Sabtu 08 Agustus 2020, 15:59 WIB

Mentan SYL Genjot Industri Tepung Tapioka dan Sagu di Babel

mediaindonesia.com | Ekonomi
Mentan SYL Genjot Industri Tepung Tapioka dan Sagu di Babel

Ist/Kementan
Mentan SYL melakukan kunjungan ke pabrik tepung tapioka dan sagu di Bangka Induk, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).

 

MENTERI Pertanian (Menteri) Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) terus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui komoditas pangan lokal, salah satunya dengan menggairahkan pengembangan budidaya ubi kayu hingga industri tapioka dan komoditas sagu.

Terkait hal tersebut, pada Sabtu (8/8), Mentan SYL melakukan kunjungan ke pabrik tepung tapioka dan sagu di Bangka Induk, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).

Mentan yang didampingi Gubernur Babel, Erzaldi Rosman meninjau PT. Bangka Asindo Agri (BAA) pabrik tepung tapioka yang sudah lama berdiri di Kabupaten Bangka. Ubi kayu sebagai komoditas tanaman pangan yang sedang gencar-gencarnya digalakkan sebagai pengembangan pangan lokal. 

Mentan SYL mengatakan untuk menjaga pasokan pangan tetap aman terutama di masa pandemi Covid-19 perlu alternatif pengembangan pangan lokal seperti sagu, ubi kayu, ubi jalar, jagung, talas, sorgum, dan lainnya.

Penguatan pangan lokal sangat penting mengingat sektor pertanian khususnya subsektor tanaman pangan saat ini menjadi pengungkit utama pertumbuhan perekonomian.

“Ubikayu banyak digunakan untuk industri tapioka. Industri tapioka akan tumbuh jika ada kemitraan. Spek ubikayunya harus bagus dan ada kemitraan dengan skala kawasan,” sebut Mentan SYL.

Perlu diketahui, baru-baru ini Badan Pusat Statistik (BPS) merilis sektor pertanian menjadi penyumbang tertinggi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II 2020 yang mengalami penurunan sebesar 4,19% (Q to Q) dan secara year on year (yoy) turun 5,32%.

PDB pertanian tumbuh 16,24% pada triwulan-II 2020 (q to q) dan bahkan secara yoy, sektor pertanian tetap berkontribusi positif yakni tumbuh 2,19%. Subsektor tanaman pangan tumbuh paling tinggi yakni sebesar 9,23% sehingga penyelamat pertumbuhan PDB sektor pertanian dan PDB nasional.

Karena itu, SYL menegaskan ubi kayu beserta olahan turunannya, seperti mie, dapat menjadi pendorong perekonomian dan sumber ketahanan pangan negara. Produk ini sangat dibutuhkan masyarakat Indonesia dan juga pasar ekspor.

"Kita punya tepung, sagu dan tapioka itu, kemudian sekarang sudah masuk kepada mi. Di mana mi itu kan menjadi pilihan-pilihan makanan orang Indonesia. Dan kita berharap memang menjadi kekuatan Indonesia ke depan," terangnya.

Di tempat sama Gubernur Babel Erzaldi Rosman menyatakan sangat mendukung upaya Kementerian Pertanian (Kementan) yang memprioritaskan program ketahanan pangan lokal. Dengan demikian, diversifikasi pangan menjadi salah satu alternatif yang harus serius dikembangkan. 

“Kami kembangkan ubikayu dan sagu untuk kepentingan industri. Di Babel ada 5 pabrik tapioka sejenis. dan kita selalau menghimbau kerjasama kemitraan dengan petani. Petani kami himbau bisa menyediakan bahan baku secara kontinu dan berkualitas agar industri dapat terus berjalan," tuturnya.

PT BAA salah satu industri yang bergerak di tepung tapioka dan sagu telah lama mengembangkan tepung tapioka bebahan baku singkong. Bahan baku singkong yang dibutuhkan 500 ton/hari.

Hasilnya berupa tapioka dengan kapasitas 125 ton/hari. Untuk memenuhi industri tersebut diperlukan panen singkong atau ubi kayu 20-25 ha per hari atau setara dengan 9.000 ha per tahun. Pasar tapioka selama ini dijual ke Palembang, Lampung, Surabaya dan Sidoarjo dan beberapa Kota Lainnya di Nusantara

Direktur PT BAA, Fidrianto alias Abo mengatakan pabrik ini dipastikan akan menampung hasil panen petani, khusus mitranya yang tergabung dalam Gapoktan. Syaratnya, agar petani dapat menerapkan budidaya ubi kasesa secara optimal agar bisa mendapatkan hasil panen melimpah dan berkualitas.

"PT. BAA butuh bahan baku ubi kayu kapasitas 400 ton per hari dengan hasil berupa tepung tapioka. PT. BAA juga memproduksi dan mengolah sagu Rumbia yang menghasilkan tepung sagu sebagai Bahan Baku Sagomee. Tepung sagu ini dengan kualitas tinggi dan terjamin, di mana warna produknya putih dan bersih," ucapnya.

Pada kunjungan ini, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi menegaskan pengembangan budidaya ubi kayu arahnya untuk substitusi impor.

Kunci pengembangan produksi ada di provitasnya dan harga, dimana peningkatan provitasnya 60 sampai 70 ton per hektare sebagaimana yang sudah dicapai di beberapa lokasi dan di luar negeri.

"Varieras ubi kayu adalah casesa, provitasnya 25 sampai 28 ton per hektar, kandungan pati 25 sampai 27 persen lebih tinggi dari daerah lain. Kebun singkong rakyat se Babel 15 ribu hektar memasok 5 pabrik tapioka se Babel, tiga diantaranya skala besar," ujarnya.

Oleh karena itu, Suwandi menekankan petani harus masuk kelas yakni bergabung menjadi korporasi. Sebab, masalah turunnya produksi singkong ditengarai karena pasar kurang menarik dan adanya kompetisi dengan produk lain yang harganya lebih tinggi ataupun umur lebih pendek seperti contohnya jagung.

Adapun beberapa varietas ubi kayu unggul lainnya yang perlu dikembangkan petani seperti varietas gajah, cimanggu super, manggu, mukibat dan varietas lainnya.

“Semua bersama bangun singkong Indonesia jadi pangan lokal yang bisa didorong dalam bentuk korporasi. Terdapat potensi lahan 31 ribu hektar di Bangka Belitung untuk dikembangkan ubi kayu," tegas Suwandi. 

Lebih lanjut Suwandi menjelaskan untuk memajukan dan mensejahterakan petani ubi kayu perlu penanganan model korporasi karena di korporasi terintegrasi jadi satu inputnya. Dengan korporasi yang memanfaatkan mekanisasi dan bekerja sama menjadi off taker industri maka petani akan mendapat kemudahan sumber pendanaan untuk KUR. 

Yang menjadi kunci selanjutnya, sambungnya, adalah teknologi pengolahan. Ada sekitar 28 produk turunan yang bisa dimanfaatkan untuk dikembangkan ke pasar maupun supermarket dengan branding yang bagus.

“Makanan lokal kuncinya ada di hilir market driven, bagaimana men-create pasar supaya pangan lokal jadi lifestyle. Bangun market driven-nya, pasar dibangun, baru produksi mengikuti. Kalau pasar bagus petani akan mengikuti berproduksi,” tandas Suwandi. (OL-09)

Baca Juga

Antara/HO

Kemenparekraf Buka Kelas Pemasaran Digital untuk Pebisnis Kriya

👤Antara 🕔Senin 21 September 2020, 21:27 WIB
Beri solusi bagi pelaku ekonomi kreatif, Kemenparekraf membuka kesempatan bagi pelaku bisnis kreatif untuk mendalami pemasaran...
Dok.MI/Yanurisa Ananta

Sudah 46 Perusahaan IPO Tahun Ini, 6 Masih Mengantri

👤Despian Nurhidayat 🕔Senin 21 September 2020, 21:05 WIB
Pelaku bisnis memiliki minat dan harapan besar untuk tumbuh bersama Pasar Modal...
PT LEN

Indonesia Garap Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Afrika

👤RO 🕔Senin 21 September 2020, 20:33 WIB
PLTS Kinshasa 200 MWp akan dibangun di lahan seluas ±300 hektar dengan kontrak senilai USD175 juta atau setara Rp2,59...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya