 Mei 2020 dan 17 Juli 2020. Kendati demikian hingga kini kedua pengajuan itu belum direspon Kemendag.

Bagi GRUTI, permohonan tersebut diajukan untuk sementara waktu, atau khusus bagi 200.000 meter kubik kayu log yang tertumpuk di logpond perusahaan di Kabupaten Nias Selatan.

Pihaknya yakin bila keran ekspor dibuka sementara, pengiriman kayu bisa
membantu kondisi keuangan perusahaan dan dapat menghindari pemutusan
hubungan kerja karyawan. Apalagi, baik GRUTI maupun Mujur Timber adalah dua perusahaan yang masih berada di bawah induk grup yang sama.
"Kami akan memenuhi dan mematuhi semua persyaratan dan ketentuan yang akan diberlakukan bila keran ekspor itu dibuka," pungkasnya. (OL-12)

Baca Juga

Ist

Tingkatkan Penanganan Penyakit Jantung, RS Perlu Cath Lab

👤Eni Kartinah 🕔Senin 28 September 2020, 12:10 WIB
Cath Lab adalah suatu tindakan medis atau prosedur diagnostik invansif yang berfungsi untuk mendeteksi penyumbantan atau sumbatan...
MI/Tosiani

Bisnis Pembuat Atap Rumah di Temanggung Cukup Diminati

👤Tosiani 🕔Senin 28 September 2020, 11:06 WIB
Bisnis pembuatan atap rumah di Temanggung cukup tinggi peminatnya. Bisnis ini tidak terpengaruh pandemi...
DOK. BNI

Kasus Korona Melonjak, Pemkot Kupang Terapkan WFH

👤Palce Amalo 🕔Senin 28 September 2020, 10:22 WIB
Total kasus korona sampai Senin pagi sebanyak 22 orang berasal dari transmisi lokal dan pelaku...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya