Jumat 07 Agustus 2020, 05:39 WIB

Penemuan Obat Covid-19 Membutuhkan Proses Panjang

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
Penemuan Obat Covid-19 Membutuhkan Proses Panjang

ANTARA/M AGUNG RAJASA
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin kepada relawan saat simulasi uji klinis vaksin covid-19 di FK Universitas Padjajaran, Kamis (7/8/2020.

 

KETUA  Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Kementerian Riset dan Teknologi/BRIN Prof Ali Gufron Mukti menjelaskan bahwa dalam proses penemuan obat, terutama obat untuk penanganan Covid-19, membutuhkan proses yang panjang dan terdapat beragam prosedur yang harus dilaksanakan.

"Menemukan sebuah obat diperlukan proses yang sangat panjang karena menyangkut keamanan hidup masyarakat. Obat yang salah akan bisa menjadi racun dan berbahaya," kata Ali dalam dialog di Media Center Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Jakarta, Kamis (6/8).

Proses menemukan obat juga diawali dengan penelitian yang memiliki berbagai tahapan agar aman untuk diimplikasikan kepada masyarakat. Ali juga mengungkapkan bahwa proses pertama dalam melakukan suatu penelitian adalah presentasi kepada kolega agar hasil penelitian bisa didiskusikan bersama mengenai kelayakannya.

“Oleh karena itu, biasanya orang melakukan penelitian sebelumnya membuat proposal terlebih dahulu. Selanjutnya proposal tersebut harus lulus dalam uji etika kelayakan yang diuji oleh Komite Etik. Jadi tidak bisa langsung mengklaim menemukan obat. Harus ada prosedur yang dijalankan,” ujarnya.

Selanjutnya, Ali menginformasikan bahwa pemerintah terbuka dan mengapresiasi kepada siapa saja yang ingin ikut berpartisipasi dalam penemuan obat Covid-19 di Indonesia. Pemerintah akan memfasilitasi serta mendukung segala penelitian dalam penemuan obat Covid-19 asal sesuai dengan koridor dan etika yang ada.

Selain itu, usaha memutus penyebaran Covid-19 juga dilakukan dengan berbagai inovasi yang telah banyak tercipta. Menurut keterangan dari Ali, peneliti dan dosen di Indonesia telah menghasilkan lebih dari 60 inovasi.

“Berbagai inovasi selama 4 bulan terakhir telah dihasilkan. Seperti robot perawat, rapid test kit dan lain sebagainya. Bahkan PCR yang biasanya kita impor, sekarang tidak. Peneliti Indonesia telah membuatnya," terangnya.

baca juga: Satgas Covid-19: Rapid Test Tetap Dilakukan untuk Screening

Ada juga mobile laboratory dimana laboratorium bisa menghampiri masyarakat. Lanjut Prof Ali, itu juga inovasi yang dibuat oleh anak bangsa. 

"Terakhir adalah ventilator canggih yang dibuat oleh UGM, yang kalau kita impor itu bisa miliaran tapi ini hanya 450 juta," pungkasnya. (OL-3)


 

Baca Juga

AFP

Sikapi Peringatan Tsunami, Segera Audit Tata Ruang Kawasan Pantai

👤Suryani Wandari Putri Pertiwi 🕔Senin 28 September 2020, 22:20 WIB
Setelah peristiwa tsunami di Jepang pada 2011 lalu, wilayah bekas tsunami tidak boleh dihuni lagi atau boleh dihuni dengan persyaratan...
BMKG

Bencana Longsor di Kalimantan Utara Dipicu Hujan Ekstrem 157 Mm

👤Zubaedah Hanum 🕔Senin 28 September 2020, 22:00 WIB
Hujan ekstrem tersebut berujung bencana dengan tewasnya belasan orang karena musibah tanah longsor di Tarakan, Kaltara dan merusakkan 19...
Dok BIN

BIN Pastikan Pakai Lab PCR Berstandar Tinggi

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 28 September 2020, 21:37 WIB
BIN menegaskan tingkat keakuratan tes usap ini telah memenuhi standar protokol...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya