Kamis 06 Agustus 2020, 16:25 WIB

Masa Karantina Dikhawatirkan Meningkatkan Risiko Penyakit Mata

Galih Agus Saputra | Weekend
Masa Karantina Dikhawatirkan Meningkatkan Risiko Penyakit Mata

Unsplash
Para ahli kesehatan mengkhawatirkan jika masa belajar dari rumah menyebabkan meningkatnya kasus miopia pada anak.

BEKERJA maupun belajar dari rumah selama pandemic membuat orang harus menghabiskan banyak waktu di depan layar computer atau gawai. Para ahli dari Institut Penelitian Mata Singapura, Universitas Heidelberg Jerman, dan Universitas Kedokteran dan Gigi Tokyo kini tengah khawatir jika pola hidup yang baru ini telah memicu meningkatnya kasus myopia (rabun jauh).

Dalam sebuah keterangan yang dilansir Dailymail, para dokter yang mengamati masalah gangguan mata itu menemukan 120.643 anak-anak di dunia kini terlihat lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar elektronik, ketimbang bermain di luar ruangan. Persoalan seperti ini lah, yang kata mereka, berkaitan erat dengan meningkatnya pengidap rabun jauh (miopia).

"Ada kemungkinan bahwa pertempuran berkepanjangan melawan virus Covid-19 dapat menyebabkan peningkatan insiden miopia," kata mereka.

Adapun dasar tim peneliti dalam melakukan amatan terhadap gangguan kesehatan mata ini, didasari sebuah makalah tentang miopia yang pernah terbit di American Journal of Ophthalmology.

Dalam makalah tersebut dijelaskan, rabun jauh terjadi ketika kelengkungan kornea yang terlalu besar sehingga sinar cahaya akhirnya hanya fokus di depan retina dan membuat objek di kejauhan tampak buram. Hingga saat ini, diperkirakan 3,8 miliar orang di seluruh dunia telah menderita miopia. Angka tersebut diperkirakan bakal menjadi 5 miliar pada 2050.

Badan khusus pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan PBB, UNESCO dewasa ini telah mencatat, setidakny 1,4 miliar siswa di seluruh dunia telah menerima imbas dari kebijakan karantina dan terpaksa harus mengadopsi kelas digital. Adapun objek amatan tiga institusi dari Singapura, Jerman, dan Jepang itu sendiri, salah satunya dilakukan terhadap 5.000 anak muda di Belanda. Hasil penelitian menunjukan adanya korelasi yang amat kuat terkait peningkatan durasi akses komputer dan miopia yang dialami oleh mereka.

Studi di negara lain yakni Irlandia, yang dilakukan terhadap 418 anak juga menunjukan korelasi serupa. Hanya saja, jika di Belanda peningkatan terlihat pada akses komputer, sementara di Irlandia kaitannya ialah dengan penggunaan gawai atau ponsel pintar.

Melihat keadaan tersebut, badan khusus kesehatan PBB, WHO merekomendasikan agar orangtua di rumah kini mengurangi durasi penggunaan layar digital pada anak-anaknya, minimal satu jam setiap hari. Sementara Pakar Mata, Chee Wai Wong dari Institut Penelitian Mata Singapura menyarankan agar anak-anak, setidaknya kini dapat menghabiskan waktu untuk bermain di luar ruangan selama dua atau tiga jam, setiap hari. "Manfaat kesehatan dari aktivitas di luar ruangan dan gaya hidup aktif tidak boleh diredam oleh Covid-19," imbuhya. (M-1)
 

Baca Juga

unsplash.com

Kendalikan Pikiran dengan Meditasi

👤Abdillah Marzuqi 🕔Kamis 24 September 2020, 19:40 WIB
Kelompok meditasi menunjukkan kemampuan yang meningkat secara signifikan dalam memodulasi ritme alfa yang diperlukan untuk mengontrol...
unsplash.com

Tiga Badak Putih Hasil Penangkaran di AS ini Segera Melahirkan

👤Putri Rosmalia Oktaviani 🕔Kamis 24 September 2020, 18:30 WIB
Ini merupakan kali pertama bagi kebun binatang yang berada di wilayah Florida, AS, itu menghadapi kehamilan tiga badak...
CDC

Survei Harvard: Orang Muda Cenderung Mempercayai Hoaks Korona

👤MI Weekend 🕔Kamis 24 September 2020, 15:25 WIB
Peneliti menemukan bahwa orang di bawah usia 25 tahun memiliki kemungkinan 18% untuk percaya dengan klaim palsu terkait...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya