Sabtu 08 Agustus 2020, 16:41 WIB

Penanganan Kesehatan Tentukan Kondisi Ekonomi

M. Ilham RamadhanAvisena | Ekonomi
Penanganan Kesehatan Tentukan Kondisi Ekonomi

Antara/Arif Firmansyah
Pusat perbelanjaan kembali dibuka dengan menerapkan protokol kesehatan

 

KETUA Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri menyatakan, bila penanganan kesehatan di masa pandemi covid-19 berjalan tidak maksimal, besar kemungkinan kondisi ekonomi nasional akan terpuruk jauh lebih dalam.

Sebab, bila persoalan kesehatan kian parah, pemerintah bisa saja menerapkan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Permasalahan utama belum diperbaiki yaitu masalah kesehatan. Kalau ini terus terjadi kita harus melakukan PSBB lagi dan berdampak pada ekonomi akan jauh lebih besar lagi dari dampak PSBB sebelumnya. Itu tidak kita inginkan,” ujarnya dalam diskusi secara daring, Sabtu (8/8).

Pernyataanya tersebut didasari dari matrik perbandingan kesehatan dan ekonomi yang dapat diakses melalui https://covid19.csis.or.id. Matriks tersebut menampilkan mobilitas kesehatan dan ekonomi di tiap provinsi Indonesia yang kemudian dibagi ke dalam 4 kuadran.

Kuadran I berada di kanan atas dengan kategori perbaikan ekonomi dan perbaikan kesehatan, kuadran II berada di kanan bawah dengan perbaikan ekonomi namun kesehatan memburuk. Pada kuadran III berada di kiri bawah dengan kategori ekonomi memburuk dan kesehatan memburuk, kuadran IV berada di kiri atas dengan kategori ekonomi memburuk dan kesehatan membaik.

Baca juga : Pengusaha Nilai Stimulus Cukup, Implementasi Kurang

Yose mengatakan, matrikulasi dimulai pada 4 Juni 2020 ketika DKI Jakarta merelaksasi PSBB. Hasilnya hampir seluruh provinsi bergerak ke kuadran III dan IV pada 7 Juni 2020. Sedangkan pada 1 bulan berikutnya, seluruh provinsi bergerak ke kuadran II dengan kondisi perekonomian membaik namun kesehatan memburuk.

Posisi itu bertahan hingga 5 Agustus 2020, hanya segelintir provinsi yang masuk ke dalam kuadran I yakni Bali, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan Barat. Yose menekankan, penanganan kesehatan harusnya dilakukan pemerintah dengan baik dan cepat. Sebab, akar permasalahan saat ini ialah masalah kesehatan.

Namun ia menyayangkan serapan anggaran di bidang kesehatan dalam penanganan pandemi justru yang paling minim.

“Sayangnya implementasi sangat lambat, bahkan untuk kesehatan yang sebagai underline problem, kalau kesehatan tidak bisa ditnaggulangi ya ekonomi tidak akan baik lagi. Memang implementasi ini bermasalah, bukan masalah ada uang atau tidak. Tapi bagaimana kita bisa mendorong implementasinya bisa cepat,” tutur Yose. (OL-7)

Baca Juga

Antara/HO

Kemenparekraf Buka Kelas Pemasaran Digital untuk Pebisnis Kriya

👤Antara 🕔Senin 21 September 2020, 21:27 WIB
Beri solusi bagi pelaku ekonomi kreatif, Kemenparekraf membuka kesempatan bagi pelaku bisnis kreatif untuk mendalami pemasaran...
Dok.MI/Yanurisa Ananta

Sudah 46 Perusahaan IPO Tahun Ini, 6 Masih Mengantri

👤Despian Nurhidayat 🕔Senin 21 September 2020, 21:05 WIB
Pelaku bisnis memiliki minat dan harapan besar untuk tumbuh bersama Pasar Modal...
PT LEN

Indonesia Garap Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Afrika

👤RO 🕔Senin 21 September 2020, 20:33 WIB
PLTS Kinshasa 200 MWp akan dibangun di lahan seluas ±300 hektar dengan kontrak senilai USD175 juta atau setara Rp2,59...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya