Jumat 11 Maret 2016, 08:15 WIB

Biaya Berobat Ginjal Triliunan

Cornelius Eko Susanto | Humaniora
Biaya Berobat Ginjal Triliunan

Dok.MI

 

PENYAKIT gagal ginjal menempati beban biaya kesehatan paling tinggi kedua di Indonesia setelah penyakit jantung. Berdasarkan data BPJS Kesehatan pada 2014, terdapat 1,4 juta kasus gagal ginjal dengan biaya Rp2,2 triliun. Dana yang dibiayai oleh BPJS itu sebagian besar dialokasikan untuk cuci darah (hemodialisis).

Sampai triwulan ketiga 2015, tercatat 1,2 juta kasus gagal ginjal yang dibiayai BPJS yang nilainya mencapai Rp1,6 triliun. Di sisi lain, rendahnya deteksi dini penyakit ginjal pada anak mengakibatkan kecenderungan semakin mudanya usia penderita penyakit ginjal saat ini.

Data itu disampaikan Kementerian Ke­sehatan, Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri), dan Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo secara terpisah, terkait peringatan World Kidney Day (WKD) atau Hari Ginjal Sedunia 2016, di Jakarta kemarin.

"Beban biaya nomor satu itu penyakit jantung, disusul oleh ginjal dan kanker. Beberapa tahun belakangan ini, penyakit mematikan yang membutuhkan biaya besar (katastropik) terus meningkat," kata Menteri Kesehatan Nila F Moeloek.

Dengan melihat kecenderungan meningkatnya tren penderita penyakit ka­tastropik itu, Menkes meminta pentingnya menggalakkan upaya preventif dan pro­motif, serta screening bagi masyarakat, terutama yang berisiko tinggi.

Di sisi lain, dalam Hari Ginjal Sedunia yang diperingati setiap Kamis pada minggu kedua Maret, Direktur Pengendalian Penyakit tidak Menular (non-comunicable diseases) Kemenkes, Lily Sriwahyuni Sulistyowati, menegaskan sebagian besar penyebab gagal ginjal ialah perilaku kurang sehat, seperti merokok, kurang olahraga, stres, dan kegemukan.

Berdasarkan data 7th Report of Indonesian Renal Registry 2014, tambahnya, urutan penyebab gagal ginjal pasien yang mendapatkan hemodialisis ialah hi­pertensi (37%), diabetes (27%), kelainan bawaan atau glomerulopati primer (10%), gangguan penyumbatan saluran kemih (7%), asam urat (1%), penyakit lupus (1%) dan penyebab lain-lain (18%).

Sementara itu, dokter ahli ginjal anak dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Sudung O Pardede, mengatakan meningkatnya jumlah penderita ginjal pada anak di­sebabkan pola makan dan pemahaman yang salah kaprah. Pasalnya, masih banyak orangtua yang menganggap anak ge­muk ialah sehat. "Faktor gemuk kan di­akibatkan kurang aktif, anak-anak sekarang kebanyakan di kamar main gadget sambil ngemil," ungkapnya dalam seminar Kesehatan Ginjal & Anak: Hidup Sehat Sejak Sekarang.

Menurut Sudung, meningkatnya prevalensi penyakit ginjal kronik tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Deteksi dini paling mudah yang dapat dilakukan, lanjutnya, melalui analisis da­rah atau urine. Namun, disayangkan, peng­ukuran tekanan darah pada anak masih jarang dilakukan.

Berdasarkan data 6th Annual Report of Indonesian Renak Registry 2013, tambahnya, sebanyak 54% pasien cuci darah ber­usia di bawah 55 tahun. Pada 2014, sebanyak 56% pasien ginjal kronik juga berusia di bawah 55 tahun.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Pernefri dr Dharmeizar mengatakan tiga penyebab utama gagal ginjal ialah hipertensi, diabetes melitus, dan glome­rulonefritis kronik. Ia pun mengutip data World Children Report 2012 dari Unicef, yang menunjukkan Indonesia menempati urutan pertama dalam banyaknya presentase anak obesitas se-ASEAN, yakni 12,2%. Jumlah itu dua kali lipat dibandingkan dengan Malaysia yang hanya 6%. (MLT/X-8)

cornel@mediaindonesia.com

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More