Sabtu 08 Agustus 2020, 14:45 WIB

Pengusaha Nilai Stimulus Cukup, Implementasi Kurang

M Ilham Ramadhan | Ekonomi
Pengusaha Nilai Stimulus Cukup, Implementasi Kurang

MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI.
Suasana pusat perbelanjaan pasca new normal.

 

Kalangan pengusaha menilai stimulus yang disediakan pemerintah guna mendorong pemulihan ekonomi sudah cukup baik. Tantangannya ada pada implemetasinya. 

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja  Kamdani menuturkan implementasi dari kebijakan pemerintah dinilai belum efektif.

"Stimulus-stimulus kita sudah baik dan sudah tepat, tetapi tidak efektif untuk mendongkrak kinerja sektor riil karena pencairan atau distribusinya terhambat kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Rebound amat sangat tergantung pada stimulus pemerintah karena kemampuan pemodalan dalam negeri terbatas," ujar Shinta saat dihubungi, Sabtu (8/8).

Menurutnya, hambatan realisasi dukungan pemerintah juga terjadi dalam upaya mendongkrak daya beli masyarakat dan suntikan modal kepada pelaku usaha. Padahal modal amat dibutuhkan oleh pelaku usaha untuk menghidupkan kembali produktivitasnya meski tingkatannya akan berbeda dengan kondisi normal.

Pararel dengan itu, upaya untuk mengungkit daya beli juga harus menjadi fokus pemerintah bila ingin pertumbuhan ekonomi di triwulan III membaik. "Distribusi stimulus untuk peningkatan daya beli masyarakat serta peningkatan belanja pemerintah untuk penciptaan demand sangat dibutuhkan sehingga memberikan output triwulan III yang positif," terang Shinta.

Meski dukungan pemerintah di tengah pandemi amat krusial,  Shinta berharap agar reformasi kebijakan ekonomi yang sebelum pandemi digaungkan tetap berlanjut. Sebab hal  itu dapat mendorong perbaikan iklim berusaha dan investasi di Tanah Air.

Perbaikan itu diyakini akan membawa hal positif berupa suburnya investasi di Indonesia. Bila itu terjadi, serapan tenaga kerja akan menjadi lebih besar dan dapat mendorong berkontribusi memulihkan ekonomi nasional.

"Harus terus dilaksanakan dan direalisasikan agar peningkatan kinerja sektor riil tidak hanya bertumpu pada stimulus-stimulus dan kekuatan modal dalam negeri yang terbatas tetapi juga dengan FDI (Foreign Direct Investment)," imbuh Shinta.

"Kalau tidak diperbaiki, rebound ekonomi menjadi tidak solid (mudah terganggu faktor eksternal) dan recovery ekonomi akan berlangsung lama (bukan di triwulan III 2020). Karena supply capital jauh lebih rendah dari pada kebutuhan capital di sektor riil. Itu akan mengakibatkan lapangan pekerjaan sulit atau lambat diciptakan kembali bagi pekerja-pekerja yang kehilangan pekerjaannya sepanjang covid-19," sambungnya.

Lebih lanjut Shinta meminta agar pemerintah dapat membangun kepercayaan masyarakat atas penanganan dampak pandemi dan pemulihan ekonomi. "Pemerintah perlu memberikan confidence kepada masyarakat bahwa penanggulangan covid-19 dilakukan dengan baik dan masyarakat perlu terus mengikuti protokol kesehatan," pungkas dia. (E-1)

Baca Juga

Antara/HO

Kemenparekraf Buka Kelas Pemasaran Digital untuk Pebisnis Kriya

👤Antara 🕔Senin 21 September 2020, 21:27 WIB
Beri solusi bagi pelaku ekonomi kreatif, Kemenparekraf membuka kesempatan bagi pelaku bisnis kreatif untuk mendalami pemasaran...
Dok.MI/Yanurisa Ananta

Sudah 46 Perusahaan IPO Tahun Ini, 6 Masih Mengantri

👤Despian Nurhidayat 🕔Senin 21 September 2020, 21:05 WIB
Pelaku bisnis memiliki minat dan harapan besar untuk tumbuh bersama Pasar Modal...
PT LEN

Indonesia Garap Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Afrika

👤RO 🕔Senin 21 September 2020, 20:33 WIB
PLTS Kinshasa 200 MWp akan dibangun di lahan seluas ±300 hektar dengan kontrak senilai USD175 juta atau setara Rp2,59...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya