Sabtu 08 Agustus 2020, 04:53 WIB

Monopoli Vaksin tidak Membantu Pemulihan Global

Van/AFP/X-11 | Humaniora
Monopoli Vaksin tidak Membantu Pemulihan Global

Medcom.id
Ilustrasi

 

DIREKTUR Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan memonopoli atau nasionalisme vaksin tidak akan membantu pemulihan kerusakan global akibat pandemi covid-19. Pasalnya, pandemi dialami hampir semua negara dan memiliki ketergantungan satu sama lain.

“Nasionalisme vaksin tidak baik, itu tidak akan membantu kita,” kata Tedros dalam diskusi panel daring dengan anggota Forum Keamanan Aspen di Amerika Serikat, kemarin.

Tedros mengkritik persaingan sejumlah negara untuk menciptakan vaksin efektif dan memesan sebanyak mungkin dosisnya terlebih dahulu. Perlombaan internasional seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya dan justru mengkhawatirkan.

Menurutnya, pemulihan ekonomi di seluruh dunia bisa berlangsung lebih cepat jika vaksin covid-19 tersedia untuk semua orang sebagai barang publik. Hal itu akan membantu semua negara termasuk negara miskin untuk sama-sama bangkit.

“Berbagi vaksin atau berbagi alat lain sebenarnya membantu dunia untuk pulih bersama,” ungkap Tedros.

Dia menambahkan bahwa virus korona adalah darurat kesehatan terbesar sejak awal abad ke-20. Solidaritas global merupakan upaya yang penting untuk mengakhiri pandemi ini. “Kita harus memanfaatkan momen ini untuk bersatu dalam mengendalikan covid-19. Tidak ada negara
yang aman sampai kita semua aman,” tegasnya.

Saat ini, sejumlah negara kaya seperti AS, Inggris, dan Jepang telah melakukan investasi besar-besaran dalam pengembangan vaksin. AS bahkan telah memesan dosis yang banyak untuk warganya.

Berbeda dengan Tiongkok yang melakukan diplomasi halus dengan berencana menyediakan vaksin kepada publik global. Itu akan memperkuat posisi mereka di dunia internasional dengan membantu negara-negara miskin.

Sementara itu, Direktur Kedaruratan WHO Michael Ryan, saat ditanya soal calon vaksin Rusia, mengatakan kepada panel bahwa apa yang diperlukan sekarang ialah memastikan vaksin apa pun aman dan efektif.

“Otoritas harus mampu membuktikan keampuhan vaksin melalui uji klinis tradisional,” ujarnya, merujuk pada paparan virus yang disengaja terhadap relawan yang divaksinasi untuk melihat apakah vaksin bereaksi. (Van/AFP/X-11)

Baca Juga

Antara

Dispute Klaim Layanan Pasien Covid-19 hanya bisa Dua Kali

👤Atalya Puspa 🕔Rabu 30 September 2020, 15:35 WIB
Dispute klaim adalah ketidaksepakatan antara BPJS Kesehatan dengan fasilitas kesehatan atas klaim tersebut berdasarkan berita acara...
ANTARA/ Asprilla Dwi Adha

Nadiem Instruksikan Peringatan Kesaktian Pancasila secara Virtual

👤Suryani Wandari Putri 🕔Rabu 30 September 2020, 15:25 WIB
Generasi bangsa harus memahami sejarah bangsanya untuk dijadikan pondasi berbangsa dan bernegara yang lebih baik dan...
Antara

Tiga Hari Kedepan, Gelombang Tinggi Ancam Perairan Indonesia

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Rabu 30 September 2020, 15:08 WIB
BMKG mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi yang berpeluang terjadi di beberapa wilayah perairan Indonesia pada Rabu (30/9) hingga...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya