Jumat 07 Agustus 2020, 05:00 WIB

Satwa Endemik Terancam Kebakaran

UL/PO/AD/N-2 | Nusantara
Satwa Endemik Terancam Kebakaran

ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
Helikopter MI-8 melakukan "water bombing" untuk pemadaman kebakaran hutan gunung Ciremai, Kuningan, tahun lalu.

 

MACAN kumbang, surili, dan elang jawa diyakini banyak pihak masih hidup di dalam Taman Nasional Gunung Ciremai. Namun, Bismo Teguh Prakoso mengkhawatirkan kelangsungan hidup satwa dilindungi itu karena nyaris setiap tahun hutan di Gunung Ciremai selalu terbakar.

“Musim kemarau tahun ini juga menjadi kekhawatiran kami. Kebakaran hutan sangat rentan terjadi, termasuk di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai,” kata Kapolres Majalengka berpangkat ajun komisaris besar itu, kemarin.

Selain menggiatkan patroli ke wilayah hutan, Bismo mengaku menggalakkan sosialisasi ke masyarakat di sekeliling hutan. “Imbauan sudah jauh-jauh hari kami lakukan dengan berbagai cara dan media.”

Hutan taman nasional itu luasnya mencapai 15.500 hektare. Lokasinya berada di dua daerah, yakni Kabupaten Majalengka dan Kuningan. Khusus di Majalengka, kawasan hutan berdekatan dengan 20 desa.

Dalam beberapa pekan ini, patroli hutan sudah dilakukan Polsek Sindawangi. “Kondisi hutan sudah mengering. Banyak ranting dan dedaunan kering yang sangat mudah terbakar,” aku Kapolsek Iptu Udiyanto.

Balai Taman Nasional Matalawa di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, juga sudah mulai bergerak. Mereka membangun posko di 12 desa di sekeliling taman nasional.

Setiap posko diisi lima petugas. Mereka ialah petugas dari balai dan warga desa. “Tugas posko ialah melakukan patroli ke lokasi yang rawan kebakaran dan sosilisasi kepada masyarakat agar tidak melakukan kegiatan pembakaran,” kata Kepala Balai Taman Nasional Matalawa, Memem Suparman.

Pulau Sumba merupakan wilayah rawan kebakaran pada musim kemarau di NTT. Di pulau ini, biasanya warga membakar lahan untuk menumbuhkan rumput baru bagi makanan ternak dan persiapan musim tanam.

Kemarau juga sudah berdampak buruk bagi warga di Cineam, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Krisis air bersih sudah terjadi di Desa Madiasari dan Cijulang.

Kondisi itu membuat Polsek Cineam bergerak. Mereka terus mendistribusikan air bersih dengan menggunakan mobil patroli.

“Sekali bergerak, mobil patroli bisa membawa 1.000 liter air bersih. Kami lakukan pengiriman dari pagi, siang, sore, dan malam hari,” kata Kapolsek Ajun Komisaris Semiyono.

Total sampai kemarin, polsek sudah mengirim 380.000 liter air bersih. Semiyono pun harus merogoh kocek sendiri untuk membeli tiga pompa air penyedot. “Tanpa pompa air, kami sulit mendapatkan air bersih untuk warga,” tandasnya. (UL/PO/AD/N-2)

Baca Juga

MI/Eva Pardiana

GGP Catatkan Laporan Bisnis Bekelanjutan Pertama di Lampung

👤Eva Pardiana 🕔Sabtu 26 September 2020, 21:55 WIB
PT Great Giant Pineapple (GGP) menjadi perusahaan pertama di Provinsi Lampung yang meluncurkan sustainability report (laporan...
Istimewa

Petani Tapin Faham Resi Gudang setelah Pelatihan PLEK

👤Denny Susanto 🕔Sabtu 26 September 2020, 21:45 WIB
PELATIHAN Literasi dan Edukasi Keuangan (PLEK) oleh IPDMIP membuka wawasan petani Kabupaten Tapin di Provinsi Kalimantan Selatan pada...
Medcom.id

Juru Bicara Satgas Covid-19 Kaltim dan Istri Positif Covid-19

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 26 September 2020, 21:39 WIB
Juru bicara Satuan Tugas covid-19 Provinsi Kalimantan Timur Andi Muhammad Ishak mengakui bahwa dirinya telah terkonfirmasi positif virus...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya